Alasan “Bolot” Penjajah Zionis Soal Pelaku Pembakaran di Duma

15 September 2015, 15:39.
Penjajah Zionis menyelidiki kerusakan rumah keluarga Dawabsheh di Duma, 31 Juli lalu. Coretan di dinding yang ditinggalkan si penyerang berbunyi: “balas dendam.” Foto: Reuters

Penjajah Zionis menyelidiki kerusakan rumah keluarga Dawabsheh di Duma, 31 Juli lalu. Coretan di dinding yang ditinggalkan si penyerang berbunyi: “balas dendam.” Foto: Reuters

PALESTINA, Selasa (Mondoweiss | PIC): Enam pekan setelah para pemukim ilegal Yahudi membakar rumah warga Palestina di desa Duma, Tepi Barat terjajah yang menewaskan tiga orang –Ali Dawabsheh (18 bulan), Saad Dawabsheh (32) dan Riham Dawabsheh (27)– tak seorang pun dituntut atas kejahatan tersebut. Kini, Menteri Pertahanan Zionis Moshe Yaalon mengatakan, ia mengetahui pelaku serangan pembakaran itu, tapi menolak untuk menuntut mereka. Karena, jika dilakukan bisa mengungkap sumber intelijen penjajah Zionis.

“Kami tahu siapa di balik pembunuhan keluarga Dawabsheh, tapi kami tak akan menuntut mereka,” kata Yaalon, beberapa waktu lalu. Yaalon menyatakan, ia takut pengadilan akan “mengungkap sumber-sumber intelijen” yang menyelidiki kelompok-kelompok kriminal. “Para pelaku serangan di Duma sudah diketahui dinas keamanan Zionis dan beberapa orang sudah ‘diamankan’,” ungkap Yaalon. “Untuk sementara waktu kami tidak mengajukan tuntutan agar tidak membuka rahasia sumber-sumber kami, tapi kami akan terus berupaya untuk membawa mereka ke pengadilan.”

Anehnya, sebagian besar pemimpin di pemerintahan Zionis tidak menanggapi pernyataan Yaalon. Padahal, serangan pembakaran Duma merupakan kasus kejahatan pemukim ilegal Yahudi terhadap warga Palestina yang paling menyita perhatian publik dalam dua dekade. Meski begitu, pernyataan tersebut menyentak Joint Arab List, faksi ketiga terbesar ‘Israel’.

“Pernyataan Yaalon mengungkap sistem sikap toleran terhadap aksi teror yang dilakukan para pemukim Yahudi sehingga membenarkan pembunuhan selanjutnya. Yaalon dan sistem yang ia pimpin secara penuh bertanggung jawab atas pembunuhan kejam terhadap keluarga Dawabsheh dan teror tanpa henti yang dilakukan para pemukim Yahudi terhadap warga Palestina,” kata anggota parlemen Knesset, Aida Touma-Sliman.

Mondoweiss mengutip hasil wawancara Yaalon dengan surat kabar ‘Israel’, Walla. Kepada Walla, Yaalon mengungkapkan, “Sayangnya kami yakin bahwa para Yahudi itu melakukan serangan di Duma. Itu sebuah kelompok radikal yang ingin mencari masalah di tempat itu dan melukai banyak orang.”

Ketika “ditembak” langsung dengan pertanyaan tentang tiga ekstremis Yahudi yang dikenakan penahanan administratif (ditangkap tanpa diadili), Yaalon ragu-ragu menjawab, “Kita lihat saja nanti. Kami sudah bisa mengira siapa yang melakukan penyerangan, jadi kami akan bertindak.”

Pada 31 Juli para pelaku pembakaran melemparkan bom api ke rumah keluarga Dawabsheh saat mereka sedang tertidur. Bayi Ali Dawabsheh yang berusia 18 bulan tewas seketika. Sepekan lebih dirawat di rumah sakit, ayahanda Ali, Saad Dawabsheh, yang menderita luka bakar parah meninggal dunia. Begitu pula dengan ibunda Ali, Riham, akhirnya meninggal dunia akibat luka bakar tingkat tiga yang dideritanya. Kini, yang tersisa cuma Ahmad (4), abang bayi Ali, yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit. Saad Dawabsheh merupakan buruh bangunan yang membangun rumah-rumah di sejumlah permukiman Zionis di Tepi Barat. Riham merupakan guru matematika di sebuah sekolah khusus putri.

Terkait insiden serangan di Duma, Yaalon mengumumkan bahwa Zionis akan menahan tanpa dakwaan (penahanan administratif) mereka yang terlibat dalam serangan tersebut. Tiga tersangka masih dalam pengamanan penjajah Zionis, sementara sembilan orang yang ditangkap telah dibebaskan usai diinterogasi. Masih belum jelas apakah tiga orang yang dijatuhi ‘penahanan administratif’, yakni Meir Ettinger, Evyatar Slonim dan Mordechai Meir termasuk para tersangka yang dimaksud oleh Yaalon. Karena, sebelumnya mereka sama sekali tak dikaitkan dengan serangan pembakaran yang terjadi di Duma.

