Empat Pemuda Gaza Ditembak Zionis Saat Ngabuburit

30 June 2015, 14:22.
Serdadu Zionis tembak kaki Islam Samir Tawfiq Abu Reda (16). Foto: Ezz Zanoun

Serdadu Zionis tembak kaki Islam Samir Tawfiq Abu Reda (16). Foto: Ezz Zanoun

JALUR GAZA, Selasa (Electronic Intifada): Senin lalu (22/6), serdadu Zionis menembak empat remaja berusia 16 hingga 17 tahun di desa Khuza’a, selatan Jalur Gaza. Dua remaja tertembak di bagian kaki. Satu orang yang terluka dalam kondisi kritis.

Empat sekawan itu tengah berjalan-jalan ke ujung desa untuk menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa (ngabuburit). “Kami ke sana untuk menghabiskan waktu menjelang ifthar (berbuka puasa),” kata Muhammad Sami Abu Reda (17) kepada Electronic Intifada. Muhammad merupakan satu dari dua remaja yang luput dari tembakan pada Senin lalu. “Itu merupakan daerah yang sangat indah. Kita bisa melihat sawah dan lahan pertanian. Kami ke sana karena daerah yang biasanya tertutup itu sekarang terbuka. Zionis mengatakan kami bisa pergi ke sana,” jelasnya.

Terluka Parah

Bulan lalu, pemerintahan Hamas di Gaza mengumumkan pembukaan sebuah jalan yang melewati sepanjang buffer zone, yakni no-go area atau wilayah yang sama sekali tidak boleh dilewati warga Palestina. Buffer zone meliputi lahan yang luas di Gaza yang berbatasan dengan ‘Israel, di timur dan utara.

Berdasarkan syarat gencatan senjata Agustus lalu antara Hamas dan ‘Israel’, seharusnya ukuran buffer zone diperkecil. Dan masih belum jelas di area mana warga Palestina bisa aman berjalan-jalan, mengemudi ataupun bertani. Menurut Pusat HAM Palestina (PCHR), pada bulan Mei serdadu Zionis menembak 14 orang yang berada dekat perbatasan sehingga enam orang terluka.

Islam Samir Tawfiq Abu Reda (16) merupakan salah satu pemuda yang tertembak pada Senin lalu. Berbaring di ranjang rumah sakit, ia mengatakan pada Electronic Intifada bahwa, “Semua orang berjalan di jalanan itu karena telah diumumkan dalam tayangan berita bahwa (jalanan) itu telah dibuka (boleh dilewati-red).”

Peluru Zionis mengenai betis Islam. Meski lukanya memerlukan lebih dari selusin jahitan, ia pulih dengan baik. Namun, pemuda lainnya, Ibrahim Abu Reda, masih berada dalam perawatan intensif. Dua peluru masuk ke kaki kanannya, satu dekat pergelangan kaki dan lainnya di bawah lutut sehingga meremukkan tulang keringnya dan memutus pembuluh darah, serta arteri.

Dokter yang merawatnya, Dr. Qasim Kamel mengatakan pada Electronic Intifada ia berharap ia tidak perlu mengamputasi kaki pemuda itu. Ibrahim menjalani operasi selama enam jam di Rumah Sakit Eropa dekat Rafah, kota di selatan Gaza. Kamel berharap kaki Ibrahim akan sembuh setelah dioperasi.

Di rumah Ibrahim, orangtuanya menunjukkan pada reporter foto-foto saat anaknya mengangkat beban dan berolahraga. Ayahnya, Jamal Ahmad Abu Reda, mengatakan Ibrahim tergabung dalam klub sepak bola dan suka pergi ke gym (sasana olahraga). Ia terlihat berupaya keras tidak menangis saat menceritakan anaknya. Namun, air mata bercucuran di wajahnya. Sambil menangis, Safaa Abu Reda, ibunda Ibrahim mengatakan, “Hak saya untuk melihat anak saya berjalan.”

