Perjumpaan Kita dengan Khalid Misy’al tahun 2006 (Bagian Kedua – habis)
6 December 2012, 10:20.

Khalid Misy’al foto: Veterans Today
JAKARTA, Kamis (SahabatAlAqsha.com | Majalah Hidayatullah): Seorang pria berbadan tegap dan bersetelan jas sangat rapi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Rupanya ia menjemput Misy’al untuk sebuah janji yang lain. Kehadiran pria tadi membatalkan niat Misy’al untuk makan bersama kami sesudah wawancara.
Sesudah kami memperkenalkan diri, wawancarapun dimulai, dibantu seorang penterjemah bahasa Arab Abu Ayyasy Rantisi. “Bahasa Inggris saya tak begitu bagus,” katanya merendah. Pembaca yang budiman, selamat menikmati perbincangan kita dengan Khalid Misy’al yang arti namanya adalah “Api yang Menyala-nyala Abadi”.
Bisakah Anda memberi kami sebuah daftar, yang isinya, apa saja yang diinginkan Hamas untuk dilakukan oleh ummat Islam di berbagai belahan dunia demi mendukung perjuangan Palestina?
(Misy’al mengangkat alis matanya dan tersenyum) Biasanya pertanyaan ini diajukan terakhir.
Soalnya, belum apa-apa Anda sudah membatasi waktu kita. Jadi kita potong kompas.
Oke. Allahuma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa aalihii wa shahbihi ajma’iin. BismillaahirRahmaan irRahiim.
Sesungguhnya (keadaan) ummat Islam dinilai dari keadaan Al-Aqsha -kalau masih dipegang oleh Israel maka kita adalah ummat yang di bawah kendali mereka. Ini adalah pesan pertama saya kepada Muslimin di seluruh dunia.
Sekarang, hal-hal yang harus menjadi catatan bagi setiap Muslim di manapun mereka berada. Pertama, sebagai bagian dari identitas seorang Muslim adalah menjadikan Al-Quds tertanam kuat di dalam hati kita. Dengan demikian hati Anda akan bersatu dengan kami di Hamas yang berjuang di luar maupun di dalam Palestina. Jangan katakan “akan” bergabung, tapi “bergabunglah”.
Kedua, berikan dukungan yang terus-menerus kepada perjuangan Palestina. Dukungan dana saat ini sedang sangat dibutuhkan dari seluruh kaum Muslimin. Kami berjihad dengan diri kami, dengan jiwa kami, ummat Islam yang lain berjihad dengan harta mereka. Bantuan materi ini bukan sekedar membantu Muslimin Palestina tetapi juga untuk melindungi Al-Aqsha dari kemungkaran.
Ketiga, dukungan kepada Palestina harus dilanjutkan dengan pengertian yang terus bertambah mengenai masalah-masalah Palestina. Ada dua kepentingan dari hal ini: kepentingan pertama, dengan dukungan ini akan menjadi bukti bagi bangsa Palestina bahwa-meskipun diisolasi oleh Israel dari dunia luar-mereka tidak berjuang sendirian. Katakan kepada mereka, “Kami bersatu padu dengan kalian.” Kepentingan berikutnya adalah untuk mengatakan kepada Zionis dan Amerika, bahwa kita yang di luar akan terus membantu karena ummat Islam adalah tubuh yang satu.
Dukungan ini, semakin responsif sifatnya, semakin bagus. Setiap kali ada usaha menghancurkan Al-Aqsha, pembunuhan bangsa Palestina, dan lainnya, ummat Islam di belahan dunia yang lain langsung merespon dengan turun ke jalan. Turunlah ke jalan lebih banyak lagi. Sungguh tidak ada dari dukungan itu yang sia-sia. Apalagi saat ini, dunia mengembargo Hamas yang sedang mendapatkan amanah kekuasaan.
Embargo ini memberi pesan penting kepada seluruh ummat Islam baik Arab maupun non-Arab: bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersatu selama tidak ada respek yang sungguh-sungguh terhadap masalah penjajahan atas Palestina.
Keempat, media massa di negara-negara Muslim diharapkan memberi prioritas kepada isu-isu Hamas dan Palestina. Hilangkan keraguan dalam diri sejumlah orang dan beritahu ke masyarakat ramai, bahwa Hamas mampu membawa Palestina meraih kemenangan dari Allah.
Yang kelima, dan yang terpenting, adalah doa yang merupakan senjata utama kita semua. Jangan berhenti mendoakan kami. Yakinlah, bahwa banyak hal penting di dunia yang berubah karena doa.
Sesudah 6 bulan menjalankan kekuasaan, bagaimana Hamas mengevaluasi masuknya ke dalam sistem yang dibuat oleh Perjanjian Oslo 1993 yang dulunya Hamas tolak?
