Setahun Krisis Rohingya: Apakah Mereka Ingin Kembali ke Myanmar?

28 August 2018, 09:01.
Foto: Al Jazeera

Foto: Al Jazeera

COX’S BAZAR, Selasa (Al Jazeera): Setahun telah berlalu sejak ratusan ribu populasi Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh akibat pembantaian kejam yang dilakukan oleh tentara Myanmar, yang digambarkan PBB sebagai “buku teks pembersihan etnis”.

Bagi banyak Muslim Rohingya –yang tak diakui Myanmar sebagai kelompok etnis dan ditolak kewarganegaraan, serta tidak mendapatkan pelayanan dari pemerintah– ini bukanlah kali pertama mereka dipaksa meninggalkan rumah-rumah mereka.

Gelombang pengungsian sebelumnya berlangsung pada tahun 1978, 1991 dan 2016.

Menurut Kelompok Koordinasi Lintas Sektor (ISCG), selama setahun terakhir terjadi arus masuk 919.000 pengungsi yang terusir dari desa-desa mereka di negara bagian Rakhine, Myanmar. Mereka tinggal di 32 kamp di sub-distrik Ukhiya dan Teknaf, atau Cox’s Bazar, bergabung dengan 300.000 Muslim Rohingya lainnya yang telah mengungsi beberapa tahun sebelumnya.

Kamp-kamp tersebut sangat padat dan kondisinya sangat kotor, dengan masalah sanitasi dan kurangnya infrastruktur dasar.

Sekitar 200.000 warga Rohingya berisiko terkena longsor selama musim hujan karena tempat-tempat penampungan yang terbuat dari kain terpal dan bambu dibangun dengan serampangan di tanah yang gembur.

November lalu, pemerintah Bangladesh dan Myanmar menandatangani kesepakatan repatriasi, yakni mereka sepakat warga Muslim Rohingya yang melarikan diri ke sepanjang perbatasan akan dikembalikan ke negara bagian Rakhine.

Akan tetapi, sedikit yang mengetahui tentang kesepakatan tersebut, dan belum ada satu pun yang kembali ke Rakhine.

Banyak dari warga Rohingya mengungkapkan ketakutan mereka kembali hanya untuk dipaksa mengungsi kembali di masa depan.

Karena alasan ini, mereka mengatakan tidak akan kembali kecuali jika tuntutan-tuntutan mereka dipenuhi, seperti Myanmar memberikan mereka kewarganegaraan, mendapatkan layanan dari pemerintah seperti pendidikan dan lapangan pekerjaan, jaminan keamanan dan keselamatan, serta perbaikan untuk semua yang telah hilang dari mereka.

Al Jazeera berbicara dengan para pengungsi yang tinggal di sejumlah kamp di Cox’s Bazar mengenai apakah mereka akan kembali ke tanah air dan pemikiran mereka mengenai kesepakatan repatriasi.

Ali Johar [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Ali Johar [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Ali Johar, 25

Ali berasal dari desa Taung Bazar di Buthidaung, ia dulu seorang pedagang makanan. Ia tiba di kamp pengungsi Jamtoli Agustus lalu bersama istri, anak lelaki dan saudara perempuannya. “Saya tidak tahu ada kesepakatan repatriasi. Akan tetapi, saya tidak akan kembali kecuali jika beberapa tuntutan dipenuhi, seperti memberikan kewarganegaraan pada warga Rohingya, Myanmar menjamin keamanan bagi kami, dan memberi kami kompensasi atas semua milik kami yang telah hilang.”

Gulsahar [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Gulsahar [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Gulsahar, 50

Ia berasal dari Taung Bazar dan kini tinggal di kamp pengungsi Jamtoli bersama suaminya, Mohammad Shafi dan lima anaknya. “Saya kehilangan saudara perempuan, keponakan-keponakan perempuan dan lelaki saya. Mereka dibunuh oleh para tentara Myanmar. Saya telah memutuskan untuk tinggal di Jamtoli hingga saya mati. Di sini, saya menerima bantuan dari lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan. Akan tetapi, bahkan jika pemerintah Bangladesh memutus bantuan, saya lebih baik mati karena kelaparan daripada kembali ke Rakhine.

“Saya memiliki tiga putri dan dua putra. Putri sulung saya berusia 20, dan ia masih belum menikah. Kami sedang mencari mempelai laki-laki.”

(Warga Rohingya cenderung menikah pada usia remaja karena mereka takut diperkosa oleh para tentara Myanmar. Menurut Gulsahar, jika wanita telah menikah, para tentara kehilangan minat).

