Gerombolan Bersenjata Zionis Culik Empat Nelayan Gaza, Rampas Perahunya

22 December 2015, 18:52.
Foto: PIC

Foto: PIC

GAZA, Selasa (PIC | PIP | Electronic Intifada): Pasukan Angkatan Laut (AL) Zionis menculik empat nelayan Palestina dan merampas dua perahu mereka di lepas pantai sebelah utara Jalur Gaza, Senin (21/12) malam. Sumber-sumber setempat mengungkapkan, kapal perang penjajah Zionis menyerang sejumlah perahu nelayan yang tengah melaut di perairan Beit Lahia, di wilayah utara Jalur Gaza.

Kemudian, pasukan AL Zionis menculik empat nelayan yang berada di atas kapal dan membawa mereka ke pelabuhan Ashdod. Kapten nelayan, Nizar Ayyasy, menyatakan bahwa nelayan yang diculik dan dirampas perahu mereka adalah Amjad Zayid dan Wisam Sultan. Dua nelayan lainnya bernama Khidir Jamal Bakr dan AIman Jamil.

Sejak kesepakatan gencatan senjata mengakhiri pemboman intensif Zionis selama 51 hari terhadap Jalur Gaza Agustus lalu, para nelayan Palestina di Gaza hanya diperbolehkan memasuki area laut dalam jarak enam mil, bahkan seringkali kurang dari enam mil. Padahal, berdasarkan Perjanjian Oslo 1993, para nelayan harus diperbolehkan melaut hingga 21 mil laut di lepas pantai. Siapapun yang mendekati garis batas akan ditangkap atau ditembak oleh pasukan AL Zionis. Zionis menerapkan batasan yang sangat ketat terhadap para nelayan Palestina.

Menurut kelompok HAM Zionis, B’Tselem, dari tahun ke tahun, militer Zionis secara bertahap mengurangi jarak yang telah ditentukan. Sebuah organisasi nirlaba dari Inggris mengungkap, pada pertengahan pertama tahun 2014 –sebelum perang pada musim panas di Gaza– pasukan AL Zionis menembak para nelayan Palestina di zona enam mil laut setidaknya 177 kali. Jumlah tersebut hampir sebanyak sepanjang tahun 2013.

Penjajah Zionis dengan kejam merusak mata pencaharian ribuan keluarga, serta ketersediaan kebutuhan dasar dan makanan yang murah di pasar, yang menghidangkan sumber nutrisi penting. Selain jumlah ikan yang ditangkap sedikit, jumlah nelayan yang bekerja di Jalur Gaza pun menurun, dan pendapatan bulanan nelayan yang tetap bekerja pun menurun drastis.

Alhasil, banyak anak nelayan yang putus sekolah. Mereka lebih memilih bekerja mengangkut karung tepung terigu dengan bayaran yang minim. Sudah menjadi hal yang lazim bahwa keluarga para nelayan harus memilih siapa dari anak-anak mereka yang bersekolah dan siapa yang bekerja untuk membantu keluarga.* (PIC | PIP | Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dituduh Lempar Batu, Remaja Palestina Dihukum 15 Tahun Penjara
Zionis Baru Kembalikan Jenazah Nenek Ini, Sesudah 45 Hari Meninggal »