Bentrokan di Tepi Barat, Penjajah Zionis Tembak 20 Warga Palestina
13 December 2015, 21:19.

Bentrokan di Bayt Lahm, 6 Oktober 2015. Foto: MaanImages/Emily Mulder
RAMALLAH, Ahad (Ma’an News Agency): Pasukan penjajah Zionis menembak dan melukai 20 warga Palestina saat terjadi demonstrasi di wilayah Palestina terjajah, kemarin (12/12). Di sebelah utara al-Bireh, Ramallah, tiga warga Palestina ditembak peluru tajam dan 16 orang lainnya ditembak peluru baja berlapis karet saat terjadi bentrokan antara pemuda Palestina dan pasukan Zionis. Warga setempat mengungkapkan pada Ma’an bahwa para mahasiswa melakukan aksi damai. Namun, tiba-tiba berubah menjadi sasaran tembak penjajah Zionis saat para demonstran mendekati pintu masuk sebelah utara al-Bireh.
Sementara itu di Qalqiliya, wilayah kota Kafr Qaddum, pasukan Zionis menembak seorang remaja Palestina (17) di bagian pahanya. Remaja yang diketahui bernama Raed Hussam itu dibawa ke RS Rafidiya untuk menjalani perawatan. Koordinator komite rakyat di kota tersebut, Murad Ishteiwi, mengatakan bahwa sejumlah penembak jitu Zionis menyebar di penjuru daerah tersebut untuk “menembak siapapun yang bergerak.”
Ishteiwi menyerukan lembaga hak asasi manusia dan institusi internasional untuk ikut campur membatasi Zionis mengerahkan pasukan berlebihan saat terjadi demonstrasi. Sejak 1 Oktober lalu, pasukan Zionis telah melukai lebih dari 11.000 warga Palestina.
Pasukan Zionis juga memberangus aksi protes penutupan pintu masuk sebelah timur desa Abud di sebelah utara Ramallah selama dua pekan berturut-turut. Warga setempat mengungkapkan pada Ma’an bahwa pasukan Zionis mulai menyegel pintu masuk pada 4 Desember ketika seorang penduduk desa, Abed al-Rahman Barghouthi, tewas usai tentara Zionis menuduh ia menikam seorang serdadu Zionis.
Penutupan pintu masuk itu membuat penduduk desa Abud –rumah bagi 3.000 warga Palestina yang sebagian besar merupakan penganut Kristen– terpaksa harus melalui jalan-jalan berbahaya agar bisa masuk dan keluar dari kota yang terisolasi itu. Kepala dewan desa, Youssef Masaa mengatakan, penutupan pintu masuk oleh pasukan Zionis menjadikan desa tersebut seperti “penjara raksasa.”
Masaa mengatakan, penutupan pintu masuk kian menambah penderitaan para mahasiswa dan pekerja di desa yang terpaksa harus menempuh jalan jauh untuk menuju universitas dan tempat-tempat kerja mereka. Penutupan seperti itu sudah menjadi hal biasa sejak gelombang perlawanan yang dimulai awal Oktober lalu mengguncang wilayah Palestina terjajah dan terus berlanjut hingga kini. Bulan lalu, wilayah Al-Khalil telah berulang kali dikunci dan daerah Tulkarem kemarin (12/12) memasuki hari ketiga blokade Zionis.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
