Fakta-fakta Rujukan: 25 Tahun Intifadhah Palestina Pertama
8 December 2012, 09:23.

Tangan lemah itu melempar batu… Kita melempar apa? foto: CCUN
JAKARTA, Sabtu (SahabatAlAqsha.com | IMEU (Institute for Middle East Understanding): Tepat minggu ini 25 tahun yang lalu, rakyat Palestina melakukan perlawanan besar-besaran melawan penjajahan Zionis ‘Israel’ atas Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Jalur Gaza, yang waktu itu sudah berlangsung selama 39 tahun.
Meledaknya perlawanan ini dipicu oleh terbunuhnya empat pemuda Palestina oleh seorang pengemudi truk zionis pada 8 Desember 1987. Waktu itu kemarahan rakyat Palestina atas kehidupan di bawah penjajahan zionis yang represif serta permukiman ilegal Yahudi yang terus meluas telah memuncak.
Perlawanan ini langsung menjadi berita-berita utama internasional dan menyedot perhatian dunia atas kehidupan rakyat Palestina di bawah penjajahan zionis.
Pada peringatan 25 tahun Intifadhah Pertama ini, IMEU (Institute for Middle East Understanding) memaparkan sejumlah fakta yang terjadi kala itu.
INTIFADHAH PERTAMA (1987-1993)
Taktik yang dipakai rakyat Palestina selama Intifadah pertama adalah melakukan demontrasi tanpa bersenjata, melempari para serdadu dengan bebatuan, pemogokan, menolak membayar pajak kepada otoritas zionis dan tindakan perlawanan lain tanpa senjata.
Serdadu-serdadu zionis menanggapi perlawanan tanpa senjata ini dengan brutal. Menteri Pertahanan zionis ketika itu, Yitzhak Rabin menjalankan kebijakan terkenal “patahkan tulang’ dan meminta semua pasukan keamanan mematahkan tulang setiap rakyat Palestina yang melempar batu dan para pengunjuk rasa lainnya.

“Patahkan tangan-tangan mereka!” perintah PM zionis Yitzhak Rabin kepada seluruh tetara zionis untuk hadapi Intifadhah. foto: My Author Site
Lebih dari seribu rakyat Palestina tewas dibunuh pasukan zionis selama Intifadah Pertama. Termasuk di antaranya 237 orang anak di bawah 17 tujuh. Sementara korban luka-luka mencapai puluhan ribu.
Menurut perkiraan LSM Save the Children di Swedia, hanya dalam dua tahun pertama gerakan Intifadhah, sebanyak 29.900 anak Palestina dirawat akibat luka pukulan serdadu-serdadu Zionis. Hampir sepertiga dari jumlah itu adalah anak-anak yang baru berusia sepuluh tahun dan di bawahnya.
LSM ini juga memperkirakan antara 6.500-8.500 anak-anak kecil Palestina terluka akibat tembakan zionis pada dua tahun pertama Intifadhah. Tahun 2000 terungkap bahwa antara periode 1988-1992, badan intelijen zionis, Shin Bet secara sistematis menyiksa orang-orang Palestina dengan berbagai metode di luar yang diizinkan dalam aturan pemerintah.
Metode ini, antara lain mengikat tahanan pada posisi yang menyakitkan selama berjam-jam, menundukkan mereka dalam suhu sangat panas dan dingin, pemukulan keras dan tendangan-tendangan brutal. Sedikitnya sepuluh warga Palestina tewas dalam siksaan itu dan ratusan orang lainnya menjadi cacat.
Sekitar 120.000 rakyat Palestina disekap di penjara-penjara Zionis selama Intifadhah pertama.
Enam hari sesudah meletusnya Intifadhah di Jabaliya, sesudah empat pemuda Palestina gugur ditabrak truk zionis, pada tanggal 14 Desember 1987, resmilah berdirinya Hamas (Harakah Muqawamah Al-Islamiyah: gerakan perlawanan Islam) di Jalur Gaza yang dipelopori oleh para da’i dan ulama Ikhwanul Muslimin.
