Bukti Lain Tepi Barat Dijajah Zionis: Stempel ‘Judea and Samaria Only’
4 December 2012, 17:56.

Stempel di paspor Rima Merriman, dosen sastra Amerika di Universitas Al-Quds, yang bertuliskan “Judea and Samaria Only”. Siapapun Anda, kalau Anda bukan seorang Yahudi, meski sudah bekerja bertahun-tahun di Tepi Barat tidak akan diberi izin bergerak kemana-mana oleh penjajah zionis. Status Anda selamanya adalah “pengunjung”. foto: Rima Merriman
JAKARTA, Selasa (SahabatAlAqsha.com): Lantaran Otoritas Palestina tidak memiliki kedaulatan yang nyata di tanah Palestina, khususnya di Tepi Barat, siapa saja yang hendak pergi ke Tepi Barat harus mengantongi izin zionis ‘Israel’. Ketentuan ini juga berlaku untuk semua pengunjung asing dan ribuan warga Palestina dengan paspor negara ketiga yang tinggal atau ingin berkunjung ke sana. Demikian ditulis Ali Abunimah dari Electronic Intifada.
Meski banyak warga negara asing tinggal dan bekerja di Tepi Barat, tidak ada izin kerja apapun yang memungkinkan mereka bekerja untuk institusi Palestina atau perusahaan-perusahaan yang berbasis di Tepi Barat atau bahkan hanya untuk mendapat jaminan hidup aman.
Akhirnya orang-orang ini hanya mendapatkan visa “turis Israel” yang harus terus-menerus diperbarui dan seringkali ditolak dengan sewenang-wenang oleh pihak zionis. Bukan hanya orang biasa yang kerap ditolak zionis. Para pejabat pemerintah asing yang hendak bertemu dengan Otoritas Palestina pun sering menerima perlakuan serupa. Ini merupakan bentuk pelanggaran zionis yang telah didokumentasi oleh misi diplomatik Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Cap Paspor ‘Yudea dan Samaria’
Dahulu, dengan visa ‘Israel’, seorang pengunjung asing atau warga Palestina dengan paspor asing bisa menjelajahi seluruh wilayah ‘Israel’ dan Tepi Barat. Tapi sejak 2009, zionis mulai menstempel paspor orang-orang yang mengunjungi Tepi Barat dengan kata-kata “Hanya Otoritas Palestina”. Kata-kata ini berarti mereka hanya bisa berada di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Dulu stempelnya bertuliskan “Hanya (kawasan) Otorita Palestina” seperti ini. Sejak 2009 Otorita Palestina sudah dianggap tak ada oleh imigrasi zionis. foto: Rima Merriman
Sekarang, Zionis ‘Israel’ mulai menggunakan stempel baru dengan kata-kata “Hanya Yudea dan Samaria”, kawasan yang lebih sempit lagi. Seperti yang terlihat pada paspor milik Rima Merriman, seprang profesor dari Univesitas Palestina-Amerika yang mengajar sastra Amerika di Universitas Al-Quds. Pada paspornya terdapat stempel tanggal 24 Agustus 2012 dengan kata-kata “Hanya Otoritas Palestina”.
Lalu kalau kita lihat foto paspor Merriman, pada bagian atas foto, dari kunjungan terbarunya pada 26 November 2012, ada stempel baru dengan kata-kata “Hanya Yudea dan Samaria”.
“Yudea dan Samaria” adalah nama Yahudi alias Ibrani yang diberikan penjajah zionis kepada wilayah Tepi Barat yang terjajah. Pemberian nama Yahudi ini sebagai bentuk klaim palsu Zionis atas wilayah Tepi Barat dan untuk memberikan kesan legitimasi sejarah dan agama. Dari upaya-upaya ini, zionis telah menerapkan solusi negara tunggal yang rasis dimana tidak ada yang namanya negara Palestina dan bahkan “Otoritas Palestina”, yang merupakan hasil Perjanjian Oslo antara AS-Israel-Fatah (1993) telah dianggap tidak ada.
Merriman mengungkapkan, ia sudah dua kali ditolak ketika ingin kembali masuk ke Tepi Barat yang diduduki. Setiap ditolak, Merriman selalu diberi alasan bahwa ia tidak memiliki visa kerja. “Dan sebenarnya tidak ada cara bagi seorang akademik internasional yang bekerja di universitas Palestina untuk mendapatkan izin kerja,” ujarnya. Ia akhirnya dapat masuk kembali ke Tepi Barat melalui koordinasi antara Kantor Urusan Sipil Otoritas Palestina dengan otoritas pendudukan zionis. Cara ini membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit.
Merriman juga mengatakan, Universitas Al-Quds adalah satu-satunya universitas Palestina yang tidak diakui zionis karena hanya universitas ini yang berada di Yerusalem Timur yang merupakan wilayah yang dirampas secara paksa dan ilegal oleh zionis. Negara biadab ini tidak mengakui semua ijazah mahasiswa dari universitas Al-Quds sehingga banyak dari mereka yang kesulitan mencari kerja.
Sikap rasis dan diskriminatif yang terang-terangan ditunjukkan rezim zionis ini juga tampak dari fakta, bahwa setiap orang Yahudi dari kebangsaan apa pun tidak hanya bisa masuk kapan pun, tetapi juga bisa secara cepat mendapatkan kewarganegaraan ‘Israel’. Sedangkan bagi warga Palestina yang tinggal atau diasingkan di luar negeri (meski lahir di Palestina) hanya dapat memasuki negaranya sendiri dengan status ‘pengunjung’ memakai paspor asing dan dipaksa tunduk terhadap apapun keinginan penjajah zionis.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
