Perjumpaan Kita dengan Khalid Misy’al Tahun 2006 (Bagian Pertama)

6 December 2012, 10:12.

Khalid Misy’al foto: Veterans Today

JAKARTA, Kamis (SahabatAlAqsha.com | Majalah Hidayatullah):

Wawancara Tatap Muka dengan Khalid Misy’al, Pemimpin HAMAS, di Damaskus, Suriah pada hari Sabtu, 28 Oktober 2006

oleh Dzikrullah W. Pramudya & Santi Soekanto*

Beginilah selalu cara Allah Subhaanahu wa Ta’ala memperkuat dan mendewasakan umat Islam, yaitu dengan memberi cobaan berat. Palestina dan Masjidil Aqsha yang kini dipimpin orang-orang yang shalih, hanif, dan menyayangi rakyat,

hari-hari ini sedang diuji dengan tiga tekanan besar:

Pertama, embargo keuangan internasional yang dikompori Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Kedua, sabotase politik yang terus-menerus dilakukan oleh oknum-oknum dari rezim Orotitas Palestina Mahmoud Abbas yang kalah pemilu dan lebih ingin hidup “damai” di bawah Israel.

Ketiga, semakin ganasnya penjajahan Israel menangkapi para pemimpin Palestina dan memperlakukan rakyatnya lebih biadab dari rezim Apartheid Afrika Selatan puluhan tahun silam.

Khalid Misy’al adalah pusat pusaran ujian bangsa Palestina saat ini. Dialah salah satu pemimpin tertinggi Harakah Al-Muqaawamah Al-Islamiyah (Hamas: Gerakan Perlawanan Islam).

Usianya 50 tahun. Tepat 9 tahun yang lalu ia pernah setengah mati setengah hidup, gara-gara syaraf di dekat telinganya diinjeksi gas racun oleh dua agen Mossad di Yordania. Sepuluh agen berpaspor Kanadadikirim PM Israel waktu itu Benjamin Netanyahu untuk membunuh Misy’al.

Walaupun dua agen berhasil ditaklukkan oleh satu orang pengawal Misy’al, tapi racun sudah terlanjur disutikkan. Kedua Mossad yang dibekuk itu lalu ditukar dengan antidote alias penawar racun, dan… dibebaskannya Asy-Syahid Syeikh Ahmad Yassin. Alih-alih berhasil membunuh Misy’al, Israel malah terpaksa melepas ulama mujahid besar itu dari hukuman penjara seumur hidup. Allaahu Akbar.

Sebagai salah satu pemegang saham kemenangan Hamas dalam pemilu 6 bulan silam, Misy’al tidak mentang-mentang. Dia memberi jalan bagi Ismail Haniyah untuk menjadi perdana menteri, dan meneruskan kehidupannya yang selalu di bawah ancaman di Suriah untuk memimpin organisasi jihad terbesar dewasa ini.

Alhamdulillah, kami diizinkan Allah bertemu dan mewawancarai Khalid Misy’al. Permintaan wawancara sudah diajukan 3 minggu sebelumnya, saat kami berada di Lebanon Selatan dalam sebuah misi kemanusiaan.

Sepekan sebelum wawancara, penghubung mereka yang juga orang Hamas mengaku diperiksa habis-habisan oleh atasannya. Tiga hari menjelang wawancara baru terjadi telefon-telefonan yang intensif dengan orang yang berganti-ganti.

Sehari sebelum kami pulang ke Jakarta, baru ada kepastian dari mereka. Pasti diterima, tapi waktu dan tempat masih dimajumundurkan, dirahasiakan.

Jadual wawancara dimajukan dari jadual yang sudah disepakati sebelumnya. Kami dijemput dengan hangat dan ramah oleh seorang petinggi Hamas. Tempat pertemuan di sebuah masjid sesudah shalat maghrib, di Damaskus, bekas ibukota Khilafah Bani Umayyah dan kini ibukota Republik Arab Suriah.

Hari sudah gelap, tapi beberapa orang berbadan tegap masih terlihat berdiri dan duduk di tempat yang kurang lazim, di sekitar masjid. Kami diajak masuk ke sebuah sedan yang berkaca sangat gelap. Di dalam mobil suasana sudah lebih akrab. Kami saling bertukar salam dan doa. Namun suasana tegang malah meningkat karena tiba-tiba saja supir menutup gordyn hitam sampai kami sama sekali tak bisa melihat jalan di depan. Keadaan gelap itu hampir-hampir sama dengan kalau mata kami ditutup kain hitam.

