Wawancara Istri Relawan Mavi Marmara yang Sudah 2,5 Tahun Koma

6 November 2012, 10:27.

Ugur Süleyman, sebelum dan sesudah ditembak tentara Zionis Israel di atas kapal Mavi Marmara. Masih koma sejak 2,5 tahun lalu. foto: IHH

 

JAKARTA, Selasa (SahabatAlAqsha.com): Ketika menikah dengan pemuda berprofesi pedagang bernama Ugur Süleyman (dibaca Uhur), gadis bernama Tugba Söylemez tak mengira akan mengalami peristiwa luar biasa ini. Suami yang dicintainya koma, tidak hidup dan tidak mati selama 2,5 tahun karena kepalanya ditembat tentara Zionis Israel, saat membawa bantuan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara.

Sambil merawat suaminya yang tak bergerak di ranjang selama 2,5 tahun, Tugba terus membesarkan ketiga anaknya Ahmet, Zeynep, dan Fatma. Berikut ini kutipan wawancara IHH (organisasi kemanusiaan yang menggerakkan Freedom Flotilla) dengan istri yang sabar dan setia ini:

Bisakah Anda ceritakan seperti apa kegiatan kemanusiaan yang dilakukan suami Anda dan perhatiannya terhadap kondisi Palestina?

Ugur sangat prihatin terhadap orang-orang tertindas di seluruh dunia dan ia senang membantu mereka. Ia selalu berkontribusi terhadap kegiatan amal sebanyak yang ia mampu. Namun dari semua itu, ia paling sensitif terhadap kondisi Palestina.

Ugur mempunyai pekerjaan profesional, sebelum akhirnya ia memutuskan meninggalkannya lalu pergi membawa bantuan ke Gaza. Bagaimana ia bisa meluangkan waktu untuk mengatur semua ini?

Ia selalu menempatkan diri diantara orang-orang yang tertindas dan mampu merasakan apa yang mereka derita. Ia tidak pernah memikirkan keuntungan materi. “Aku harus pergi dan membantu mereka,” begitu katanya lalu ia naik ke kapal. Ia selalu menjadi orang yang seperti ini. Ia selalu membantu siapa pun yang membutuhkan.

Saya kira Ugur naik kapal (Mavi Marmara) di Antalya lalu tinggal di gedung olahraga Kepez sebelum berangkat. Di sana ada orang-orang dari berbagai bangsa, agama, etnik, bahasa dan politik. Apakah Anda berbicara dengannya di Kepez dan apa ia menceritakan tentang situasi di sana?

Ketika itu kami lebih sering berbicara melalui telepon. Ia menceritakan semua yang terjadi di sana. Kalau tidak salah ada orang Inggris yang memeluk Islam ketika berada di sana. Ia menceritakan beberapa orang di sana ada yang membaca Al-Quran, mendengarkan nasyid. Menurutnya kondisi di sana sangat unik. Dan ia juga pernah berkata seandainya saya ada di sana.

Kapan Anda terakhir kali berbicara dengannya?

Telepon terakhirnya adalah ketika ia naik kapal. Katanya, “Kami pergi sekarang. Kita mungkin tidak akan saling bertemu lagi. Berikan saya restumu.” Itu adalah percakapan terakhir kami.

Apakah Anda mendengar kabar tentang suami Anda setelah serangan keji itu?

Kami tidak menerima kabar apa pun darinya selama empat hari. Setelah semua penumpang dan para relawan yang terluka kembali, saya dengar ada seseorang dengan luka parah yang harus tetap berada di ‘Israel’ dan belum bisa dibawa ke Turki karena kondisinya kritis. Perdana Menteri Turki meminta foto orang itu dikirimkan dan setelah saya lihat ternyata itu adalah suami saya.

Bagaimana Anda menyikapi serangan itu? Apa yang terjadi selanjutnya?

Anak lelaki saya dan saya secara reguler mengikuti perjalanan Mavi Marmara di situs IHH. Antara pukul sepuluh dan sebelas malam, kami tahu keadaan di kapal gelap gulita. Anak saya berkata kepada saya, “Bu, mari kita pergi ke kedutaan ‘Israel’.”

Tapi saya berkata kepadanya untuk menunggu sampai pagi hari. Ketika kami bangun untuk shalat Subuh, kami langsung mengecek situs IHH dan dari sana kami tahu kapal itu telah diserang dan ada beberapa korban tewas juga penumpang dalam kondisi kritis.

Selesai shalat Subuh, kami bergegas menuju kedutaan ‘Israel’. Ketika itu baru ada dua orang di meja depan kedutaan. Pertama mereka mengabarkan terdapat lima orang tewas namun dalam laporan berikutnya jumlahnya menjadi 20 orang. Saya dan anak saya ketika itu menduga bahwa Ugur termasuk dalam daftar korban tewas karena suami saya adalah orang pemberani yang tidak peduli bahaya. Ia adalah orang yang berbeda. Ia orang yang baik dan rela mengorbankan nyawanya jika dibutuhkan.

Anda terbang ke ‘Israel’ dengan pesawat ambulans untuk bertemu suami Anda. Bagaimana pertemuan Anda dengan otoritas ‘Israel’? Apa yang terjadi di sana?

Kami dipertemukan dengan staf kedutaan lalu pergi ke rumah sakit dimana Ugur sedang bersama para dokter Turki. “Kami akan melihat U?ur untuk mengetahui kondisinya, baru setelahnya Anda dapat menemuinya,” ujar para dokter. Saya ketika itu bersama anak saya. Para dokter lalu mengatakan Ugur dalam kondisi krisis dan ia bisa meninggal kapan pun sehingga terlalu riskan untuk membawanya pulang ke Turki.

Saya merasa terganggu karena suami saya berada di tangan orang-orang ‘Israel’. Saya diskusikan kondisi ini pada anak saya dan kami putuskan untuk membawanya ke Turki apa pun yang terjadi. Kami lalu menandatangani beberapa dokumen pemindahan pasien dan diberi tahu  mereka tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk.

Seandainya suami Anda tersadar dari koma besok pagi, menurut Anda, apa yang akan pertama kali dikatakannya?

Kami terkadang membicarakan tentang kemungkinan itu dan saya yakin ia akan pergi ke Palestina lagi jika ia tersadar dari koma. Ia akan pergi tanpa keraguan.

Adakah yang ingin Anda sampaikan lagi?

Semua peristiwa ini membuat kami semua lebih dewasa. Dulu kami tidak terlalu peduli pada banyak hal. Kami menyadari bagaimana rasanya hidup di Palestina jika sudah merasakannya langsung. Karena peristiwa ini kami lebih memahami keluarga para syahid dan korban terluka. Para keluarga dan relawan yang tewas dalam kapal Mavi Marmara tidak boleh dilupakan. Semua Muslim harus mendukung mereka di dalam hati mereka.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Relawan Mavi Marmara Ini Sudah 2,5 Tahun Koma
GRATIS: Film Dokumenter Mavi Marmara Lengkap dengan Kesaksian Para Korban »