Pengunjuk Rasa Palestina Gadungan Tebar Teror
8 November 2015, 20:20.

Agen-agen Zionis menyamar sebagai warga Palestina mengacungkan senjata mereka setelah mereka menyusup ke sekelompok pemuda. Mereka tiba-tiba menyerang seorang pendemo, memukuli dan menangkapnya. Foto: Anne Paq, fotografer lepas asal Perancis dan anggota dari ActiveStills.
PALESTINA, Ahad (Electronic Intifada): Jalanan menuju pos pemeriksaan militer di Makam Rahel (Rachel’s Tomb) di Bayt Lahm telah menjadi medan konfrontasi rutin para pemuda Palestina dengan pasukan Zionis saat mereka melakukan demonstrasi setiap hari di penjuru Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak awal Oktober. Aksi-aksi protes itu dibalas militer Zionis dengan tindakan brutal.
Sekitar 26 warga Palestina tewas saat terjadi demonstrasi bulan lalu, termasuk Mutaz Zawahreh (28), yang ditembak mati serdadu Zionis saat melakukan aksi protes di Makam Rahel. Yahudi menganggap tempat itu sebagai tempat tersuci ketiga dan menjadi tempat ziarah. Sejak tahun 1996, ummat Muslim menyebut tempat itu sebagai Masjid Bilal bin Rabah. Makam Rahel terletak di sebelah utara Bayt Lahm. Pernah berkembang pesat sebagai daerah perdagangan, daerah itu kini telah benar-benar dibatasi Zionis dengan tembok dan dibentengi dengan pos-pos pemeriksaan militer. Jalan utama antara Bayt Lahm dan Baitul Maqdis diputus.
Jumat (6/11) lalu lusinan pemuda Palestina berkumpul di sana untuk melemparkan batu ke arah para serdadu Zionis yang memosisikan diri mereka di depan tembok yang menjulang di sepanjang wilayah tersebut. Asap berbahaya gas airmata yang ditembakkan militer Zionis benar-benar menutupi kamp pengungsi al-Azzeh.
Awal pekan lalu, serdadu Zionis mengancam para penduduk kamp pengungsi lainnya di wilayah tersebut: “Warga Aida, kami tentara penjajah. Kalau kalian terus melemparkan batu, kami akan menembak kalian dengan gas airmata hingga kalian mati. (Tak peduli itu) anak-anak, orang-orang dewasa dan lansia.” Sehari usai melontarkan ancaman itu, seorang bayi Palestina berusia delapan bulan meninggal dunia usai menghirup gas airmata yang ditembakkan para serdadu Zionis di desa Beit Fajjar, daerah Bayt Lahm.
Pada aksi demonstrasi Jumat (6/11) lalu, saat para serdadu Zionis menembakkan peluru baja berlapis karet dan gas airmata, tiba-tiba mata-mata Zionis yang menyamar dengan berpakaian seperti para demonstran Palestina mengacungkan pistol dan menyerang seorang pendemo. Mereka menembak dan menangkap pendemo Palestina itu.
Para tenaga medis dan jurnalis juga menjadi sasaran tembak peluru baja berlapis karet Zionis, namun tak seorang pun terluka. Setidaknya tiga warga Palestina terluka akibat tembakan serdadu Zionis. Salah seorang dari mereka mengalami luka parah karena ditembak di bagian leher sehingga ia harus menjalani operasi.
Aksi kekerasan Zionis terhadap para pendemo Palestina –dan menggunakan mata-mata yang menyamar sebagai warga sipil Palestina– menjadi hal yang lazim terjadi. Bulan lalu, lebih dari 7.000 warga Palestina menderita luka-luka dan membutuhkan perawatan medis.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Seorang pendemo Palestina melemparkan batu ke arah para serdadu Zionis yang ada di depan tembok. Foto: Anne Paq

Meski hujan lebat, para pemuda Palestina melawan pasukan penjajah Zionis setiap hari. Foto: Anne Paq

Warga Palestina menggotong demonstran yang terluka. Sejumlah pemuda terluka, termasuk tiga orang terkena tembakan saat aksi demo. Foto: Anne Paq

Seorang tenaga medis Palestina menggunakan masker gas airmata. Kebanyakan tenaga medis itu merupakan relawan. Foto: Anne Paq

Seorang nenek Palestina menderita sesak nafas akibat gas airmata di salah satu gang sempit kamp pengungsi al-Azzeh. Foto: Anne Paq
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
