Bayi Karim Berlindung di Bawah Tanah untuk Hindari Serangan Rezim dan Pendukungnya

1 March 2018, 19:55.
Bayi Suriah, Karim –yang kehilangan satu mata akibat serangan udara rezim– dan ayahnya berlindung di bawah tanah untuk bertahan dari konflik yang terus berlangsung di Suriah. Foto: Anadolu Agency/Twitter

Bayi Suriah, Karim –yang kehilangan satu mata akibat serangan udara rezim– dan ayahnya berlindung di bawah tanah untuk bertahan dari konflik yang terus berlangsung di Suriah. Foto: Anadolu Agency/Twitter

LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Masih ingat dengan “Bayi Karim”? Bayi yang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Assad – yang kehilangan satu matanya akibat serangan udara rezim Suriah itu kini terpaksa berlindung di bawah tanah agar bisa bertahan.

Warga sipil terpaksa berlindung di bawah tanah akibat serangan udara yang dilancarkan oleh rezim Bashar al-Assad dan pendukungnya, Rusia, di Ghouta Timur yang terblokade di pinggiran kota Damaskus.

Sejak Anadolu Agency pertama kali memberitakan kisah tersebut, ribuan orang telah menyatakan dukungan untuk bayi Karim melalui kampanye daring di media sosial.

“Saya membawa Karim dan abang-abangnya ke shelter (tempat perlindungan) di bawah tanah. Karim telah tinggal di sana selama delapan hari bersama kakak-kakak lelakinya. Ada banyak orang di shelter bawah tanah itu. Tak seorang pun meninggalkannya (shelter-red) karena serangan belum juga berhenti,” kata ayah bayi Karim, Ebu Muhammed, kepada Anadolu Agency.

Ia mengatakan tak ada makanan, cahaya, listrik dan pemanas di tempat anak-anak tinggal itu. Pun, pesawat-pesawat tempur terus berkeliaran.

Menurut kelompok pertahanan sipil Suriah, White Helmets, dalam dua pekan terakhir, rezim Assad telah menargetkan 22 pusat kesehatan, sebuah masjid dan panti asuhan di Ghouta Timur. Ghouta Timur merupakan jaringan zona de-eskalasi yang didukung oleh Turki, Rusia dan Iran. Itu berarti, tidak boleh ada aksi penyerangan ke wilayah tersebut.

Sabtu lalu, Dewan Keamanan PBB sepakat mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut gencatan senjata selama 30 hari untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan. Resolusi –yang disiapkan oleh Swedia dan Kuwait itu– juga menuntut evakuasi medis terhadap 700 orang, khususnya di Ghouta Timur yang diblokade selama lima tahun terakhir. Dengan blokade, rezim Suriah melarang pengiriman makanan dan obat-obatan, serta mengabaikan ribuan pasien yang membutuhkan pengobatan.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gadis yang Harus Transplantasi Ginjal Ini Terpaksa Berobat Tanpa Orangtua ke Luar Gaza
Serdadu ‘Israel’ yang ‘Eksekusi’ Pemuda Palestina di Jalanan Akan Segera Bebas »