Anak-anak Tewas Saat Rezim Suriah Bom Sekolah di Idlib

11 September 2018, 10:51.
Foto: Twitter (@HadiAlabdallah

Foto: Twitter (@HadiAlabdallah

LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Rezim Suriah memulai kembali pengeboman di selatan provinsi Idlib kemarin (10/9) pagi, yang menargetkan sebuah sekolah di kota Jarjanaz, sehingga menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil yang sebagian besar anak-anak, menurut sumber-sumber berita di lapangan.

Artileri dan pengeboman juga terjadi di kota Al-Heesh dan Al-Teh, serta Qalaat Al-Madeeq dan Al-Janabra di utara provinsi Hama sejak Ahad (9/9) sore. Rentetan serangan rudal membuat warga sipil melarikan diri lebih jauh ke utara menuju perbatasan Turki. Pengeboman yang intens menghalangi unit pertahanan sipil White Helmets dari memastikan keseluruhan jumlah korban tewas. Akan tetapi, kematian seorang bayi perempuan, Umayya Ayman Al-Riz, berhasil dikonfirmasi setelah jenazahnya dikeluarkan dari reruntuhan.

Kemarin pagi, Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan dan Pasukan Oposisi merilis sebuah pernyataan mengecam serangan terbaru, yang juga menghancurkan dua rumah sakit sehingga tak lagi bisa beroperasi.

“Rusia, Iran dan rezim Assad kini merencanakan dan mengimplementasikan rangkaian kejahatan perang baru dan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan tujuan mengusir lebih banyak warga Suriah dan menyelesaikan proyek perubahan demografis di Suriah tanpa memicu respon apa pun dari komunitas internasional dan legitimasi internasional,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Kelompok tersebut meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera bertindak melindungi rakyat Suriah dan meminta semua pihak untuk mematuhi resolusi PBB.

“Koalisi Suriah menekankan hak Free Syrian Army dan seluruh rakyat Suriah untuk membela diri mereka sendiri dengan segala cara yang sah.”

Dewan Kota Idlib mengeluarkan pernyataan serupa kemarin malam yang menyatakan komitmen mereka untuk berpihak pada warga sipil dan para pejuang oposisi melawan rezim.

Pada Jum’at lalu, sekutu rezim –Iran dan Rusia– dan pendukung oposisi, Turki, gagal mencapai kesepakatan mengenai masalah Idlib pada pertemuan tripartit di Tehran, karena Rusia kukuh menentang gencatan senjata apa pun untuk menyelamatkan warga sipil. Turki dan PBB mengungkapkan kekhawatiran bahwa serangan besar-besaran akan mengakibatkan bencana kemanusiaan yang melibatkan puluhan ribu orang.

Damaskus, telah mempersiapkan serangan besar-besaran untuk merebut kembali Idlib dan daerah-daerah yang berdekatan di barat laut. Idlib merupakan benteng utama terakhir mujahidin Suriah dari kekuasaan Presiden Bashar Al-Assad.

Rusia dan rezim Suriah menggambarkan Idlib sebagai “sarang teroris” dan “bisul bernanah” yang harus disingkirkan.

Ketika pembicaraan tripartit diselenggarakan di Tehran, ribuan warga Suriah di Idlib, Aleppo dan Hama turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa pada Jum’at lalu. Mereka berjanji meneruskan perlawanan serta mengecam agresi rezim dan sekutu-sekutunya.

Menurut White Helmets, sedikitnya 28 warga sipil tewas dan puluhan terluka akibat serangan udara dan serangan-serangan oleh pasukan rezim, serta pesawat-pesawat tempur Rusia di Idlib dan Hama sejak awal bulan ini.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rezim Assad Serang Rumah Sakit di Idlib dengan Bom Gentong
PBB: Sekitar 30.000 Orang Mengungsi dari Idlib, Suriah »