Perayaan Milad Massal ‘Bayi Tabung’ Tawanan Palestina

12 May 2015, 21:56.
Seorang wanita menggendong anak kembarnya. ‘Bayi tabung’ hasil penyelundupan sperma suami mereka dari penjara Zionis. Foto-foto: MEMO/Mohammed Asad

Seorang wanita menggendong anak kembarnya. ‘Bayi tabung’ hasil penyelundupan sperma suami mereka dari penjara Zionis. Foto-foto: MEMO/Mohammed Asad

LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Dinas Penjara Zionis menolak kunjungan suami-istri para tawanan Palestina. Maka, wanita-wanita Palestina menemukan cara baru untuk hamil.

Pada tahun 2012, Dalal al-Zebn melahirkan Mohamed al-Taher, setelah sukses melakukan inseminasi buatan. Suaminya, Ammar al-Zebn, berada di penjara Zionis sejak tahun 1998, namun spermanya dengan berhasil diselundupkan ke luar penjara. Sejak itu, sekitar 24 istri tawanan Palestina menggunakan sperma suami mereka yang diselundupkan dari penjara agar bisa mengandung anak-anak mereka. Empat orang dari mereka tinggal di Jalur Gaza dan lainnya berada di Tepi Barat. Foto-foto di bawah ini merupakan pesta milad massal yang diselenggarakan di Gaza untuk anak-anak tersebut pada Kamis (7/5) lalu.

Sampai Kapan Harus Menunggu?

Bayi tabung atau pembuahan in vitro (In Vitro Fertilization) menjadi satu-satunya cara yang bisa ditempuh istri-istri para tawanan Palestina. Hal ini dilakukan karena Zionis menjatuhi para suami dengan hukuman penjara belasan bahkan puluhan tahun. Akhirnya, para istri tak punya pilihan lain selain menggunakan cara tak biasa untuk hamil. Karena, jika harus menunggu hingga suami mereka keluar dari penjara, mereka akan menjadi terlalu tua untuk punya anak.

Sebenarnya, bukan perkara mudah menyelundupkan sperma suami mereka keluar dari penjara. Sperma selundupan itu harus melewati sejumlah pembatas keamanan dan bahkan perbatasan negara, sebelum dibekukan dan kemudian menjalani proses pembuahan sel telur lewat In Vitro Fertilization (IVF). Semuanya proses itu diburu oleh waktu karena jangka waktu hidup sperma cuma 24-48 jam.

Semuanya berawal ketika Zionis tak mengizinkan kunjungan suami-istri kepada ribuan tawanan Palestina. Maka, sebuah klinik di Tepi Barat menawarkan satu-satunya peluang untuk menjadi ibu, yakni ‘bayi tabung’. Untuk melakukan prosedur ‘bayi tabung’ ini, para istri harus mengumumkan keputusan mereka kepada seluruh keluarga, teman dan warga desa untuk menghindari prasangka atas kehamilan mereka karena suami mereka masih mendekam di dalam penjara.

Pihak keluarga kemudian mulai melakukan tugas sulit untuk mengambil sperma dan membawanya ke klinik sebelum batas waktu 24-48 jam berakhir. Prosesnya sangat sulit, beberapa wanita bahkan harus menunggu dua, tiga bahkan lima tahun sebelum mereka berhasil membawa sperma suami mereka ke klinik.

Seperti yang dialami salah satu pasien. Setelah mengumumkan keputusan untuk hamil lewat cara ini, ia harus menunggu lima tahun untuk berhasil menyelundupkan sperma ke luar penjara. Pada upaya pertama, suaminya ketahuan dan dijebloskan ke sel isolasi selama setahun. Ketika sperma suaminya berhasil diselundupkan, pasien tersebut sudah berusia di pertengahan 40-an.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Inilah yang Dialami Petani Gaza: Terancam Mati Saat Memanen
Pengadilan Zionis Perpanjang Masa Penahanan 43 Tawanan Palestina »