Pada tahun 1992, saat menghadapi protes dari komunitas internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 799, zionis menangkap dan mendeportasi 400 lebih tokoh tertinggi Hamas dan Jihad Islam ke Lebanon.
Di antaranya yang diasingkan itu ialah Dr. Abdul Aziz Al-Rantisi (yang di kemudian hari menggantikan kepemimpinan Asy-Syahid Syeikh Ahmad Yasin), Dr. Mahmoud Zahar (kemudian jadi Menteri Luar Negeri Palestina sesudah Hamas memenangkan pemilu tahun 2006) dan Ismail Haniyah (sekarang Perdana Menteri Palestina).
Pemerintah Lebanon menolak deportasi mereka karena tidak ingin meligitimasi deportasi ilegal yang dilakukan zionis. Akhirnya mereka terpaksa selama setahun hidup di Marj Az-Zuhur, daerah tak bertuan di antara perbatasan Lebanon Selatan dan tanah Palestina yang dijajah.
Banyak pengamat menilai peristiwa ini justeru menjadi titik balik bagi kebangkitan perjuangan Palestina.
Gerakan Intifadah pertama secara bertahap mulai mereda seiring penindasan brutal zionis dan politik kooptasi zionis terhadap PLO. Gerakan ini berakhir pada 1993 dengan terjadinya Perjanjian Oslo antara zionis ‘Israel’ dan PLO yang dipimpin Yaser Arafat.
DAMPAK POLITIK: MADRID, OSLO dan di luar itu
Pecahnya Intifadah Pertama mengejutkan hampir semua orang, termasuk militer zionis dan pejabat-pejabat intelijen serta pemimpin PLO yang berbasis di Tunisia setelah dipaksa pergi dari Lebanon pada 1982 oleh invasi zionis.
Intifadah pertama berhasil membuat dunia sangat bersimpati terhadap Palestina. Bagi zionis, simpati ini merupakan tekanan internasional yang meminta zionis menjawab tuntutan rakyat Palestina atas kebebasannya.
PLO di bawah kendali Yasser Arafat berusaha memanfaatkan gerakan Intifadhah dan mengeksploitasinya secara politis. Setahun sesudah dimulainya gerakan Intifadhah Pertama, tahun 1988, PLO di bawah Yaser Arafat mengakui secara resmi keberadaan negara zionis.
Walaupun di tengah kompromi dan tekanan internasional, pemerintah zionis di bawah kepemimpinan Yitzhak Shamir (1989-1992) menolak mengakui PLO atau pun terlibat dalam pembicaraan damai dengan perwakilan Palestina. Merasa frustrasi atas kekeraskepalaan zionis, Menteri Luar Negeri AS ketika itu, James Baker membacakan nomor telepon Gedung Putih pada sebuah kongres. Ia lalu mengatakan kepada Shamir yang tidak hadir dalam kongres itu, “Kalau anda serius tentang perdamaian, hubungi kami.”
KONFERENSI MADRID
Setelah pemerintahan George H.W. Bush (ayah dari George Bush) mengeluarkan ‘ancaman’ akan menahan pinjaman sebesar US$10 juta jika zionis tidak menghentikan pembangunan permukiman ilegal Yahudi, Perdana Menteri Shamir akhirnya mau menemui perwakilan Palestina, terkecuali pejabat PLO. Padahal ketika itu PLO adalah satu-satunya perwakilan rakyat Palestina yang sudah diakui oleh PBB dan masyarakat internasional. Pembicaraan dengan perwakilan Palestina ini berlangsung di Madrid pada 1991.
Tak lama setelahnya, dalam upaya memotong perwakilan Palestina yang dikirim ke Madrid, pemerintah zionis secara diam-diam melakukan negosiasi dengan PLO yang secara politik mulai melemah akibat invasi zionis di Lebanon tahun 1982 dan dukungan Arafat terhadap Irak selama Perang Teluk Pertama.
