Mengapa Media Mesir Kampanye Hitam-kan Palestina?

24 July 2013, 17:38.
Poster Presiden Muhammad Mursi di barikade. foto: Electronic Intifada

Poster Presiden Muhammad Mursi di barikade. foto: Electronic Intifada

YOGYAKARTA, Rabu (Electronic Intifada): Kampanye media-media massa Mesir  yang terus menyudutkan Palestina, khususnya Gaza, semakin menderas. Kampanye hitam atas Palestina itu dilakukan media-media massa yang  pro-kudeta militer terhadap Presiden Muhammad Mursi. Electronic Intifada Selasa 23/7 kemarin menurunkan artikel yang mengulas sangat detail fenomena ini dengan judul “Mengapa Media Mesir Menyudutkan Palestina” yang ditulis oleh seorang peneliti dan mahasiswa doktoral yang mempelajari penyiksaan mental dan penghinaan di bawah penjajahan, Hanine Hassan.

Hassan menulis, salah satu langkah pertama yang diambil rezim militer setelah menggulingkan Mursi pada 3 Juli adalah melarang warga Palestina masuk ke Mesir melalui bandara Kairo. Hal ini membuat ribuan orang Palestina terlantar di berbagai penjuru dunia. Militer Mesir juga melarang orang-orang Palestina yang hendak kembali ke Gaza melewati penyeberangan Rafah yang merupakan satu-satunya terminal keluar masuk bagi sebagian besar warga Gaza. Tak sedikit pula yang dideportasi dari bandara Kairo.

Aksi-aksi melawan rakyat Palestina ini dibenarkan dengan rumor-rumor yang tidak pernah didukung bukti bahwa Palestina terlibat dalam persoalan Mesir, menyebabkan kekacauan dan bahkan dituduh bertanggung jawab atas penyerangan hingga mati pasukan keamanan Mesir di Semenanjung Sinai. Pada 8 Juli, seorang pembicara di Al Kahera Wal Nas TV bahkan menuduh Presiden Mursi berasal dari Palestina.

Warga Palestina di Gaza yang berjumlah hampir 1,7 juta jiwa juga dituduh menyebabkan krisis bahan bakar, makanan dan obat-obatan di Mesir. Pada 6 Juli, pembawa acara di Tahrir TV, Ahmad Moussa secara langsung menuduh Hamas telah membunuh 16 penjaga perbatasan Mesir di Sinai pada Agustus 2012. Bukti atas tuduhan ini, klaimnya, akan dikemukakan dalam konferensi pers internasional beberapa hari setelahnya. Namun lebih dari dua pekan setelahnya, tidak ada bukti yang berhasil diungkapkan. Akhirnya mereka berkelit bahwa Presiden Mursi melindungi Hamas.

Beberapa pekan sebelum kudeta militer, stasiun televisi ONtv menuduh Hamas mengirimkan 3.000 pasukan ke Mesir untuk mendukung Presiden Mursi. Klaim ini kemudian dipakai Mesir untuk membenarkan aksi penghancuran terowongan-terowongan yang berada di bawah perbatasan Jalur Gaza dengan Mesir.

‘Israel’ pun tidak mau kalah menyebarkan berita bohong tentang Palestina. The Times of Israel, misalnya, mengutip laporan dari sebuah harian yang berbasis di London, Al-Hayat yang mengatakan bahwa ‘pejabat keamanan’ Mesir mengklaim bahwa pasukan Mesir telah membunuh sekitar 200 orang bersenjata di Sinai, dimana 32 di antaranya merupakan anggota Hamas.

Mayor Jenderal Osama Askar yang merupakan komandan angkata darat ke tiga militer Mesir mengklaim pada 18 Juli lalu bahwa pasukannya menemukan 19 roket milik sayap bersenjata Hamas di daerah Kairo-Suez. Menurut dia, roket-roket ini akan dibawa ke Kairo ke membantu Ikhwanul Muslimin. Klaim Askar ini dibumbui dengan pernyataan bahwa roket-roket itu mampu menghancurkan seluruh wilayah Mesir.

Hasutan terhadap Palestina bukan baru kali ini terjadi. Hassan mengungkapkan, selama pemerintahan Presiden Gamal Abdel Nasser 1956-1970, hak-hak warga Palestina di Mesir telah disejajarkan dengan penduduk Mesir. Penggantinya, Presiden Anwar Sadat juga mengikuti langkah ini. Namun di tengah krisis ekonomi, tingkat pengangguran dan kemiskinan meningkat, Sadat mencari jalan keluar lewat Amerika. Ia juga melakukan reformasi ekonomi dan menandatangani perjanjian damai Mesir-‘israel’ pada 1979 di Washington.

Sadat menyadari bahwa dengan mengakui keberadaan rezim zionis, ia berarti melawan keinginan rakyatnya. Ia dan para pendukungnya kemudian meluncurkan kampanye anti-Palestina di Mesir. Dalam kampanye itu, rakyat Palestina kerap digambarkan sebagai pengkhianat yang tidak tahu berterima kasih karena menjual tanahnya kepada rezim zionis dan membuat Mesir terseret dalam perang. Perdana Menteri zaman Sadat, Mustafa Khalil kemudian mendeklarasikan: “Tidak ada lagi Palestina setelah hari ini”.

Kampanye anti-Palestina berlanjut ketika Hosni Mubarak menggantikan Sadat. Propaganda yang dilakukannya bertambah kencang setelah Ikhawanul Muslimin menguasai banyak kursi pada pemilihan parlemen Mesir tahun 2005 dan Hamas memenangkan Pemilu setahun setelahnya. Setelah Fatah menolak menyerahkan kekuasan kepada Hamas yang berujung pada bentrokan bersenjata tahun 2007, rezim Mubarak melihat Hamas sebagai musuh yang semakin berbahaya. Mesir pun kemudian mendorong blokade ‘israel’ di Gaza.

Setelah tahunan lamanya publik dicekoki berita miring tentang Palestina, kini warga Palestina menjadi sasaran kebencian dan penghinaan oleh banyak kalangan, seperti supir taksi, mahasiswa, polisi dan bahkan kaum intelektual yang mengaku sebagai revolusioner. Warga Palestina saat ini merasa terperangkap di tengah negara Arab. “Banyak dari mereka yang akhirnya menyembunyikan identitasnya atau mengubah aksen mereka ketika berbicara dengan orang Mesir,” sebut Hassan dalam tulisannya. (MR/ Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ramadhan Bersama Mujahid Palestina (Bagian Terakhir dari 3 Tulisan): ‘Saya Akan Buta, Maukah Jadi Istri Saya?’
Uni Eropa Desak Labelisasi Produk-Produk Pemukiman Ilegal Yahudi »