LAPORAN KHUSUS: Bila Rusak Anak Suriah, Rusaklah Ummat Manusia

18 February 2018, 20:57.
Foto: Shehab News Agency

Foto: Shehab News Agency

ISTANBUL, Ahad (Sahabat Al-Aqsha): Maret 2018 ini menandai genap tujuh tahun pertumpahan darah di Suriah – yang diawali dengan penindasan luar biasa kepada rakyat oleh rezim Al-Assad yang sudah membangun kekuasaannya selama lebih dari 40 tahun. Jumlah korban tewas yang sesungguhnya, hanyalah Allah Ta’ala yang tahu.

Pihak-pihak yang berhadapan dengan rezim Presiden Bashar Al-Assad mencoba menelusuri terus jumlah kematian bahkan sesudah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) berhenti menghitung di pertengahan tahun 2014.

Ada saatnya, terutama di tahun 2013, ketika korban tewas karena perang di kalangan rakyat demikian tingginya sehingga angka kematian per hari bisa mencapai lebih dari 200. Sebagai contoh, pada tanggal 21 Agustus 2013, rezim Assad melancarkan serangan senjata kimia ke kawasan Ghouta Syarqiyya di pinggiran Damaskus yang menyebabkan matinya sekitar 1.700 orang (termasuk 400 anak) dalam hitungan jam.

Laporan-laporan kekejaman seperti pembantaian termasuk dengan senjata tajam, penyiksaan sampai mati di pusat-pusat penahanan, pemerkosaan massal dan penculikan mengalir seperti air bah – terutama karena menjamurnya media sosial dan internet. Hingga kini. Namun, keadaan belum berubah bagi kebanyakan rakyat Suriah. Sudah lebih dari separuh dari 22 juta penduduk Suriah terpaksa berpindah dan mengungsi dari satu kota ke kota lain, dan ke negeri tetangga seperti Iraq, Yordania, Lebanon dan Turki.

Di tempat-tempat baru ini, warga Tanah Syam ini menghadapi ujian yang tak kalah beratnya daripada hujan bom dan serangan udara. Lambat laun berbagai kerusakan akibat peperangan itu meninggalkan bekas pada para Ahlusy-Syam yang sungguh saat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Ada sebuah kalimat indah tentang warga Tanah Syam yang menyadarkan kita betapa cintanya beliau kepada mereka.

“Sesungguhnya Allah telah ‘tawakkalkan’ bagiku Tanah Syam dan para penghuninya.” (Sahih, Sunan Abi Dawud)

Ali bin Sulthan Muhammad al-Qaari dalam Mirqaatul Mafaatih (syarah kitab Misykah Al-Mashaabih) menjelaskan bahwa tawakkala berarti takaffala, yaitu: menjaminkan, menetapkan, menetapkan sebagai tempat untuk tinggal dalam waktu yang tidak terhingga (hingga seterusnya), menjadikannya dekat seperti dekatnya seseorang yang memeluk seseorang ke dadanya.

Makna kalimat “innallaha tawakkala lii bisysyami wa ahlihi” juga bermakna (wa ikraaman lii fi ummatii): Ketetapan dan takdir Allah bahwa Allah akan memberikan Tanah Syam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai bentuk kemuliaan bagi beliau dan ummat beliau.

Ada pendapat lain bahwa maksud tawakkala lii dan takaffala lii adalah: (dhammana al qiyam bi asy-Syam) atau dijamin untuk bertempat tinggal di Syam, memerintah negerinya dan Allah jaga penduduknya.

Dengan demikian, arti harfiah kalimat fainnallaha tawakkala lii bisy-Syam wa ahlihi adalah “Sesungguh-sungguhnyalah telah Allah tetapkan dan jaminkan bagiku (dan juga ummatku) negeri Syam.”

Tanah Syam dan penduduknya adalah sesuatu yang demikian dekat bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam – sedekat bila beliau memeluk dan melekapkan seseorang ke dadanya. Tanah Syam adalah bagian dari kemuliaan yang Allah jaminkan kepada beliau dan ummat beliau.

Sekarang ini, sudah seabad lamanya Masjidil Aqsha dijajah dan lepas dari tangan kaum Muslimin. Sudah 70 tahun Palestina dijajah. Sudah sebelas tahun Gaza dikepung dan dicekik sampai hampir mati oleh Zionis Yahudi ‘Israel’, sudah tujuh tahun Suriah ditindas dan dijadikan ladang pembunuhan oleh rezim Bashar al-Assad dan sekutunya, terutama milisi Syiah dari Lebanon, oleh Iran dan oleh Rusia.

Penindasan di Syam ini mengingatkan kita kepada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. “Jika rusak Ahlusy-Syam maka tidak ada lagi kebaikan tertinggal dalam diri kalian (ummat manusia).” (Jami At-Tirmidhi, Bab al-Fitan)

Ada jutaan Ahlusy-Syam, yaitu para pengungsi (Muhajirin) Suriah mencoba bertahan hidup di berbagai sudut Turki. Anak-anak mereka mungkin tak lagi terteror suara bom gentong dan serangan udara, peluru dan ranjau yang dilancarkan rezim Assad dan sekutunya. Mereka mungkin tak lagi diintai oleh para snipers rezim atau penculikan dan penyiksaan.

Namun, ada bahaya dan musibah yang tak kalah besarnya yang harus anak-anak kita ini hadapi, dan musibah yang terbesar adalah terpotongnya hubungan mereka dengan Al-Quran karena kesulitan mereka mengakses pendidikan Qurani sebagaimana yang biasanya dimiliki anak-anak ahlusy-Syam.

Tanpa Al-Quran dan pendidikan Islamiyyah, anak-anak pengungsi Suriah ini menghadapi berbagai ancaman terhadap aqidah dan akhlak mereka. Bila rusak iman dan akhlak ahlusy-Syam maka tak akan ada lagi kebaikan tersisa pada ummat manusia.

Tulisan-tulisan berikut merekam sebagian kecil saja dari kehidupan para pengungsi Suriah, terutama anak-anaknya, di Istanbul dan berbagai kota lain di Turki. (Tim Sahabat Al-Aqsha)

 

INFAQ SURIAH:

Bank Syariah Mandiri

No. Rek 77 55 12345 7

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan

BNI SYARIAH

No. Rek 77 55 12345 6

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan (Suriah)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Laporan Khusus 2017 Februari - Suriah

« Serangan Roket Penjajah Zionis ke Gaza Tadi Malam Tewaskan 2 Orang
LAPORAN KHUSUS: Dari Seorang Relawan Kepada Ibu-ibu Indonesia »