OSLO
Setelah selama 6 tahun semakin terdesak oleh kebangkitan rakyat Intifadhah, tahun 1993, PLO dan pemerintah zionis di bawah Perdana Menteri Yitzhak Rabin (1993-1995) bertukar surat resmi di mana Palestina secara resmi mengakui hak negara zionis ‘israel’ untuk “berada dalam perdamaian dan keamanan”. Sebagai balasannya, zionis ‘israel’ mengakui PLO sebagai perwakilan rakyat Palestina yang sah. Namun zionis tidak menyebutkan, mengakui atau pun menerima kemerdekaan Palestina di atas wilayah jajahan ‘Israel’.
Pertukaran surat ini membuka jalan bagi serangkaian kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Kesepakatan Oslo. Pada September 1993, Rabin dan Arafat menandatangani Deklarasi Prinsip-Prinsip di halaman Gedung Putih, disaksikan Presiden AS ketika itu Bill Clinton. Dari kesepakatan itu lalu terciptalah Otoritas Nasional Palestina (PNA atau PA) yang dipimpin oleh Arafat.

Yitzhak Rabin (kiri), Bill Clinton, Yaser Arafat di halaman Gedung Putih seusai penandatanganan Oslo Agreement. foto: Agency
Kesepakatan Oslo seharusnya menjadi sebuah persetujuan sementara yang mengarah pada perjanjian perdamaian final dalam waktu lima tahun. Namun pemerintah ‘Israel’ di bawah Rabin (1992-1995) dan perdana menteri berikutnya tidak berniat membuka jalan untuk pembentukan negara Palestina yang berdaulat di atas wilayah pendudukan ‘Israel’.
Meski Rabin secara terbuka setuju untuk menahan perluasan permukiman ilegal Yahudi, nyatanya zionis tetap membangun rumah-rumah khusus untuk Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki. Pejabat-pejabat zionis juga menolak menyetujui ketentuan-ketentuan dalam perjanjian Oslo yang secara eksplisit meminta kemerdekaan Palestina.
Zionis juga menolak sebutan presiden untuk pemimpin Otoritas Nasional Palestina. Pada beberapa tahun ke depan sebutan presiden ini perlahan menjadi sering dipakai oleh kalangan jurnalis dan yang lainnya, meski zionis tetap menolak.
Selama periode Kesepakatan Oslo (1993-2000), zionis mulai memberlakukan banyak pembatasan bagi pergerakan rakyat Palestina di wilayah ‘Israel’, wilayah-wilayah jajahannya, Tepi Barat dan Gaza. Pembatasan ini merupakan bagian dari kebijakan untuk memisahkan warga Palestina dan ‘Israel’ juga memisahkan Tepi Barat dari Gaza yang seharusnya menjadi satu wilayah, seperti yang disebutkan dalam Kesepakatan Oslo.
Zionis juga secara cepat memperluas permukiman ilegal Yahudi. Antara tahun 1993 dan 2000, jumlah pemukim ilegal Yahudi di wilayah Tepi Barat yang diduduki (terkecuali Yerusalem Timur) naik dari 110.900 orang menjadi 190.206 orang. Jumlah akurat permukiman ilegal Yahudi di Yerusalem Timur yang sebagian besar dibangun sebelum 1993 sulit untuk diketahui, namun menurut LSM HAM ‘Israel’, B’Tselem, pada tahun 2000 jumlah pemukim Yahudi di Yerusalem Timur mencapai 167.000 lebih orang.
Permukiman Yahudi yang jelas-jelas ilegal berdasarkan hukum internasional ini membuat wilayah pendudukan terbagi-bagi menjadi sejumlah wilayah. Akibat pembagian ini, rakyat Palestina menjadi saling terisolasi antara satu dengan yang lain dan mereka pun terisolasi dari dunia luar. Sementara pemukiman-pemukiman ilegal Yahudi bisa saling terkoneksi karena zionis membangun jalan-jalan yang sebagian besar hanya boleh dipakai orang ‘Israel’. Sekarang, hampir 20 tahun setelah Kesepakatan Oslo, terdapat lebih dari setengah juta pemukim ilegal Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Pada bulan September 2000, di tengah rakyat Palestina yang semakin marah pada negosiasi-negosiasi tanpa hasil, perlawanan kembali terjadi. Ini dipicu oleh kunjungan provokatif pemimpin oposisi zionis Ariel Sharon ke dalam masjid suci di Yerusalem Timur.
