Persekusi Muslim Rohingya Masih Terus Berlangsung di Arakan

8 September 2018, 16:47.
Foto: AFP

Foto: AFP

ISTANBUL, Sabtu (Daily Sabah): Ribuan keluarga Muslim Rohingya yang telantar –yang masih tinggal di negara bagian Arakan, Myanmar– menghadapi kondisi yang mengancam jiwa.

Lebih dari 750.000 Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh sejak Agustus 2017. Diperkirakan 100.000 orang merupakan pengungsi internal (internally displaced people) –yakni orang-orang yang terpaksa melarikan diri dari rumahnya, tapi tetap berada di negara asalnya– yang disebabkan kekerasan sistematis oleh tentara Myanmar, yang para jenderalnya telah dituduh melakukan kejahatan perang oleh PBB.

Mayoritas Muslim di negara bagian Arakan telah melarikan diri ke kamp Ohn Taw Gyi South, Ohn Gyi North, Aung Mingalar Quarter, Montinya, Saytama Giyi, Bawdupa, Khangu Dar Ka, Mansi, Darpine dan Theat.

Para pengungsi Rohingya ini terpaksa hidup di bawah kondisi yang mengancam jiwa di desa-desa yang padat, membangun rumah-rumah kecil dengan bambu, nilon dan anyaman.

Pengawas desa Sarminya, Nurullah Hakim, menyatakan 964 keluarga di sana yang melarikan diri dari persekusi terus menerus oleh para nasionalis Budha dilanda kemiskinan dan berjuang setiap hari untuk bertahan hidup.

“Selama enam tahun, otoritas pemerintah Myanmar tidak pernah datang ke sini. Mereka memblokade kami. Mereka melarang kami keluar dari blokade sama sekali,” katanya.

“Kami tidak punya pekerjaan di sini dan kami tidak diizinkan pergi untuk mencari pekerjaan atau membangun sekolah di mana kami bisa menyekolahkan anak kami. Tidak ada klinik atau rumah sakit dimana kami yang sakit dapat memperoleh pengobatan,” tambah Hakim.

“Mereka bahkan tidak memberi kami kartu identitas. Faktanya, jika kami mengatakan bahwa kami berasal dari ‘Rohingya’ di mana pun, kami ditangkap,” katanya.

Hakim juga menyatakan, sebelumnya warga bisa menangkap ikan di sungai, tapi kini pemerintah Myanmar melarangnya. “Hingga tahun lalu kami biasa memancing di sungai. Kini mereka bahkan tidak mengizinkan itu lagi,” ungkapnya.

Hakim menyatakan, tanpa organisasi-organisasi bantuan internasional, para pengungsi Rohingya akan menghadapi tantangan ekstrem untuk bertahan. Ia mengucapkan terima kasih kepada mereka “karena tidak melupakan kami.”

Ia meminta komunitas Islam dan seluruh dunia untuk berupaya mewujudkan perdamaian.

Hanya dalam setahun, sejak Agustus 2017, sekitar 24.000 Muslim Rohingya tewas oleh tentara Myanmar.

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan akan terjadinya serangan sejak puluhan orang tewas dalam kekerasan komunal pada 2012.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk terhadap bayi dan anak-anak kecil, pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan. Dalam laporannya, para penyelidik PBB menyatakan pelanggaran-pelanggaran seperti itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Myanmar menolak kewarganegaraan Rohingya sejak 1982 dan mengecualikan mereka dari 135 kelompok etnis yang diakui secara resmi. Hal itu menjadikan mereka tidak berkewarganegaraan.

Jejak keberadaan Muslim Rohingya di Rakhine telah ada selama berabad-abad. Akan tetapi, kebanyakan orang di Myanmar yang mayoritas Budha menganggap mereka sebagai imigran Muslim yang tidak diinginkan dari Bangladesh.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Amnesti Internasional: Pengadilan ‘Israel’ ‘Setujui Kejahatan Perang’
Pemukim Ilegal Yahudi, Serdadu Zionis Bersama-sama Teror Desa Palestina »