Tak ada keraguan lagi, Perjanjian Oslo adalah keputusan yang sangat salah. Sesudah 10 tahun berlaku, keadaan semakin membuktikan kesalahan perjanjian itu. Namun sistem sudah berjalan. Harus ada yang menggunakan sistem itu untuk mengubah keadaan. Perlawanan (Al-Muqawamah) yang dibawa oleh Hamas ke dalam sistem ini akan menjadi bukti, bahwa Palestina mampu mengalahkan Israel lewat jalan politik.
Kita ingin menjadikan pemerintah Hamas sebagai pemerintah yang selalu memihak rakyat, dan bukan malah menjilat Israel. Rakyat Palestina telah memilih kami karena menginginkan perubahan dan pemihakan pemerintah kepada mereka.
Sangat susah mengevaluasi berhasil atau tidaknya karena kami baru saja mulai. Bahkan belum memulai sudah dijegal dari dalam dan diembargo dari luar. Embargo Israel, Amerika, Eropa dan sebagian dari negara-negara Arab, dan lebih parah lagi dari kepala negara Palestina sendiri, hanya karena ingin menghancurkan semua yang sudah disiapkan Hamas untuk masa depan Palestina. Mereka tak ingin Hamas berhasil, karena mereka belum apa-apa sudah takut dengan pemerintahan politik Islam. Mereka di Barat juga sangat takut kalau ada pemerintahan Islam yang lain bergabung dengan pemerintahan Hamas.
Lebih berat yang mana untuk dihadapi, tekanan embargo dari luar negeri atau tekanan dari orang-orang rezim lama dalam Otoritas Palestina?
Tekanan dari dalam negeri jelas lebih berat daripada dari luar. Mereka merasa akan berhasil menekan kami bersama-sama baik dari dalam maupun dari luar. Tetapi tekanan dari luar tidak akan berhasil jika keadaan di dalam baik.
Pemogokan guru dan pegawai negeri yang beberapa kali terjadi di Palestina, apakah itu merupakan indikator bahwa secara umum bangsa Palestina masih meragukan gagasan Perlawanan (Al-Muqawamah) yang dibawa pemerintah Hamas?
Pemogokan-pemogokan seperti ini tidak akan berpengaruh terhadap bangsa Palestina. Kenapa? Memang benar, bahwa dengan embargo kami mengalami kesulitan uang, tetapi sebagian besar bangsa Palestina faham bahwa embargo ini sama sekali bukan kegagalan Hamas.
Mereka juga faham, Hamas belum sempat melakukan apa-apa karena pemerintahannya terus dirongrong. Mereka faham, bahwa sulitnya keuangan dan pemogokan bukan masalah yang sesungguhnya.
Sangat disayangkan, pemogokan merupakan alat politik beberapa individu dalam kelompok Fatah untuk menggoyahkan Hamas. Anda harus ingat, di dalam struktur birokrasi pemerintahan, sebagian besar masih orang Fatah.
Di Haifa 160 ribu pegawai negeri adalah pendukung Fatah. Di Gaza sebagian besar. Tapi itu semua tetap tidak akan berpengaruh kepada kepercayaan rakyat yang telah memilih Hamas.
Bagaimana cara Anda menangani tekanan dari orang-orang rezim lama seperti Fatah?
Ketika kita memulai pemerintahan, kami tidak pernah bilang, “Kami pemenang dan kamu pihak yang kalah.” Kami sampaikan kepada mereka, “Mari, ayo, kita menyatukan kekuatan membangun Palestina dalam sebuah pemerintahan.”
Sebagaimana Anda ketahui, sesudah 6 bulan kami ingin membentuk kabinet baru, mereka menolak, karena yang mereka inginkan adalah melihat kami gagal.
Amerika sudah jelas-jelas menyatakan kepada Fatah, kalau kamu tidak mau mendukung embargo, maka Fatah akan dimasukkan ke dalam daftar teroris.
Mereka mau mendukung Hamas dengan syarat yang tak mungkin kami terima, yaitu mengakui keberadaan Israel.
Inti perbedaannya ‘kan, Fatah mau mengakui dan berdamai dengan Israel, sedangkan Hamas menganggap perlawanan adalah jalan satu-satunya mengembalikan hak-hak bangsa Palestina. Mungkinkah suatu saat Fatah akan menerima gagasan Hamas?
Di dalam tubuh Fatah juga ada banyak pemikiran. Ada yang mendukung Perlawanan, ada yang mengakui Israel dan ingin membangun perdamaian dengan Israel. Sayang sekali ada pimpinan Fatah yang bersikap seperti ini yang akan merugikan Fatah sendiri. Kenapa? Oknum-oknum seperti ini yang ada dalam tubuh Fatah adalah mereka yang ingin mempertahankan popularitasnya. Mereka menganggap jika Hamas berhasil, Fatah akan tinggal sejarah.
