Wanita Palestina Alami Penyiksaan di Penjara ‘Israel’

10 October 2018, 14:43.
Foto: Arsip Anadolu Agency

Foto: Arsip Anadolu Agency

RAMALLAH, Rabu (Anadolu Agency): Tak hanya terpisah dari anak-anak mereka, wanita-wanita Palestina juga mengalami penyiksaan di penjara-penjara ‘Israel’. Hal itu diungkapkan Asosiasi Dukungan dan HAM Tawanan, Addameer. Dalam laporan terbarunya, Addameer mengungkapkan otoritas ‘Israel’ menawan 51 wanita, termasuk sembilan wanita yang cedera dan dua anak di bawah umur.

Menurut Addameer, penjajah Zionis menawan 516 wanita sejak 2015, sekitar 90 dari mereka ditangkap sejak awal tahun ini. Bulan lalu, wartawan wanita Palestina Lama Khater ditangkap setelah gerombolan serdadu Zionis menggerebek rumahnya di kota Al-Khalil, Tepi Barat terjajah. “Puluhan serdadu Zionis mengepung dan menggerebek rumah kami sebelum menangkapnya di depan anak kami,” kata suami Khater, Hazem Fakhori, kepada Anadolu Agency.

Ibu dari lima anak, Khater adalah aktivis Palestina, yang menulis serangkaian artikel di sejumlah surat kabar harian Palestina.

“Kami kehilangan bagian terbesar (dalam hidup) sejak ia ditawan,” kata Fakhori. “Kami sangat merindukannya; ia tidak hanya ibu dari anak-anak kami, tapi juga sahabat.”

Fakhori menuding para serdadu Zionis menyiksa istrinya. Ia mengatakan bahwa para serdadu Zionis terus meneriaki istrinya selama penahanan. “Ia beberapa kali dibawa ke dokter, yang hanya memberinya obat penghilang rasa sakit sebelum mengirimnya kembali untuk interogasi,” ujarnya.

“Tempat Lama adalah di tengah-tengah keluarga dan anak-anaknya yang membutuhkan, serta merindukannya,” kata Fakhori, menyebut nama depan istrinya.

Setelah 34 hari menjalani interogasi, Khater dijebloskan ke penjara sambil menunggu persidangannya, yang diselenggarakan pada 10 Oktober.

Menurut Addameer, penjajah Zionis telah menangkap 10.000 wanita Palestina sejak perang Timur Tengah 1967.

Ada sekitar 6.500 warga Palestina yang kini menderita di penjara-penjara di penjuru ‘Israel’.

Penyiksaan

Kisah menyakitkan lainnya adalah kasus Israa Jaabis, seorang wanita Palestina yang mengalami luka bakar tingkat pertama dan ketiga pada 60 persen tubuhnya akibat mobilnya meledak di dekat pos pemeriksaan ‘Israel’ dan kini menderita di penjara Hasharon.

“Jaabis harus segera menjalani operasi plastik pada tangan, wajah, telinga, dan giginya,” kata Ra’afat Hamdoneh, ketua Pusat Studi Tawanan Palestina.

Jaabis ditangkap oleh serdadu Zionis pada Oktober 2015 ketika mobilnya meledak akibat ledakan sebuah tabung gas memasak yang sedang diangkutnya sehingga mengakibatkan ia mengalami luka bakar parah.

Penjajah Zionis menudingnya sengaja berusaha meledakkan mobilnya dan memvonisnya 11 tahun penjara atas dakwaan upaya pembunuhan.

Menurut Hamdoneh, jari-jari Jaabis diamputasi dan ia bernafas sebagian besar melalui mulutnya karena lubang yang menganga di hidungnya. “Ia juga menderita kerusakan syaraf, syok dan masalah psikologis berat yang diperburuk oleh hukuman penjara yang harus dijalaninya,” katanya.

Sahar Francis, direktur Addameer, menyatakan serdadu ‘Israel’ menyiksa wanita-wanita Palestina sejak saat pertama penahanan mereka. “Penyiksaan dan pelecehan dimulai dari saat pertama penahanan dan terus berlangsung selama interogasi,” kata Francis kepada Anadolu Agency.

Ia menggambarkan interogasi tersebut sebagai “bagian paling kejam” dari penahanan. “Para tawanan tidak hanya menjadi sasaran penyiksaan fisik –seperti diikat dan dipukuli– tapi juga menjadi sasaran karena jenis kelamin mereka,” katanya.* (Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Remaja Palestina Ungkap Penyiksaan yang Mereka Alami
Bantuan Bahan Bakar dari Qatar Masuk ke Gaza »