Bab Al-Shams, Jenis Baru Perlawanan Terhadap Penjajah: Sebuah Kronologi
15 January 2013, 08:21.
-

Sebagian relawan dan warga yang paling awal datang, menegakkan solat Jum’at di atas tanah itu untuk pertama kalinya sejak 64 tahun yang lalu. Mereka mendirikan tanah itu sebagai simbol berdirinya sebuah desa baru bernama Bab Al-Shams, Pintu Matahari. foto: Sahabat Al-Aqsha
JAKARTA, Selasa (SahabatAlAqsha.com):
Jum’at, 11 Januari 2012
Untuk Pertama Kalinya Sejak An-Nakbah 1948, Solat Jumat Ditegakkan di Sini
Hari ini sejarah baru dipahat dengan pertolongan Allah. Kalau sejak 64 tahun yang lalu desa-desa Palestina dibumihanguskan oleh zionis ‘Israel’, di hari yang penuh berkah ini berdiri sebuah desa di kawasan E1, bagian dari Al-Quds atau Yerusalem Timur yang sejak dijajahnya Palestina merupakan tanah kosong melompong.
Dengan izin Allah, sekitar 200 orang warga Palestina dan para relawan dari berbagai negara yang menyebut dirinya Perlawanan Rakyat Palestina (Palestinian Popular Resistance) sejak pagi tadi waktu setempat mendirikan tenda-tenda sebagai persiapan dibangunnya sebuah desa Palestina baru bernama Bab Al-Sham (Pintu Syam; Pintu Matahari).
Para warga Palestina dan relawan internasional itu menyabung nyawa, karena kawasan itu merupakan kawasan panas yang 100% dikuasi penjajah zionis ‘Israel’. Mereka memasuki wilayah itu dari kota Al-Quds maupun dari Ma’ali Adumim. Saat berita ini ditulis mereka sudah mendirikan lebih dari 30 tenda.
Para relawan menjelaskan kepada PNN (Palestine News Network) bahwa mereka menyerbut Area E1 untuk menjawab rencana-rencana perluasan pemukiman Yahudi yang diumumkan oleh Perdana Menteri Zionis ‘Israel’ Benjamin Netanyahu, yang akan menghancurkan semua peluang untuk berdirinya sebuah negara Palestina merdeka.
Para relawan menyatakan bahwa rencana-rencana Netanyahu atas area E1 merupakan pencurian. Mereka meyakini bahwa langkah Netanyahu itu merupakan bagian dari kampanye pemilihan umum.

Seorang pria Badui mengamati ratusan relawan dan warga Palestina yang terus berdatangan. foto: HDNux
Para relawan menyatakan akan melakukan segala upaya mendirikan desa baru itu, apapun yang terjadi. Pendirian tenda-tenda itu, menurut para relawan, adalah cara mereka melawan langkah apapun dari ‘Israel’ yang hendak membangun pemukiman.
Para relawan ini juga menyerukan, agar seluruh elemen rakyat Palestina dan lembaga-lembaga apapun, agar mendukung rencana mereka ini, dan segera menanamkan investasinya ikut membangun desa Palestina ini.

Logo resmi desa Bab Al-Shams. foto: IMEMC
Sabtu, 12 Januari 2013
Zionis ‘Israel’ Berusaha Hancurkan desa Baru Palestina
Polisi Zionis ‘Israel’ mulai mendekat, berjaga-jaga di sekitar Bab Al-Shams (Gerbang Matahari), desa Palestina yang baru didirikan. Mereka mengancam para relawan di desa itu bahwa militer ‘Israel’ akan menghancurkan Bab Al-Shams. Alasannya lokasi tersebut adalah pos militer.
IMEMC (International Middle East Media Center) melaporkan, sejumlah relawan di Bab Al-Shams menyerukan kepada para wartawan, kelompok-kelompok HAM dan siapa pun yang yakin pada hak legitimasi Palestina untuk bergabung bersama mereka melawan ancaman penghancuran zionis ‘Israel’.
Mereka menegaskan bahwa desa itu dibangun di atas tanah Palestina yang berlokasi di antara perbatasan negara Palestina yang diduduki.
Militer Zionis mengklaim area itu sebagai zona militer tertutup dan melarang wartawan, relawan lokal dan internasional untuk memasuki Bab Al-Shams.
Para relawan lokal yang hendak memasuki desa itu harus melewati pegunungan yang mengelilingnya karena pihak militer dan polisi ‘Israel’ memasang puluhan barikade jalan di sekitar wilayah desa itu.
Bab Al-Shams dibangun di atas tanah Palestina yang dimiliki oleh kota Palestina, At-Tour di Al-Quds atau Yerusalem Timur yang dijajah.
Penjajah zionis menyebut daerah itu sebagai E1 dimana ‘Israel’ berencana membangun puluhan rumah ilegal untuk orang-orang Yahudi. Desa itu berada di antara Yerusalem Timur dan blok permukiman ilegal Yahudi, Ma’ali Adumim.

