Enam Puluh Serdadu Zionis Akui Kejahatannya di Gaza
16 May 2015, 18:32.

Tank Zionis Merkava melaju di dekat perbatasan antara ‘Israel’ dan Jalur Gaza saat mereka kembali dari kawasan pantai Palestina yang berada di bawah kekuasaan Hamas pada 5 Agustus 2014, setelah ‘Israel’ mengumumkan bahwa seluruh pasukan menarik diri dari Jalur Gaza. Zionis menyelesaikan penarikan mundur seluruh pasukannya dari Gaza ketika gencatan senjata kemanusiaan selama 72 jam diberlakukan menyusul kuatnya tekanan global untuk mengakhiri konflik berdarah di Gaza. Foto: Thomas Coex/AFP/Getty Images
PALESTINA, Sabtu (Daily Caller News Foundation): Sekitar 60 serdadu Zionis membeberkan berbagai kejahatan yang mereka lakukan selama perang 50 hari melawan Hamas di Jalur Gaza pada musim panas 2014. Kelompok Hak Asasi Manusia Breaking the Silence merilis laporan mengenai rincian pengalaman para serdadu (anonim) yang ikut berperang sehingga menewaskan lebih dari 2.200 warga Palestina, yang mayoritas dari mereka adalah warga sipil.
Zionis mengklaim, perang bermula ketika militer Zionis membalas tembakan roket Hamas. Zionis meresponnya dengan membom dan melakukan operasi militer di Gaza. Menurut Zionis, Hamas menggunakan “perisai manusia dan menyembunyikan peluncur roket, senjata dan pejuang di sekolah, masjid dan rumah sakit,” demikian ungkap kepala biro Washington Post Yerusalem, William Booth. Pengakuan para tentara tersebut memunculkan pertanyaan mengenai “aturan main” perang yang dijalankan oleh ‘Israel’.
Seorang berpangkat sersan yang bertugas di selatan Jalur Gaza mengungkap, “Perintahnya adalah tembak langsung. Siapapun yang kau lihat, tak peduli apakah mereka bersenjata atau tidak bersenjata. Perintahnya sangat jelas. Siapapun yang kau kejar, yang kau lihat dengan matamu: bunuh. Itu perintah eksplisit.”
Perihal menembak siapapun tanpa memedulikan apapun diperkuat oleh penuturan seorang sersan dari korps infantri yang bertugas di utara Jalur Gaza. Ia menuturkan, “Kami mendengar tentang seorang lelaki tua yang berjalan ke arah sebuah rumah yang dijaga oleh pasukan berbeda; (para serdadu) tidak tahu harus berbuat apa lalu mereka menghampirinya. Lelaki ini, 70 atau 80 tahun, ternyata adalah perangkap untuk menjebak musuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jika berdasarkan protokol sangat jelas: tembak ke arah kaki. Dan jika mereka tidak pergi, tembak mati.”
Kerap menembak secara berlebihan juga diakui oleh seorang berpangkat sersan satu dari korps kendaraan lapis baja. Ia mengungkap, “Kami menembak tanpa tujuan sepanjang hari. Hamas tak tahu ada di mana – itu tidak seperti mereka berdiri di atap memegang tanda yang menyatakan, ‘Kami militan Hamas.’ Kau tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan karena kau tidak tahu apapun, naluri alamiahmu adalah takut dan menjadi ‘terlalu’ bersikap mempertahankan diri, jadi kau ‘menembak berlebihan.’”
Rasa takut berlebihan yang menghantui para serdadu Zionis diakui oleh seorang serdadu dari pasukan angkatan darat yang bertugas di selatan Jalur Gaza. “Ada sebuah pasukan yang mengidentifikasi dua sosok berjalan di sebuah kebun buah. Sang komandan meminta konfirmasi pada anggotanya, ‘Apa yang kau lihat?’ Namun, ternyata si pengintai tidak bisa melihat dengan jelas. Lalu, sang komandan mengirimkan sebuah pesawat tanpa awak untuk melihat dari atas. Pesawat melihat mereka (target) sedang berbicara dengan telepon dan berjalan. Lantas mereka mengarahkan tembakan ke arah gadis-gadis tersebut dan mereka terbunuh. Setelah mereka terbunuh, saya merasa itu omong kosong. Mereka memeriksa mayat-mayat itu, dan itu dua wanita, berusia lebih dari 30 tahun. Mayat dua wanita dan mereka tak bersenjata. Lalu, kami melanjutkan hidup. Para wanita yang terbunuh kemudian dimasukkan dalam daftar teroris. Mereka ditembak di…(tempatnya dirahasiakan-red), jadi tentu saja mereka teroris,” ujarnya.
Sikap enteng serdadu Zionis membunuh warga sipil Gaza tercermin dari pengakuan seorang sersan yang bertugas di utara Jalur Gaza, berikut ini: “Entah kami biarkan dia mati perlahan, atau kami ‘usir penderitaannya’. Akhirnya, kami ‘usir penderitaannya’. Sebuah D9 (buldozer lapis baja) datang dan menghancurkan bangunan sehingga ia mati akibat kejatuhan puing bangunan. Begitulah akhir hidupnya.” *( Daily Caller News Foundation | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
