94 Hari Berjuang dengan Lapar, Muhammad Al-Qiq Akan Bebas 21 Mei

27 February 2016, 13:10.
@qudsn

@qudsn

PALESTINA, Sabtu (Electronic Intifada): Setelah 94 hari tanpa makanan, Muhammad al-Qiq mengakhiri mogok makan yang membuatnya dalam kondisi sekarat. Wartawan berusia 33 tahun dan ayah dari dua anak itu mengakhiri aksi protes yang merupakan bagian dari upaya mencapai kesepakatan dengan penjajah Zionis untuk membebaskannya dari penahanan administratif. Berdasarkan kesepakatan, yang diumumkan kemarin (26/2) oleh Perhimpunan Tawanan Palestina, al-Qiq akan dibebaskan 21 Mei dan penahanannya tidak akan diperpanjang. Berita mengenai kesepakatan ini disambut suka cita oleh para pendukung al-Qiq.

Sementara ini, al-Qiq akan terus dirawat di rumah sakit HaEmek, alih-alih di Tepi Barat terjajah. Namun, ia akan berada dalam perawatan tim dokter Palestina dari dalam ‘Israel’. Hari-hari yang dihabiskan al-Qiq di tahanan ‘Israel’ setelah penangkapannya pada November lalu –sebelum ‘Israel’ mengeluarkan perintah penahanan administratif– akan dihitung sebagai bagian dari penahanan administratif selama enam bulan. Alhasil, ia akan dibebaskan hampir sebulan lebih awal dari waktu berakhirnya masa penahanan administratifnya.

Penahanan administratif alias penahanan tanpa dakwaan atau sidang merupakan praktik yang kerap dilakukan penjajah Zionis dan menuai kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia, serta PBB. Masa penahanan biasanya berlangsung enam bulan, tapi dapat diperpanjang tanpa batas waktu.

Kepala Perhimpunan Tawanan Palestina, Qadura Fares, mengungkapkan pada kantor berita Ma’an bahwa penahanan al-Qiq tak akan diperpanjang lagi. Menurut surat kabar Tel Aviv, Haaretz, ‘Israel’ tidak akan memperpanjang masa penahanan ‘kecuali jika bukti baru memerlukan itu.’ Syarat ini serupa dengan kesepakatan yang mengakhiri mogok makan Muhammad Allan tahun lalu. Dalam prosedur penahanan administratif ‘Israel’, para tawanan tidak pernah menunjukkan ‘bukti’ pada mereka atau memberikan peluang untuk melawan melalui proses hukum yang adil.

Saluran berita Quds menayangkan cuplikan video Al-Qiq berbicara dari tempat tidurnya di rumah sakit setelah pengumuman kesepakatan tersebut. Al-Qiq berterima kasih pada rakyat Palestina dan warga di seluruh penjuru dunia atas dukungan mereka, “Saya akan mencium tanah di kaki rakyat (Palestina).”

Kesepakatan tersebut juga membolehkan al-Qiq menerima kunjungan istri dan dua anaknya, yang sebelumnya dilarang oleh penjajah Zionis. Menurut saluran berita Quds, al-Qiq bersikeras bahwa makanan pertama yang akan ia makan adalah yang diberikan dari tangan istri sekaligus rekan sesama wartawan, Fayha Shalash.

Solidaritas dari Seluruh Dunia

Penahanan al-Qiq oleh penjajah Zionis membangkitkan aksi solidaritas dari warga Palestina dan penjuru dunia, serta mengundang kecaman dari berbagai organisasi HAM. Pada 4 Februari, Mahkamah Agung ‘Israel’ berpura-pura menangguhkan penahanan al-Qiq, sambil bersikeras ia tetap dalam penahanan di rumah sakit HaEmek di Afula, kota di sebelah utara yang kini diklaim sebagai ‘Israel’. Kelompok HAM Zionis, B’Tselem mengungkapkan bahwa penjajah Zionis menahan al-Qiq tanpa otoritas yang sah menurut hukum dan para hakim membuat-buat ‘status hukum’ baru yang hanya mitos: orang yang tidak bebas, tapi juga tidak ditahan’.

Muhammad Barakeh, pimpinan The Higher Arab Monitoring Committee, sebuah badan yang mewakili warga Palestina di ‘Israel’, menyambut baik kesepakatan itu sebagai ‘kemenangan atas para tawanan dan penjajahan’ yang menyempurnakan perjuangan al-Qiq. “Sejak awal kami bilang bahwa kami ingin melihat Muhammad al-Qiq bebas, hidup, seorang pahlawan yang bermartabat, dan itulah kini yang kita terima,” ungkap Barakeh saat konferensi pers di dekat rumah sakit tempat al-Qiq dirawat.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Larang Renovasi Rumah di Al-Khalil, Tangkap Arsitek dan Pekerjanya
Buku Anak Karya Relawan Sahabat Al-Aqsha Ini 100% Royaltinya untuk Palestina dan Suriah »