Remaja Gaza Tak Bisa Punya Anak Setelah Ditembak Zionis

29 July 2015, 11:16.

GAZA, Rabu (Electronic Intifada): “Sebelum saya ditembak saya tidak pernah mengganggu atau marah pada siapapun,” kata Basel Kamal Safi dari kamp pengungsi Deir Ammar, dekat Ramallah di Tepi Barat terjajah. Ia baru berusia 17 tahun saat serdadu Zionis menembaknya dengan amunisi tajam. “Kini saya marah karena rasa sakit yang saya rasakan, terutama saat seseorang tidak sengaja menyentuh luka saya,” katanya dalam sebuah video pendek.

Baru-baru ini Lembaga Pembela Anak Internasional untuk Palestina (DCI-Palestine) mempublikasikan video yang menyoroti pengalaman anak-anak yang ditembak pasukan penjajah Zionis dengan amunisi tajam. Video kedua menampilkan Fadel Abu Odwan, remaja berusia 14 tahun di Gaza yang lukanya akan membuat ia tidak bisa memiliki anak.

Berdasarkan data dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA), pada tahun 2014 amunisi tajam yang ditembakkan para serdadu Zionis mengakibatkan 11 anak Palestina tewas di Tepi Barat terjajah. Sementara 299 anak lainnya menderita luka tembak.

Kelompok HAM ‘Israel’, B’Tselem pada bulan Juni mengecam Zionis karena terus menerus menggunakan amunisi tajam untuk membunuh dan melukai warga Palestina tak bersenjata. UU militer Zionis menyatakan bahwa amunisi tajam hanya boleh digunakan dalam kondisi dimana serdadu benar-benar berada dalam bahaya yang bisa menyebabkan kematian.

Namun B’Tselem mengungkapkan, hanya dalam tahun ini saja terdokumentasi lusinan kasus warga Palestina terluka, bahkan beberapa dari mereka terluka parah oleh amunisi tajam yang ditembakkan pasukan keamanan Zionis di wilayah Ramallah, Tepi Barat. Kelompok HAM ini menyatakan, sejumlah besar orang yang terluka dan jenis luka mengindikasikan bahwa amunisi tajam digunakan untuk melawan pendemo, bahkan saat pasukan keamanan Zionis tidak dalam kondisi bahaya yang bisa menyebabkan kematian.

DCI-Palestine juga menegaskan, bahkan di kasus-kasus berat dimana anak-anak Palestina dibunuh atau cacat seumur hidup, pelaku kejahatan jarang sekali dibawa ke pengadilan. Saat demonstrasi, pasukan penjajah bersenjata tidak memberikan alasan sah saat menembak dan membunuh. Bahkan dalam kasus lainnya, pasukan penjajah Zionis menjebak, menembak dan membunuh anak-anak Palestina tanpa alasan. Ironisnya, dalam banyak kasus pasukan penjajah juga terus menikmati kekebalan hukum.

Kisah Basel di Tepi Barat

Pada 4 Desember 2014, Basel Kamal Safi mendapati dirinya berada di tengah-tengah konfrontasi antara pasukan penjajah Zionis dan pemuda Palestina di desa Beitillu di Tepi Barat. Ketika itu pasukan penjajah menembakkan gas airmata dan amunisi tajam ke arah para pemuda. Basel terkena tembakan peluru tajam di sisi tubuh sebelah kirinya dan peluru bersarang di bagian belakangnya. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani dua operasi dan kini Basel harus menggunakan kursi roda.

Pecahan peluru menyebar ke seluruh bagian bawah perut, mematahkan tulang panggulnya dan bagian dari tulang belakangnya. Pecahan peluru yang tak bisa dikeluarkan menyebabkannya kesakitan dan ia terus bermimpi buruk. Kini ia bergantung pada anggota keluarga untuk menolongnya.

Basel tak lagi bisa membantu pekerjaan ayahnya demi menafkahi keluarga. Sejak video itu dipublikasikan pada bulan Mei, pasukan penjajah Zionis menolak izin yang diminta pihak keluarga untuk membawa anak mereka ke rumah sakit al-Maqasid di Baitul Maqdis untuk perawatan. Tak ada seorang pun serdadu yang didakwa atas kejahatan penembakan Basel.

Kisah Fadel di Gaza

“Saya berharap bisa memutar waktu dan menjadi lelaki yang sama seperti saya dulu. Mereka telah menghancurkan hidup saya,” kata Fadel Abu Odwan. Bocah 11 tahun ini ditembak di bagian selangkangan oleh serdadu Zionis yang tengah bertugas di dekat pagar perbatasan ‘Israel’-Gaza, dekat desa Shokat di selatan Gaza, pada 21 Februari 2014. “Mereka membiarkan saya di sana mengalami perdarahan selama empat jam, dengan anjing-anjing yang coba menyerang saya,” kata Fadel.

Para dokter memasukkannya ke ICU, kemudian mengoperasi Fadel untuk mengambil peluru yang bersarang di pahanya dan mengangkat testikelnya. Lebih dari satu tahun kemudian, dampak penembakan itu menghancurkan hidupnya. Ia masih terus bermimpi buruk, “Saya bermimpi anjing-anjing datang untuk menyerang dan memakan saya.” Anak-anak lainnya, kata dia, bisa berlaku kejam padanya karena luka yang ia alami.

Ibunda Fadel, Aisha, mengatakan anaknya kehilangan motivasi untuk belajar dan kerap terlibat masalah. “Ia tidak akan bisa memiliki anak,” kata Aisha. “Fadel butuh terapi, tapi saya tidak tahu dari mana bisa mendapatkannya,” lanjutnya.

Pasukan penjajah Zionis terus menembaki dan melukai para pemuda Palestina di seluruh pagar perbatasan Gaza tanpa alasan jelas. Padahal, telah disepakati gencatan senjata sejak Agustus tahun lalu.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« PBB dan Kelompok HAM Kecam Aksi Zionis Serang Masjidil Aqsha
Krisis Listrik, 90 Persen Pabrik di Gaza Terpaksa Tutup »