Mahmud Yunis [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Mahmud Yunis [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Mahmud Yunis, 35

Mahmud berasal dari desa Raballah di Maungdaw. Ia anak tertua dari lima bersaudara. Ia dan adik-adiknya yang belum menikah tinggal bersama ibu mereka di Nayapara – kamp pengungsi Shalbagan di Teknaf. “Saya tidak punya tuntutan apa-apa. Saya ingin kembali ke desa saya tanpa kompensasi atau syarat apapun. Saya dulu bekerja sebagai kuli pengangkut barang. Sekarang saya tidak melakukan apa-apa.

“Setiap hari saya menghadapi banyak kesulitan hanya untuk mendapatkan makanan. Saya bergantung pada bantuan. Ada pula masalah-masalah kebersihan, seperti kurangnya toilet bersih. Saya tidak tahu banyak tentang kesepakatan repatriasi.”

Mir Ahmad [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Mir Ahmad [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Mir Ahmad, 60

Berasal dari Fukira Bazar di Maungdaw, dulu ia seorang petani dan memiliki 10 kani (1,6 hektar) tanah. Ia kini tinggal di kamp Balukhali. “Saya menikah dan memiliki dua putra dan seorang putri. Saya ingin kembali ke Rakhine jika pemerintah Myanmar memenuhi tuntutan kami, seperti kompensasi dan mengakui kami sebagai warga negara.”

“Di sini saya bisa mendapatkan makanan dan tempat berlindung. Saya merasa lebih baik di sini ketimbang di desa saya sendiri karena lebih aman. Akan tetapi, saya ingin kembali ke Fukira Bazar karena di sana saya bisa hidup dengan bermartabat.”

Hujjatul Islam [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Hujjatul Islam [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Hujjatul Islam, 12

Bocah lelaki ini berasal dari sebuah desa di Maungdaw. Kini tinggal bersama orangtuanya, dua saudara lelaki dan dua saudara perempuan di kamp Kutupalong, di blok 11 yang tidak terdaftar. “Saya sedang di tahun ketiga di sekolah ketika saya di Rakhine. Sekarang saya belajar Al-Quran di madrasah. Saya belum pernah mendengar tentang kesepakatan repatriasi.”

“Saya akan kembali jika Rohingya mendapatkan pengakuan. Kami lebih baik mati di sini jika Myanmar memaksa kami kembali tanpa menjamin kewarganegaraan kami.”

Dildar Begam [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Dildar Begam [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Dildar Begam, 35

Ia berasal dari desa Bolibazar di Maungdaw dan kini tinggal di kamp Kutupalong. “Saya memiliki sembilan anak dan suami. Butuh waktu dua hari bagi kami untuk sampai ke Cox’s Bazar. Saya melihat begitu banyak pembantaian, pemerkosaan, dan rumah-rumah yang dibakar.

“Saya belum mendengar tentang kesepakatan repatriasi. Saya hanya akan kembali jika Myanmar mengakui Rohingya. Saya merasa tidak enak di sini karena ini bukan tanah saya. Saya berterima kasih atas peran pemerintah Bangladesh dan lembaga-lembaga bantuan yang telah menolong kami, tapi saya ingin hidup dengan bermartabat kembali ke tanah saya sendiri.”

Nural Amin (kiri), 59 and Sayad Ahmad (kanan), 55 [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Nural Amin (kiri), 59 and Sayad Ahmad (kanan), 55 [Sorin Furcoi/Al Jazeera]

Nural Amin, 59 dan Sayad Ahmad, 55

Mereka adalah saudara sepupu yang berasal dari Maungdaw. Amin memiliki 10 anak dan Ahmad punya delapan anak.

Nural Amin: “Kami belum mendengar tentang kesepakatan repatriasi. Jika pemerintah kedua negara memutuskan untuk secara fisik mengembalikan kami ke Rakhine, kami memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi lebih dulu, seperti pengakuan terhadap Rohingya dan kompensasi.”

“Saya berharap kami tidak akan dipaksa kembali tanpa jaminan apapun. Kami lebih baik mati di sini di negara Muslim dan bukan di antara penganut Budha.”

“Ini adalah kali ketiga kami mengungsi. Kali pertama pada 1978 dan kedua pada 1991. Setiap kali kami kembali ke Rakhine kami menghadapi penyiksaan dan penindasan dari pemerintah.”

“Kami adalah nelayan dan petani di Myanmar. Meskipun Myanmar negara kami, tidak mungkin kami akan kembali lagi ke sana tanpa keamanan dan syarat. Bangladesh lebih damai.”* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gerombolan Serdadu Zionis Tangkap, Sita Perahu 2 Nelayan Palestina
PBB Serukan Penyelidikan Pimpinan Militer Myanmar atas Genosida Muslim Rohingya »