Dulu di paruh terakhir pemerintahan Presiden Soeharto, dukungan pemerintah Indonesia kepada perjuangan Palestina sangat nyata. Sekarang zaman berbeda, politik dunia berbeda, dukungan seperti apa yang Anda inginkan dari Indonesia?
Hal yang harus selalu diingat, Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Indonesia punya hubungan yang sangat baik dengan Palestina dan negara-negara Arab. Sepanjang sejarahnya, rakyat Indonesia sangat mendukung perjuangan Palestina. Kami ingin sikap rakyat Indonesia dicerminkan sepenuhnya oleh sikap pemerintahnya.
Kami menginginkan adanya hubungan resmi, yang legitimate, antara pemerintahan resmi Palestina dan pemerintahan resmi Indonesia. Resminya hubungan ini akan besar pengaruhnya bagi perjuangan Palestina. Menteri Luar Negeri Palestina (Doktor Mahmud) Al-Zahar sudah berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu, dan kami berharap akan menindaklanjuti hal ini. Bantuan keuangan sebesar apapun juga akan sangat menolong bangsa Palestina, menghadapi ujian embargo.
Lebih dari itu, kami sangat menghargai sikap Indonesia yang tetap tidak mengakui Israel dan menentang penjajahan yang dilakukannya. Kami berharap Indonesia memegang teguh sikap itu sampai kapanpun.
Oke. Dua pertanyaan terakhir. Baik, dua dari saya, satu dari istri saya.
(Misy’al tersenyum sambil menggelengkan kepala) Saya sudah ditunggu saudara kita.
Waktu Anda disuntik racun oleh Israel, bagaimana kejadiannya, bagaimana rasanya waktu itu?
(Dia menundukkan kepala sebentar.. lalu mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW, sebelum menjawab..)
Hal ini terjadi ketika di Amman, Kamis, 25 September 1997. Dengan peralatan canggih Israel memasukkan racun ke belakang telinga saya. Waktu itu saya dalam perjalanan ke kantor saya, dua orang agen Mossad menyerang dan berhasil menyuntikkan racun. Racun itu berupa gas, yang masuk seperti sesuatu yang normal, tapi waktu kita tidur akan menyebabkan kesulitan bernafas. Sehingga kalau tidak segera ketahuan orang lain akan mengira kita mati secara wajar. Yang membatalkan serangan ini adalah Allah.
Pengawal saya berhasil menangkap dan melumpuhkan kedua agen Mossad itu. Kami juga dengan izin Allah mendapatkan antidote (penawar) racun itu dalam waktu 2 kali 24 jam. Jika lewat batas itu seharusnya saya sudah mati.
Alhamdulillah, bukan saja mendapatkan penawar racunnya, kami juga menukar dua agen Mossad itu dengan pembebasan Syeikh Ahmad Yasin.
Waktu terkena racun itu apa yang Anda rasakan?
Tidak ingat apa-apa. Saya bangun tepat sesudah 48 jam. Sekarang sepenuhnya sehat. ‘Ibrah dari kejadian ini adalah, kematian itu hanya di tangan Allah. Manusia tidak akan pernah mati selain ditentukan Allah. Berani itu memanjangkan umur, takut itu memendekkan umur. Allah juga mengubah semua ujian berat yang dilewati dengan sabar, menjadi kenikmatan. Orang Yahudi berniat membunuh saya, malah mereka sendiri yang membebaskan Syeikh Ahmad Yassin. Tawakkal ‘ala Allah.
Menurut perkiraan Anda, berapa lama lagi kemenangan merebut Al-Aqsha akan diraih oleh ummat Islam?
Kemenangan tidak bisa diramalkan oleh siapapun, tapi bisa diyakini dan diperjuangkan. Insya Allah tidak akan lama lagi.
Kira-kira?
Insya Allah kurang dari 20 tahun, kita akan mengalahkan Israel. Kalian juga akan bersama kami saat itu di Al-Quds.* (Sahabat Al-Aqsha)
* Suami istri wartawan ini melakukan perjalanan jurnalistik ke Lebanon dan Suriah pada September 2006 seusai 23 hari Perang Lebanon, sebagai bagian dari sebuah tim dokter sebuah organisasi di Indonesia. Dzikrullah redaktur senior majalah Hidayatullah dan kolumnis www.hidayatullah.com, Santi Pemimpin Redaksi Majalah ALIA (kini AULIA). Keduanya kini relawan Sahabat Al-Aqsha.
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