‘Israel’ Tak Masuk Akal

Pernyataan Yaalon yang enggan mengadili pelaku pembakaran rumah keluarga Dawabsheh demi melindungi identitas sumber informasi mereka membuat geram tak hanya warga Palestina, tapi juga para pengamat Zionis. Apalagi Yaalon menolak mengatakan mengapa ia pikir melindungi “identitas sumber-sumber keamanan Zionis” lebih penting ketimbang mengadili para pembunuh yang menewaskan tiga orang.

Jurnalis Zionis, Gideon Levy, yang juga dikenal sebagai pengacara hak asasi manusia, menggambarkan pernyataan Yaalon sebagai “hal teraneh yang keluar dari menteri yang aneh.” Dalam sebuah wawancara lewat telepon, Levy mengatakan, “Itu pernyataan aneh yang keluar dari menteri yang aneh.” Lebih lanjut Levy mengatakan, “Saya pikir ia tidak akan bertindak seperti itu jika para tersangkanya adalah warga Palestina. Ia akan bergerak cepat untuk mengadili mereka.”

Levy menggambarkan para pembunuh itu sebagai orang-orang sakit jiwa yang harus menjalani hukuman di rumah sakit jiwa. Ia menambahkan, sangat berbahaya membiarkan orang-orang seperti itu bebas. “Mereka bisa melakukan kejahatan baru kapan pun.”

Senada dengan Levy, pengamat Zionis lainnya, Danny Rubenstein, juga tak habis pikir dengan alasan yang dikemukakan Yaalon. “Itu alasan yang tidak dapat diterima. Pembenaran seperti itu benar-benar menghina prinsip-prinsip dasar keadilan.” Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rubenstein mengatakan, para tersangka pembunuh harus ditangkap dan diadili demi mencegah terulangnya kembali kejahatan biadab seperti itu.

Sementara itu, juru bicara Palestina dengan keras mengecam pernyataan Yaalon dan menyebut itu sebagai “bukti nyata keterlibatan pemerintah Zionis dalam kejahatan teroris yang dilakukan oleh para teroris Yahudi terhadap rakyat Palestina.” “Yaalon berhasil mengatakan bahwa para teroris Yahudi memiliki kebebasan untuk membunuh rakyat Palestina dan membakar mereka hingga mati,” kata Ahmed Tamimi, juru bicara Hamas di Al-Khalil. “Saya yakin bahwa tentara Zionis dan intelijen berkomplot dan berkolusi dengan para teroris kejam itu dalam melakukan kejahatan mengerikan.”

Tamimi menggambarkan alasan Yaalon untuk tak mengadili para tersangka pembunuhan sebagai “alasan murahan.” “Bayangkan bagaimana Yaalon akan bertindak jika warga Palestina yang menjadi pelaku kejahatan dan warga Yahudi yang menjadi korbannya. Akankah ia menunggu sebelum mengadili para tersangka?”

Menurut Tamimi, pernyataan Yaalon itu menunjukkan siapa sesungguhnya ia. Tak perlu kaget, jika melihat “catatan kejahatan” yang ia lakukan saat menjadi kepala staf militer Zionis. “Di lubuk hatinya yang terdalam Yaalon percaya bahwa rakyat Palestina bersalah dan harus dibunuh meski jika terbukti tak bersalah, dan bahwa orang Yahudi yang jelas-jelas pembunuh itu tidak bersalah meski jika terbukti bersalah.”

Muhammad Yousef, seorang profesor sains Palestina dari Bayt Lahm, menggambarkan pernyataan Yaalon sebagai alasan yang lebih buruk dari dosa. “Bayangkan bagaimana ‘Israel’ dan kalangan Zionis akan bereaksi jika seorang menteri dalam negeri Eropa membenarkan kegagalan pihaknya mengadili seorang teroris yang diduga membunuh seorang Yahudi. Lantas menyatakan bahwa mengadili tersangka akan mengungkap identitas agen polisi dan kesepakatan informasi keamanan.”

“Saya kira kalangan Yahudi di mana pun tidak akan terima, mereka akan mengutuk dan menjelek-jelekkan si menteri Eropa. ‘Israel’ juga akan meminta pemerintah menteri tersebut untuk segera memecatnya karena ia bersikap anti-Semit,” pungkas Yousef.* (Mondoweiss | PIC | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ini Hari Kedua Penjajah Zionis Serbu Masjidil Aqsha
Tiga Hari Berturut-turut, Penjajah Zionis Serang Masjidil Aqsha »