Syaikh Raed Salah Tolak Negosiasi dengan Penjajah, Terutama Soal Urusan Baitul Maqdis
18 January 2017, 11:04.

Foto: Safa.ps
PALESTINA TERJAJAH, Rabu (Alray.ps | Safa.ps): Setelah bebas dari penjara Zionis Syaikh Raed Saleh mengungkapkan bahwa dirinya menolak tawaran dari Otoritas Pemerintahan Zionis untuk mengadakan pertemuan dengan PM Benyamin Netanyahu atau Menteri Dalam Negeri Aryeh Deri. Ia menolak tawaran tersebut karena tidak mau bernegosiasi dalam persoalan Baitul Maqdis. Tawaran tersebut diberikan dalam sidang terakhir, Kamis (12/1) lalu, sebelum ia bebas. Hal ini ia ungkapkan dalam acara penyambutan kebebasannya di Umm Al-Fahm.
“Telah saya sampaikan kepada penjajah ‘Israel’ beserta badan intelijen mereka bahwa persoalan Baitul Maqdis tidak akan tunduk di bawah negosiasi, karena urusan Baitul Maqdis lebih mulia ketimbang itu semua. Saya sampaikan bahwa mereka tidak berhak, dalam konteks ini, hanya bernegosiasi dengan saya, tetapi dengan Islam dan Al-Quran,” tegasnya dalam pidato yang disampaikan pada acara penyambutan di kota Umm Al-Fahm.
Ia menegaskan, penyekapan atas dirinya sama sekali tidak memperlemah dirinya, bahkan justru semakin menguatkan konsistensi dalam membela asas-asas persoalan Palestina dimana persoalan Baitul Maqdis menjadi yang paling utama. Beliau mengatakan, “Sebelum penangkapan sama-sama kita teriakkan, ‘Dengan ruh dan darah kami bela kau, wahai Aqsha.’ Dan hari ini setelah saya dibebaskan kita masih meneriakkan syiar ini. Dan syiar yang paling membuat penjajah ketakutan adalah syiar yang saya teriakkan: ‘Al-Aqsha dalam bahaya!'”
Syaikh Raed Salah juga mengirimkan pesan kepada penjajah, “Meskipun kalian terus menerus berusaha menghancurkan, ketahuilah, asas pendirian kami tidak akan bisa kalian hancurkan. Kami akan teguh berdiri dengan asas keislaman, kearaban dan kepalestinaan.”
Selama disekap kurang lebih sembilan bulan, Syaikh Raed Salah khatam membaca 80 buku, menulis empat buku, dan menggubah 23 syair perjuangan. Menurut Syaikh Raed Salah, salah satu buku yang ia tulis berbicara tentang rincian pengalaman hidupnya selama di penjara Zionis. Sedangkan 23 syair gubahannya hampir semua berbicara tentang persoalan Palestina, yakni Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha dan para tawanan di penjara zionis. Ada pula beberapa yang berisikan munajat kepada Allah Rabb semesta alam.* (Alray.ps | Safa.ps/Dul)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
