PBB: Sekitar 30.000 Orang Mengungsi dari Idlib, Suriah

11 September 2018, 17:39.
Damaskus, didukung oleh Rusia dan Iran, telah menyiapkan serangan besar-besaran untuk merebut kembali Idlib dan daerah-daerah sekitarnya di barat laut Suriah dari mujahidin. Foto: Middle East Monitor

Damaskus, didukung oleh Rusia dan Iran, telah menyiapkan serangan besar-besaran untuk merebut kembali Idlib dan daerah-daerah sekitarnya di barat laut Suriah dari mujahidin. Foto: Middle East Monitor

LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Sejauh ini lebih dari 30.000 orang telah meninggalkan rumah-rumah mereka di barat laut Suriah sejak pemerintah Suriah dan pasukan sekutu melanjutkan kembali pengeboman udara dan darat di sana pekan lalu. Hal itu diungkapkan badan PBB yang mengoordinasi bantuan, kemarin (10/9).

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan, serangan militer besar-besaran di benteng utama terakhir mujahidin itu bisa membuat 800.000 orang mengungsi. Ketua OCHA Mark Lowcock memperingatkan bahwa ini berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan terburuk di abad 21.

Damaskus, yang didukung oleh Rusia dan Iran, telah menyiapkan serangan besar-besaran untuk merebut kembali Idlib dan daerah-daerah sekitarnya di barat laut Suriah dari mujahidin.

Pesawat-pesawat tempur Rusia dan Suriah melanjutkan kembali operasi pengeboman mereka pekan lalu dan presiden Turki, Iran serta Rusia pada Jum’at lalu gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata yang akan mencegah serangan.

Juru bicara OCHA David Swanson mengatakan pada Reuters bahwa sejak Ahad (9/9) sekitar 30.542 orang telah mengungsi dari barat laut Suriah, ke berbagai daerah di seluruh Idlib.

Sekitar 2,9 juta orang tinggal di daerah yang dikuasai mujahidin ini, yang meliputi sebagian besar provinsi Idlib dan bagian-bagian kecil yang berdekatan dengan Latakia, Hama dan Aleppo. Sekitar separuh dari mereka adalah Muhajirin dari bagian-bagian lain Suriah.

Hijrah lagi

“Kami sangat aktif mempersiapkan kemungkinan bahwa warga sipil mengungsi dalam jumlah besar di berbagai arah,” ungkap ketua OCHA, Lowcock, dalam konferensi pers di Jenewa.

“Perlu ada cara untuk mengatasi masalah ini sehingga dalam beberapa bulan ke depan Idlib tidak berubah menjadi bencana kemanusiaan terburuk dengan korban jiwa terbesar pada abad ke-21,” ujarnya.

Juru bicara OCHA David Swanson menyatakan bahwa sejak pertemuan Jum’at lalu, serangan mortir dan roket meningkat, khususnya di pedesaan Hama utara dan daerah-daerah pedalaman Idlib selatan.

Ia menyatakan 47 persen dari mereka yang mengungsi telah pindah ke kamp-kamp, 29 persen tinggal dengan keluarga, 14 persen telah menetap di kamp-kamp informal dan 10 persen di akomodasi sewaan.

Abu al-Baraa al-Hamawi, pemimpin mujahidin di Hama utara, menyatakan sekitar 95 persen orang telah meninggalkan sejumlah desa di utara dan barat provinsi Hama, serta di selatan provinsi Idlib dalam tiga hari terakhir akibat serangan udara intensif.

Lebih dari setengah juta orang tewas dan 11 juta orang telah meninggalkan rumah-rumah mereka akibat tujuh tahun perang di Suriah.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Anak-anak Tewas Saat Rezim Suriah Bom Sekolah di Idlib
Gerombolan Serdadu Zionis Serang Siswa di Sekolah dengan Bom Gas Airmata, Granat Kejut »