Trauma Perang Hentikan Pertumbuhan Anak Ini Selama Empat Tahun

8 January 2013, 06:45.

Empat tahun lalu, lewat Operation Cast Lead, zionis ‘Israel’ bunuh lebih dari 400 anak dan lukai 860 lainnya. foto: Electronic Intifada

JAKARTA, Selasa (Electronic Intifada | SahabatAlAqsha.com):

oleh Rami Almeghari

Hampir empat tahun sejak Sama Abu Meghasib menyaksikan pembunuhan pamannya, Omar. Pada 9 Januari 2009, rumah keluarganya di Abuelaljeen, sebuah wilayah pedesaan di Jalur Gaza Tengah dibombardir penjajah zionis ‘Israel’.

Omar yang baru berusia 18 tahun mati syahid dalam serangan itu. Ketika itu, Sama baru berusia lima tahun. “Ia melihat Omar dalam keadaan berdarah-darah,” ujar ibunya, Madeline, kepada Electronic Intifada (EI). Madeline bercerita, sebuah pesawat tempur zionis terbang rendah di atas kepala mereka ketika ia berusaha melarikan Sama dan dua saudaranya dari lokasi kejadian.

“Saya bertanya-tanya bagaimana saya harus berlari dengan anak-anak ini sementara pesawat tempur ‘Israel’ terus melepaskan tembakan ke dekat kami. Ada pilar-pilar asap putih besar di belakang kami,” tuturnya. Sekitar sepuluh bulan setelah serangan tiga minggu zionis di Jalur Gaza pada akhir 2008 sampai awal 2009 (operasi Cast Lead), Madeline menyadari gadis kecilnya menderita beberapa kelumpuhan di tangan dan kakinya. Awalnya ia dibawa ke klinik lokal lalu dipindahkan ke rumah sakit anak al-Nasser. Di rumah sakit itu, Sama sempat koma.

Kementerian Kesehatan Gaza kemudian merekomendasi Sama ke rumah sakit anak Schneider di Petach Tikva, dekat Tel Aviv. Berdasarkan sebuah pernyataan yang ditandatangani oleh dokter spesialis di Gaza, kemungkinan besar Sama terkena penyakit otak (ADEM/ ensefalomielitis diseminata akut).

Madeline yakin kalau penyakit Sama itu disebabkan oleh asap putih yang waktu itu dilihatnya. Sudah bukan rahasia kalau zionis menggunakan fosfor putih—zat yang dianggap sangat beracun oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, saat serangan 2008-2009 di Gaza. Madeline sendiri menjadi asma setelah serangan tersebut.

Ia mengatakan, seorang dokter di rumah sakit Schneider juga menduga kalau kondisi Sama disebabkan oleh fosfor putih. Selama dua pekan dirawat di rumah sakit Scheider, kondisi Sama membaik. Ia kembali sadar dan dapat berjalan lagi. “Kepulangannya ke rumah adalah momen yang luar biasa,” ujar Madeline.

Meski begitu, dampak serangan Zionis tetap terasa. Perkembangan Sama terlambat. Saat ini di usianya yang ke sembilan tahun, Sama terlihat lebih muda dibandingkan usianya. “Sama tidak lagi sekolah karena perilakunya tidak terkendali. Awalnya, setelah ia dirawat di rumah sakit ‘Israel’, ia sempat kembali ke sekolah selama dua bulan,” imbuh Madeline.

Namun, sambungnya, sikap hiperaktif Sama semakin menjadi-jadi dan ia tidak bisa berkonsentrasi. “Ia juga bicara dengan sangat lambat seperti anak usia dua tahun. Menurut dokternya, Sama membutuhkan perhatian terus menerus. Kami harus mengamatinya terus. Kadang ia keluar rumah dan masuk ke rumah tetangga-tetangga kami,” paparnya.

Hussam, nenek Sama yang pernah menjadi suster mengatakan, “Kadang Sama mendatangi saya dan mulai mengacak-acak kamar saya. Ia mengambili semua obat yang dilihatnya. Cucu saya yang malang itu membutuhkan banyak dukungan dan terapi mental.”

Ketika berbicara dengan Electronic Intifada, Sama terus tersenyum lebar. Ia mengatakan “Sisi Sisi”—sebuah permainan tepuk tangan yang sering dimainkan anak-anak kecil sebagai permainan favoritnya. Ketika ditanya apakah ia pernah mengunjungi kebun binatang baru-baru ini, ia menjawab, “Ya… bersama ibu dan nenek saya”. Namun menurut Madeline kunjungan mereka ke kebun binatang itu terjadi lima tahun yang lalu, sebelum Sama dirawat.

Serangan tiga pekan Zionis di Jalur Gaza berdampak sangat buruk bagi penduduk Gaza. Dalam serangan itu, 533 anak dilaporkan tewas dan 860 anak menderita luka-luka. Enam bulan setelah serangan biadab itu, Institut Masyarakat dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Birzeit, Tepi Barat mempublikasikan sebuah temuan atas surveinya terhadap lebih dari 3.000 keluarga di Gaza.

Survei itu menemukan bahwa sepertiga keluarga yang disurvei mengatakan, sedikitnya seorang anggota keluarga mereka mengalami trauma akibat serangan Zionis. Sekitar separuh dari seluruh responden mengungkapkan, sedikitnya seorang dari anggota keluarga mereka menderita insomnia, mimpi buruk dan takut pada gelap. Pada November 2012, penjajah zionis kembali menyerang Gaza. Dan lagi, anak-anak Gaza menjadi korbannya.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tawanan Palestina Dilarang Terima Pakaian Musim Dingin
Gaza Kekurangan 600 Lebih Jenis Obat-Obatan »