Pada bulan Juli 2010, sebuah video yang tersebar luas menunjukkan Benjamin Netanyahu sedang berbicara ke sekelompok pemukim ilegal Yahudi tahun 2001 yang ketika itu ia berada dalam posisi oposisi.
Netanyahu membual, bahwa ia telah menyabotase proses perdamaian Oslo selama periode pertamanya menjabat perdana menteri (1996-1999). Ia mengatakan, “Saya secara de facto mengakhiri Kesepakatan Oslo. Amerika adalah sesuatu yang dapat dengan mudah Anda kendalikan.” Dalam video itu, ia juga mengatakan kepada para pemukim haram Yahudi bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi rakyat Palestina adalah dengan, “Memukuli mereka. Bukan sekali tetapi berkali-kali sehingga mereka terluka parah dan tidak bisa bertahan.”

Syeikh Ahmad Yasin foto: Al-Moltaqa
Catatan Sahabat Al-Aqsha:
Intifadhah sesungguhnya merupakan buah dari perjuangan para ulama Palestina seperti Syeikh Ahmad Yasin. Sejak tahun 1967, sesudah Masjidil Aqsha secara resmi lepas dari tangan umat Islam, dijajah zionis Yahud, para ulama mujahidin Palestina sadar bahwa kemenangan tak bisa mereka raih lewat perjuangan yang semata-mata ingin memerdekakan “tanah air dan bangsa”.
Urusan Palestina dan Masjidil Aqsha adalah urusan Allah. Urusan Al-Islam. Karenanya hanya bisa dimenangkan dengan pertolongan Allah dan kemenangan dari Allah. Intifadhah bangkitnya gelombang keberanian rakyat yang masif itu merupakan hasil tarbiyah, pendidikan tauhid yang mengajak seluruh rakyat Palestine bertaubat. Kembali kepada Allah dan menggariskan jalan perjuangan dengan Islam dan untuk menegakkan Islam.
Hanya dengan begitulah kita menyaksikan, sejak Intifadhah 1987 kemenangan demi kemenangan baik di bidang militer maupun politik mulai diraih. Keberkahan perjuangan semakin terasa.
Tahun 2005 Jalur Gaza menjadi tanah Palestina pertama yang berhasil dibersihkan sama sekali dari pasukan tentara zionis.
Tahun 2007-sampai sekarang Jalur Gaza dikepung dari darat, laut, dan udara oleh zionis ‘Israel’ namun sudah 5 tahun tak kunjung berhasil ditaklukkan oleh kekuatan militer terbesar di Timur Tengah yang didukung Amerika Serikat, Inggris dan Prancis itu.
Tahun 2008-2009 zionis melancarkan gelombang serangan Operasi Timah Panas selama 22 hari dan malam dengan persenjataan berat terbaiknya. Gagal total menaklukkan Jalur Gaza.
Akhir tahun 2011 zionis terpaksa memenuhi tuntutan para pejuang, menukar kebebasan seorang kopralnya Ghilad Shalit dengan bebasnya 1.027 orang tawanan Palestina dari penjara-penjara zionis. Itu sesudah Shalit diculik dan disekap selama 5 tahun.
Tahun 2012 bulan Nopember lalu kembali zionis melancarkan Operasi Pilar Awan selama 7 hari dan malam juga dengan persenjataan berat. Gagal lagi.
Insya Allah, kegagalan demi kegagalan zionis akan membuahkan kemenangan, yang ujungnya ialah kembalinya Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam, dan bebasnya seluruh tanah suci Palestina dari penjajahan. Amiin.
Intifadhah belum selesai, sampai kita sujud di hadapan Allah, di halaman Masjidil Aqsha dalam keadaan merdeka!* (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