Para relawan bergotong royong memindahkan sebuah tenda di desa Bab Al-Shams. Seorang relawan berkata, “Persatuan tidak bisa direncanakan, dia terjadi begitu saja.” Maha Benar Allah, persatuan hati adalah urusan Allah. Kita bisa mengusahakannya hanya dengan bersama-sama mendekat kepada Allah dengan iman dan amal. foto: Ottawa Citizen
Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan pada halaman Facebook Bab Al-Shams disebutkan:
“Kami, putra putri Palestina dari seluruh negeri mengumumkan pembangunan desa Bab Al-Shams. Kami, tanpa izin penjajah ‘Israel’, tanpa izin siapa pun, duduk di sini karena ini adalah tanah kami dan kami berhak untuk menghuninya.
Beberapa bulan lalu, pemerintah Zionis mengumumkan rencana mereka untuk membangun sekitar 4.000 unit rumah ilegal di area E1. Blok E1 memiliki luas sekitar 13 kilometer persegi yang mengenai tanah Palestina yang dicuri di antara Yerusalem Timur dan permukiman ilegal Yahudi, Ma’ali Adumim.
Kami tidak akan tinggal diam melihat perluasan permukiman ilegal Yahudi dan tanah-tanah kami yang terus dicuri. Karena itu, kami mendirikan desa Bab Al-Shams untuk menegaskan keyakinan kami. Kami menyatakan bahwa desa ini akan tetap berdiri tegak sampai para pemilik tanah Palestina mendapatkan hak untuk membangun di tanah mereka.”

Salah seorang warga Palestina menegakkan solat di atas desa Bab Al-Shams. Di tempat ini warga Badui sering diusir paksa oleh pasukan penjajah. Para relawan dan warga sepakat mendirikan desa baru ini, dan melawan rencana PM zionis Netanyahu untuk mendirikan pemukiman Yahudi ilegal di sini. foto: ActiveStills
Asal Nama Bab Al-Shams
Nama Bab Al Shams diambil dari judul sebuah novel karya penulis Libanon, Elias Khoury. Buku itu menggambarkan sejarah Palestina melalui perjalanan kisah cinta antara seorang lelaki Palestina, Younis dan istrinya, Nahila.
Diceritakan, Younis meninggalkan istrinya untuk bergabung dengan gerakan perlawatan Palestina di Libanon sementara Nahila tetap tinggal di desa Galilea. Sepanjang tahun 1950-1960an, dengan cara menyelundup lewat Lebanon, Younis bertemu dengan Nahila di gua Bab Al-Shams.
Di gua ini, Nahila melahirkan anak-anak mereka. Younis sendiri dikisahkan terus melanjutkan perjuangannya di Lebanon sementara istrinya tetap menunggu di Bab Al-Shams.
“Bab Al Shams adalah gerbang kami menuju kebebasan. Bab Al Shams adalah gerbang kami menuju Al-Quds. Bab Al Shams adalah gerbang untuk kami kembali,” lanjut pernyataan itu.

Para relawan dan warga menambah terus jumlah tenda, dan menegakkan bendera Palestina di Bab Al-Shams meski tempat itu sudah mulai dikepung pasukan penjajah zionis ‘Israel’. foto: IMEMC
Sabtu malam, 12 Januari 2013
Dibekukan Musim Dingin, Pendukung Bab Al-Shams Terus Berdatangan
Ancaman Perdana Menteri ‘Israel’, Benjamin Netanyahu untuk menghancurkan desa Bab Al-Shams yang baru didirikan sehari sebelumnya, Jumat (11/1), tidak membuat gentar rakyat Palestina, jurnalis juga para relawan lokal dan internasional. Meski harus berjalan kaki di tengah udara musim dingin yang sedang memuncak, melewati wilayah perbukitan, jumlah pendukung desa ini terus bertambah.
Sampai Sabtu malam, ratusan warga Palestina masih tetap berkemah di desa Bab Al-Shams meskipun penjajah Zionis berusaha mengusir mereka sesuai perintah Netanyahu.
Pada Sabtu pagi kemarin, puluhan warga Palestina terlihat berjalan melewati perbukitan di wilayah yang disebut ‘Israel’ E1 menuju desa Bab Al-Shams. “Jalan ke sepanjang jalan ini dan lari,” ujar seorang anggota Koordinasi Komite Pertahanan Rakyat (PSCC) kepada 38 orang warga Palestina yang tiba menggunakan bus dari Ramallah menuju Bab Al-Shams pada Sabtu pagi kemarin.
Mondoweiss menyiarkan, setelah mengarahkan para relawan itu untuk berlari menuju bukit, bus yang mereka tumpangi diparkir beberapa kilometer melewati sebuah persimpangan di wilayah E1.
Ini adalah cara sama yang digunakan para tim medis dan wartawan ketika datang ke desa Bab Al-Shams. Mereka yang ingin memasuki desa Bab Al-Shams harus berjalan kaki melewati wilayah perbukitan yang mengelilingi desa itu karena penjajah Zionis menutup semua jalan masuk di sekitar desa.
Di desa Bab Al-Shams mereka bergabung dengan lebih dari 250 aktivis Palestina yang sejak Jumat (11/1) mendirikan sekitar 25 tenda di atas lahan Al-Quds atau Yerusalem Timur yang disebut Zionis ‘Israel’ sebagai wilayah E1.

