Pejuang-pejuang Gaza yang Tak Bersenjata, Siap Setor Nyawa
20 April 2013, 14:26.

Pemadam kebakaran dari Direktorat Pertahanan Rakyat berusaha padamkan api akibat bom-bom yang dijatuhkan penjajah zionis 18 Nopember 2012 lalu. foto: APA
YOGYAKARTA, Sabtu (Electronic Intifada):
oleh Joe Catron, wartawan dan relawan, di Gaza
Tatkala ribuan rakyat Palestina berhamburan ke jalan-jalan di Jalur Gaza, persis setelah pengumuman gencatan senjata dengan Zionis Israel pada 21 Nopember tahun lalu, mereka menemukan banyak jalanan di kota mereka yang tergenang banjir.
Banjir itu berasal dari semprotan air para pemadam kebakaran yang berusaha meredam api dari gempuran bom beberapa jam sebelumnya. Setelah selama delapan hari area tersebut dihujani serangan darat, laut, udara oleh tentara Zionis. Para pemadam kebakaran ini adalah bagian dari Direktorat Pertahanan Rakyat Gaza.
Direktorat Pertahanan Rakyat Gaza yang merupakan bagian dari Kementerian Dalam Negeri Palestina ini memiliki peran unik. Bersama dengan Kementerian Kesehatan, Organisasi Bulan Sabit Merah, dan organisasi lainnya, Direktorat ini turut menyediakan ambulan. Meski peran utamanya untuk operasi penyelamatan dan pemadam kebakaran di jalur Gaza.
“Jika kami –atau siapa pun- berpikir hal ini semata-mata sebagai pencarian nafkah, rasanya tak mungkin akan berjalan,” kata Yousef Khaled Zahar, Direktur Direktorat Pertahanan Rakyat di Gaza.
“Tetapi karena kami percaya kepada rakyat dan negara kami. Karena kami milik rakyat, kami bekerja tanpa memikirkan bahaya. Kami fokus melayani rakyat.”
Pejabat Pun Luka-Luka
Selama delapan hari penyerangan Zionis pada Nopember tahun lalu, ambulan, tim penyelamat, dan pemadam kebakaran dari Direktorat Perhananan Rakyat bekerja tanpa henti. Kendaraan-kendaraan mereka lalu lalang dengan kecepatan tinggi di jalan-jalan yang biasanya sepi. Sirene berbunyi silih berganti.
Meski pada serangan Nopember 2012 tersebut, kantor Direktorat Perhananan Rakyat tidak ditarget langsung sebagaimana serangan pada 2008-2009. Pada 2008-2009, “Mereka menyerang kami kapan pun mereka bisa,” kata Zahar yang waktu itu baru empat bulan menjabat sebagai Direktur Pertahanan Sipil, “Mereka mengebom tanpa peringatan. Setelahnya, mereka tembaki kami. Kami menjadi sasaran tembakan ketika kami sedang bekerja. Kami pun bekerja dari jalanan, tanpa sempat dan sanggup masuk ke kantor.”
Serangan Zionis 2008-2009 membunuh 13 pekerja Direktorat Pertahanan Sipil, melukai 25 lainnya di mana 17 di antaranya luka parah. Kerugian materi yang dialami direktorat ini mencapai 2,5 juta dolar. Sepuluh pekerja unit darurat non-polisi juga terbunuh dan 25 lainnya terluka. Data ini dilaporkan oleh Pusat Hak Kemanusiaan Al-Mezan Gaza.
Zahar termasuk yang terluka, “Saya sedang bekerja di lapangan,” tuturnya. “Dalam sebuah misi, saya menyeberangi jalanan dekat Saraya –suatu kompleks keamanan yang dihujani bom oleh Zionis. Ketika itu Saraya diserang oleh delapan roket Zionis,” kata Zahar seraya menunjukkan bekas luka di kepalanya, lengan kanan dan kiri, serta kaki kirinya.
Senjata Terlarang
“Pada serangan 2008-2009, kami mendengar ada sesuatu yang aneh di langit kami,” kata Zahar. “Kami menerima kabar dari orang-orang yang terkena tembakan aneh tersebut. Ternyata, kami menemukan sesuatu yang janggal. Israel menggunakan senjata terlarang berupa fosfor putih. Apabila senjata ini mengenai tubuh, akan merusak hingga ke tulang. Ratusan orang terluka. Ketika kami mencoba menghentikan apinya dengan air, justru api semakin membesar. Kami harus menggunakan pasir untuk memadamkannya.”
Lembaga Pengawasan Hak Asasi Manusia pada Maret 2009 melaporkan senjata terlarang fosfor putih tersebut bukanlah digunakan sekali-sekali ataupun tak sengaja. “Fosfor putih itu digunakan berkali-kali di berbagai lokasi. Total rakyat Palestina yang meninggal dan terluka karena senjata ini hingga kini tak terhitung.”
Lakukan yang Terbaik
Sebagaimana institusi lainnya di Gaza, Direktorat Pertahanan Rakyat tidak pernah bisa bekerja secara ideal di bawah pengepungan zionis. Zahar mengatakan, “Kami hanya punya sedikit kendaraan. Tetapi kami tetap mampu bekerja dengan sedikit kendaraan tersebut, setidaknya pada tingkat minimal.”
Tetapi Zahar tetap optimis, Direktoratnya siap menghadapi apa pun di masa depan. “Persiapan kami sama dengan yang telah kami lakukan pascaperang terakhir. Kami punya tim. Kami punya kepercayaan pada bangsa dan negara ini. Kami akan lakukan yang terbaik untuk melindungi mereka,” tegas Zahar, yang juga adik dari Mahmoud Zahar, bekas Menlu Palestina dalam pemerintahan PM Ismail Haniyah ini.* (ARM/Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