Mobil berjalan cukup cepat, melambat di beberapa belokan, tapi ngebut sebisa mungkin, sampai akhirnya masuk ke sebuah garasi. Sebelum kami keluar, pagar baja tebal berwarna gelap di belakang mobil kami ditutup secara otomatis.

Kami dibimbing masuk dan menemukan beberapa orang baru selesai menunaikan shalat maghrib berjama’ah. Hampir semua pria yang ada di ruangan itu menyandang senjata di dada atau di pinggangnya. Semuanya menyambut kami dengan senyum akrab dan genggaman tangan yang erat. “Silakan masuk.. silakan masuk… Ahlan wa sahlan..”

Telepon seluler kami diamankan. Sebuah mesin detektor logam untuk barang dan manusia dioperasikan. Salah seorang pria di dekat mesin itu tidak tersenyum sama sekali. Matanya tajam memandangi bola mata kami satu per satu.

Salah seorang dari kami mengucapkan salam dan tersenyum kepada pria gagah ini. Di belahan dunia manapun, kepada bangsa manapun, senyum selalu ampuh untuk mencairkan suasana. Kali ini tidak mempan. Matanya tetap menyorot tajam.

Bibir pria itu hanya bergerak sedikit menjawab salam, tangannya mengisyaratkan bahwa tas komputer jinjing, tas-tas kamera, dan tas tangan kami semua ditinggal di situ untuk nanti akan dikembalikan. Barang-barang petinggi Hamas yang mengantarkan kami juga diperiksa.

Belum selesai. Kami dibawa ke sebuah ruangan berpintu kayu dengan ukiran yang indah. Masuklah kami ke sebuah ruangan pertemuan yang ditata seperti ruang tamu di rumah-rumah. Sunyi dan tenang. Yang pertama kali menyambut kami adalah sebuah billboard bergambar puluhan pemimpin Hamas yang sudah menjadi Syuhada, diantaranya Insinyur Al-Maghfurullaah Yahya Ayyasy dan Syeikh Shalah Syahadah. Ada sebuah poster besar bergambar khusus satu orang, Allahuyarham Syeikh Ahmad Yassin.

Di ujung ruangan yang memanjang itu ada maket raksasa Qubatus-Sakhra bangunan

indah beratap sepuhan emas, icon Al-Quds. Di ujung yang satu, sebuah wallpaper besar menutupi seluruh dinding bergambar Masjidil Aqsha, peta dan bendera Palestina, serta logo gerakan Hamas. Di atas gambar masjid suci ketiga itu tertulis ayat Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat pertama:

Subhaanalladzii asra bi ‘abdihi laylan min al-Masjidil Haraam ila al-Masjidil Aqsha….

Tak lama kemudian seorang pengawal dengan pistol di rompi dan kabel putih di telinga (mirip para anggota Dinas Rahasia Amerika yang mengawal presidennya) , datang membawa semua barang-barang kami, dan membolehkan kami menggunakannya.

Sesudah 10 menit berlalu datanglah seorang pria yang wajahnya menyirnakan seluruh ketegangan yang sejak ba’da Maghrib menggumpal di tengkuk kami. Inilah Khalid Misy’al. Berjas setelan abu-abu, berkemeja putih bersih lengan panjang, bersepatu kulit hitam, berkaos kaki abu-abu.

Rambut dan jenggotnya rapi dan memutih di sana sini. Hal pertama yang dilakukan pria ini begitu masuk ruangan adalah menyapa Santi Soekanto, satu-satunya perempuan di ruangan itu. Badannya sedikit membungkuk, telapak tangan kanannya ia letakkan di dadanya sendiri, sambil tersenyum Misy’al menyapa, “Assalaamu’alaikum, kayfa haluki.. tamaam…? Apa kabar Saudariku, baik?”

Sesudah itu dia menyalami dan memeluk kami para pria yang hadir seperti bertemu dengan teman lama. Bersamaan dengan kedatangan Misy’al, dua orang pengawal berpistol di pinggang dan rompi mengantarkan air putih dan piring-piring berisi pisang, anggur, pir, dan apel segar…. (Bersambung ke sini (silakan klik): “Perjumpaan Kita dengan Khalid Misy’al Tahun 2006 [Bagian Kedua]” ) (Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Khalid Misy’al dan Musa Abu Marzuq Masuk Gaza Hari Ini, Insya Allah
Perjumpaan Kita dengan Khalid Misy’al tahun 2006 (Bagian Kedua – habis) »