Bayi Palestina Terpanggang di Rumah yang Dibakar Pemukim Ilegal Yahudi

31 July 2015, 19:05.
Foto: Ma'an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

TEPI BARAT TERJAJAH, Jum’at (Al Jazeera | Ma’an News Agency): Ali Saad Dawabsheh, bayi lelaki Palestina berusia 18 bulan tewas terbakar saat pemukim Yahudi membakar rumah keluarganya di desa Duma, selatan kota Nablus, Tepi Barat terjajah. Serangan pembakaran itu juga melukai orangtua bayi dan kakak lelaki bayi tersebut yang berusia empat tahun. Demikian ungkap narasumber kepada Al Jazeera Jum’at pagi tadi (31/7). Sementara Ma’an memberitakan, selain seorang bayi tewas, pembakaran rumah juga mengakibatkan empat orang terluka.

Penduduk setempat mengungkapkan, para pemukim Yahudi memecahkan jendela dua rumah di desa Duma, kemudian melemparkan cairan yang mudah terbakar dan bom Molotov ke dalam rumah. Ali Saad Dawabsheh (18 bulan) terjebak di dalam rumah dan tewas tak lama setelah menderita luka bakar serius, kata Ghassan Daghlas, pejabat setempat yang mengamati aktivitas permukiman ilegal Yahudi di utara Tepi Barat.

Menurut Daghlas, ibu dan ayah sang bayi, Riham dan Saad, serta anak mereka Ahmad (4) juga menderita luka serius dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Menurut dokter di Rumah Sakit Rafidia Nablus, sekitar 75 persen tubuh mereka terbakar. Insiden pembakaran mengakibatkan rumah keluarga Saad habis terbakar. Selain rumah keluarga Saad, para pemukim Yahudi juga membakar sebagian rumah milik Maamoon Rashid Dawabsheh, serta menyemprotkan coretan rasis berbahasa Ibrani yang berarti “balas dendam” dan “hidup Al-Masih” di kedua rumah tersebut. Sejauh ini belum diketahui identitas empat korban luka lainnya.

Kata Daghlas, rumah-rumah yang dibakar itu terletak di dekat pintu masuk desa sehingga para pemukim ilegal Yahudi bisa cepat melarikan diri dari tempat kejadian sebelum para penduduk desa mengidentifikasi mereka. Lusinan penduduk desa Duma bergegas menyelamatkan dua keluarga korban pembakaran rumah.

Kemudian, korban yang terluka dibawa ke rumah sakit Zionis dengan menggunakan helikopter militer. Musallem Dawabsheh (23) mengatakan, “Kami melihat empat pemukim Yahudi lari. Kami coba mengejar mereka, tapi mereka melarikan diri ke dekat permukiman Maale Efrayim.” Setidaknya terdapat tiga permukiman ilegal Yahudi di dekat desa Duma.

Berlagak Mengecam

Tentara Zionis mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tengah berupaya mencari tersangka penyerangan. “Serangan terhadap warga sipil ini merupakan aksi biadab terorisme. Penyelidikan menyeluruh sedang dilakukan untuk menemukan para teroris dan membawa mereka ke pengadilan,” ungkap Letnan Kolonel Peter Lerner dalam sebuah pernyataan.

“Tentara Zionis mengutuk keras serangan tercela ini dan berupaya keras untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab atas insiden tersebut,” tambah Lerner. Tentara Zionis mengungkapkan pada Al Jazeera bahwa pasukan tambahan dikerahkan ke penjuru Tepi Barat untuk mencari tersangka, namun mereka menolak menjelaskan jumlah tentara yang dikerahkan.

Peter Lerner boleh saja berlagak peduli dan mengutuk insiden pembakaran tersebut, namun fakta berkata lain. Penyerangan yang dilakukan para pemukim Yahudi seringkali di bawah perlindungan pasukan bersenjata Zionis dan kelompok HAM menyatakan Zionis jarang sekali berupaya melindungi warga Palestina dari serangan-serangan tersebut. “Kebijakan tak tertulis Zionis sebagai jawaban atas serangan-serangan tersebut adalah toleran dan bermufakat,” ungkap kelompok HAM ‘Israel’, B’Tselem. “Para pelaku kejahatan sangat jarang diadili, dan banyak kasus tidak diselidiki sama sekali atau ditutup tanpa kesimpulan apapun.”

Sementara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) mencatat, setidaknya ada 120 serangan yang dilakukan para pemukim Yahudi di Tepi Barat sejak awal tahun 2015. Lembaga HAM ‘Israel’, Yesh Din baru-baru ini juga menerbitkan laporan yang menunjukkan bahwa lebih dari 92,6 persen pengaduan yang diajukan warga Palestina terhadap polisi Zionis berakhir tanpa ada tuntutan apapun. Artinya, para pemukim ilegal Yahudi menikmati kekebalan hukum atas kejahatan-kejahatan mereka terhadap warga Palestina.

Nabil Abu Rdeineh, juru bicara Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, pemerintah Zionis bertanggung jawab penuh atas kejahatan yang terus terjadi terkait dukungan terhadap aktivitas pembangunan permukiman ilegal Yahudi dan perlindungan terhadap para pemukim Yahudi. Ia juga menyalahkan masyarakat internasional karena memilih bersikap diam menyaksikan kejahatan Zionis terhadap warga Palestina.

Abu Rdeineh mengatakan bahwa kecaman lisan atas kejahatan-kejahatan Zionis tak lagi bisa diterima. Yang perlu dilakukan adalah mengambil langkah nyata untuk menangkap penyerang yang bertanggung jawab atas insiden tersebut, serta mengakhiri penjajahan.* (Al Jazeera | Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: Ma'an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Seorang pria berdiri di dekat coretan berbahasa Ibrani yang berarti “balas dendam”. Ia sedang melihat sebuah rumah yang dibakar oleh pemukim Yahudi di desa Duma, Tepi Barat terjajah pagi (31/7) tadi. Foto: AFP/Jaafar Ashtiyeh)

Seorang pria berdiri di dekat coretan berbahasa Ibrani yang berarti “balas dendam”. Ia sedang melihat sebuah rumah yang dibakar oleh pemukim Yahudi di desa Duma, Tepi Barat terjajah pagi (31/7) tadi. Foto: AFP/Jaafar Ashtiyeh)

Tentara Zionis menyatakan bahwa mereka tengah mencoba mencari tersangka penyerangan. Foto: EPA

Tentara Zionis menyatakan bahwa mereka tengah mencoba mencari tersangka penyerangan. Foto: EPA

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Yehuda Glick dan Kelompoknya Najisi Lagi Masjidil Aqsha
Sesudah Bakar Bayi, Penjajah Zionis Larang Muslimin Masuk Masjidil Aqsha »