Seorang relawan menulis di akun Twitter-nya, “Polisi dan serdadu zionis ada di setiap sudut desa, tapi orang-orang terus berdatangan…” foto: Active Stills
“Polisi dan serdadu-serdadu ‘Israel’ ada di setiap sudut area Bab Al-Shams tapi orang-orang terus berdatangan,” tulis sebuah akun Twitter, @Tweet_Palestine.
Relawan Abir Kopty dalam akun Twitter-nya yang dikutip pagi ini menyebutkan pasukan Zionis dalam jumlah besar mengepung desa Bab Al-Shams dan mereka mulai menyerang para wartawan lalu menangkap salah seorang dari mereka.
Ahad dini hari, 13 Januari 2013
Pasukan Zionis ‘Israel’ Usir Ratusan Warga dan Relawan dari Desa Bab Al-Shams dengan Kekerasan
Pasukan penjajah zionis sebanyak sekitar 500 orang, mengusir warga dan relawan yang berjumlah sekitar 200 orang Ahad pagi (13/1) dari Bab Al-Shams, desa baru yang didirikan di wilayah Tepi Barat yang sudah diincar penjajah Zionis sebagai wilayah perluasan permukiman ilegal Yahudi.
Maan News melaporkan, rencana yang diungkapkan Perdana Menteri ‘Israel’, Benjamin Netanyahu pada November lalu soal pembangunan permukiman ilegal Yahudi di wilayah yang disebutnya E1 itu menimbulkan protes besar.
Para diplomat Eropa khawatir rencana itu akan “menutup pintu perdamaian dengan Palestina”.
Pada hari Jumat (11/1), seratus orang lebih warga dan relawan membangun sekitar 25 unit tenda di atas lahan Palestina tersebut sebagai bentuk protes atas pembangunan permukiman ilegal Yahudi dan tanah-tanah Palestina yang terus dicuri ‘Israel’.
Pada hari berikutnya, Sabtu (12/1), Netanyahu memerintahkan pasukan penjajah dalam jumlah besar untuk menutup jalan masuk menuju Bab Al-Shams.
Sekitar pukul 02.30 dini hari pada Ahad, polisi ‘Israel’ dan penjaga perbatasan menyerbu area Bab Al-Shams dan memerintahkan semua yang ada di sana untuk pergi.
Para relawan dan warga yang menolak pergi dipukuli dengan brutal, dan dipaksa turun ke bawah bukit lalu diringkus. Mobil-mobil polisi zionis membawa mereka ke Ramallah, Tepi Barat.
“Setiap orang dievakuasi dengan hati-hati, tanpa ada yang terluka, baik para pengunjuk rasa maupun petugas,” ujar juru bicara polisi ‘Israel’, Micky Rosenfeld. Bohong. Dusta.
Komite Perlawanan Rakyat palestina menyatakan, enam orang Palestina dibawa ke rumah sakit Ramallah karena terluka selama proses evakuasi itu.
Para relawan mengecam serangan dini hari ‘Israel’ itu dan berjanji akan mendirikan lebih banyak lagi kamp protes di wilayah-wilayah yang akan dibangun permukiman ilegal Yahudi.
Selama bertahun-tahun, penjajah Zionis ‘Israel’ mengurungkan rencana pembangunan permukiman ilegal di wilayah E1. Namun setelah PBB meningkatkan status Palestina sebagai pengamat non-anggota pada akhir tahun lalu, Netanyahu kembali mengumumkan rencana pembangunan di E1. E1 termasuk wilayah yang penting karena posisinya yang berada di Tepi Barat dan sangat dekat dengan Al-Quds Timur.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)

Satu panci sop ini untuk makan sekitar 200 orang relawan dan warga Palestina yang bertahan di tengah hawa musim dingin yang memuncak. Makanan dan minuman dilarang masuk oleh tentara zionis. foto: Demotix

Hati-hati yang dipersatukan Allah dalam tawakkal dan kesabaran. foto: Demotix

Seorang warga menunjukkan surat tanahnya di atas lokasi Bab Al-Shams. foto: Demotix

Sebagian relawan terus melaporkan ke seluruh penjuru dunia dari tenda-tenda Bab Al-Shams. foto: Active Stills

Dini hari Ahad 13 Januari 2013 pasukan penjajah zionis mengusir paksa para relawan dan warga dari Bab Al-Shams. foto: RFI

Relawan Palestina diringkus di tengah dini hari yang menusuk tulang. foto: Content Image

Lawan. foto: DT

Hafez Omar, salah satu relawan yang babak belur dipukuli tentara. Jurubicara zionis: “Para relawan dan warga dievakuasi secara baik-baik.” foto: IMEMC
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