Ia sangat khawatir bahwa anaknya tidak akan bisa menerima perawatan memadai di Gaza dan ingin ia dipindahkan ke ‘Israel’. Para dokter mengatakan padanya bahwa kemungkinan Ibrahim akan bisa berjalan lagi sangat tipis, yakni sekitar 15 persen. Ibunda Ibrahim percaya peluangnya akan lebih tinggi jika ia bisa dirawat di ‘Israel’. “Mengapa mereka melakukan ini pada anak saya? Ia tidak memiliki senjata. Ia ada di sana hanya untuk jalan-jalan dan bersenang-senang, seperti yang lainnya,” katanya.

Ibrahim merupakan adik dari Ahmed Abu Reda (18), yang digunakan sebagai tameng manusia oleh serdadu Zionis selama lima hari saat perang musim panas lalu. Hal itu terdokumentasi saat Dewan Hak Asasi Manusia PBB baru-baru ini melakukan penyelidikan independen atas serangan ‘Israel’ ke Gaza.

Ahmed ditangkap oleh serdadu Zionis pada 23 Juli saat mencoba meninggalkan Khuza’a dengan keluarganya saat terjadi serangan darat Zionis selama 11 hari di desa tersebut.

Buffer Zone

Sebelum siapapun mencapai perbatasan Khuza’a dengan ‘Israel’, ia harus melewati lahan pertanian dan rumah kaca dimana para petani menanam tomat, melon, cabai dan timun di kapling yang dibatasi dengan semak belukar. Saat seseorang mendekati ‘Israel’, sebuah pagar yang tidak mencolok nampak. Ada menara pengawas Zionis di situ. Itu adalah perbatasan.

Sejak 2005, Zionis menggunakan buffer zone untuk mencegah para petani melewati lahan pertanian mereka dengan aman yang terletak di dalam buffer zone itu. Awalnya zona itu hanya membentang seluas 150 meter ke dalam Gaza, namun Zionis terus memperluasnya dari waktu ke waktu. Pada tahun 2010, buffer zone menjadi area seluas 300 meter yang membujur sepanjang tembok perbatasan.

Ketika wilayah tersebut seharusnya dikurangi 100 meter menyusul disepakatinya gencatan senjata, Hamdi Shaqqura, wakil direktur PCHR mengatakan pada Electronic Intifada bahwa orang-orang yang berada sejauh 500 meter dari perbatasan malah ditembak. “Tak ada jaminan dari Zionis atau masyarakat internasional bahwa warga Palestina akan memiliki akses ke tanah mereka sendiri,” katanya.

Awal tahun ini, Gisha, organisasi Zionis yang memantau kemampuan Palestina untuk bergerak bebas masuk dan keluar Gaza, mengirimkan permintaan informasi kepada militer Zionis mengenai kebijakan mereka terhadap buffer zone menyusul adanya gencatan senjata. Seperti halnya PCHR, data mereka juga menunjukkan bahwa larangan (masuk dan keluar) dilaksanakan di wilayah yang lebih luas dari yang secara resmi dideklarasikan. Hingga kini Gisha belum mendapat respon dari militer Zionis mengenai hal itu.

“Tembakan Tanpa Suara”

Di rumah sakit, Electronic Intifada bertemu dengan dua pemuda yang bersama Ibrahim dan Islam saat mereka tertembak. Muhammad Sami Abu Reda (17) mengatakan tak ada tanda-tanda serdadu Zionis berkeliaran di sekitar tempat kejadian. Para remaja itu hanya berhenti sejenak dari berjalan-jalan ketika Islam tiba-tiba jatuh ke tanah. Kemudian, Ibrahim juga jatuh. Kata Muhammad, tembakannya tanpa suara. “Tak ada tembakan peringatan,” jelas Muhammad.

Muhammad dan pemuda lainnya, Hisham Abu Mutliq (17) coba membopong teman-teman mereka, tapi Zionis terus menembak ke arah mereka. “Kami lari, tapi serdadu Zionis terus menembak,” kata Hisham. Para pemuda itu bisa menggunakan telepon genggam mereka untuk menelepon ambulans, tapi bantuan tidak tiba dalam 15 menit. Mereka yang terluka terbaring di tanah berlumuran darah.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sesudah 55 Hari Mogok Makan, Zionis Janji Bebaskan Khader Adnan
Peringati Pembantaian di Gaza, Aktivis Inggris Akan Kepung Pabrik Senjata Zionis »