Pengalaman Seorang Remaja Disiksa di Sel Isolasi

4 December 2012, 07:49.

Setiap hari dua anak-remaja Palestina diculik atau ditangkap, setiap minggu dua orang dibunuh, hasil riset DCI Palestine selama 12 tahun terakhir. foto: Haaretz

JAKARTA, Selasa (SahabatAlAqsha.com):

Nama: Abdullah S.

Tanggal Insiden: 27 September 2012

Usia: 16

Lokasi: Nablus, Tepi Barat

Sifat Kejadian: Penahanan, Sel Isolasi

Laporan ini dikeluarkan oleh DCI Palestine (Defence Children International chapter Palestine), sebuah jaringan internasional yang bekerja membela anak-anak yang terzhalimi di seluruh dunia.

Pada 27 September 2012, Abdullah, seorang remaja berusia 16 tahun dari Nablus, Tepi Barat diculik serdadu Zionis ‘Israel’ pukul dua dini hari. Ia lalu dibawa ke pusat interogasi Al Jalame dan ditahan di sel isolasi selama enam hari. Ini merupakan pelanggaran terhadap Konvensi keempat Jenewa.

“Sekitar pukul dua pagi, ayah saya menghampiri tempat tidur saya dan adik laki-laki saya, Muhammad, 12. Ia lalu membangunkan kami dan mengatakan bahwa serdadu-serdadu zionis ada di rumah,” ujar Abdullah. “Muhammad ketakutan. Kami lalu cepat-cepat ke ruang tamu dengan masih memakai piyama. Di sana saya melihat delapan serdadu zionis. Ketika Muhammad melihat mereka, ia mulai menangis dan berteriak,” sambungnya.

Setelah Abdullah diidentifikasi, seorang serdadu Zionis mengatakan bahwa ia harus ikut bersama pasukan. Namun ia tidak memberi tahu alasannya kepada Abdullah. Abdulllah lalu diikat dengan ikatan plastik yang sangat ketat dan menyakitkan. Ia dibawa keluar rumah dengan mata tertutup.

Sebuah kendaraan militer lalu membawa Abdullah ke lokasi yang tidak diketahuinya. “Jip itu berjalan sangat cepat di atas jalan rusak dan kepala saya berkali-kali membentur atap mobil,” ujarnya. Setelah perjalanan yang tidak begitu lama, jip tiba di pusat interogasi Huwwara, di luar Nablus.

Setibanya di sana, Abdullah dipaksa berjalan sekitar 20 menit sementara seorang serdadu Zionis teus menendanginya dari belakang. “Mereka lalu memaksa saya duduk di atas bebatuan berduri selama sekitar 1,5 jam. Saya meminta air karena saya sangat haus. Seseorang memberikan saya gelas dan menaruhnya di mulut saya. Tapi ternyata tidak ada isinya dan mereka menertawai saya,” paparnya.

Sekitar pukul delapan pagi, Abdullah dipindahkah ke pusat interogasi Al Jalame, di dekat Haifa. Dibawanya Abdullah keluar dari Tepi Barat melanggar artikel 49 dan 76 dari Konvensi keempat Jenewa dan penahanannya di wilayah Palestina yang dikuasai zionis melanggar hukum.

Di Al Jalame, Abdullah dibawa ke sel no. 36. “Sel itu sangat kecil dengan sebuah matras di lantai. Di dalamnya ada toilet yang sangat bau, tidak ada jendela dan air yang sangat dingin. Lampu di sel itu terus  menyala dan menyakitkan mata saya. Setelah 1,5 jam saya berada di sana, seorang sipir datang dan memakaikan saya kacamata gelap sehingga saya tidak bisa melihat apa pun. Ia lalu membawa saya pergi. Ternyata saya dibawa ke ruang interogasi. Di sana ada seorang pria yang memperkenalkan dirinya bernama ‘Mursi’. Di tengah ruangan terdapat kursi pendek logam. Mursi mendudukkan saya di sana dan mengikat tangan saya di punggung kursi. Rasanya sangat sakit duduk dengan posisi seperti itu,” urai Abdullah.

Abdullah menghabiskan 30 hari di Al Jalame, termasuk enam hari di sel isolasi no. 36. Ia hampir tiap hari diinterogasi selama dua sampai tiga jam. Ia tidak diizinkan bertemu pengacara atau pun orangtuanya. Interogator menuduh Abdullah sebagai anggota Hamas dan terlibat dalam berbagai aktivitas yang membahayakan keamanan zionis.

Semua tuduhan itu dibantah Abdullah. Setelah berminggu-minggu diinterogasi, Abdullah akhirnya mengakui pernah melemparkan batu beberapa tahun lalu dan interogasi pun berakhir. Ia lalu dibawa ke penjara Megiddo di dalam Palestina yang dijajah zionis. Ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap artikel 76 Konvensi keempat Jenewa.

Pada bulan Oktober 2011, Pelapor Khusus PBB untuk Penyiksaan mengirimkan laporan kepada Majelis Umum PBB dan meminta agar melarang sepenuhnya penggunaan sel isolasi untuk anak-anak karena seringkali dipakai sebagai tempat menyiksa.

Menurut laporan-laporan yang dikumpulkan DCI Palestine selama 12 tahun terakhir, rata-rata setiap hari ada dua anak Palestina yang ditangkap atau diculik oleh zionis, dan setiap minggu ada dua anak yang dibunuh. * (MR/ Sahabat al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bukti Lain Pemerintahan Abbas di Bawah Zionis: Pajak yang Ditahan
Bukti Lain Tepi Barat Dijajah Zionis: Stempel ‘Judea and Samaria Only’ »