PBB: Myanmar Tak Mau Selidiki Pembantaian Muslim Rohingya

10 October 2018, 22:52.
Seorang ibu Rohingya menggendong anaknya di sebuah kamp sementara di Teknuf, Cox’s Bazar, 24 Agustus. Foto: Daily Sabah

Seorang ibu Rohingya menggendong anaknya di sebuah kamp sementara di Teknuf, Cox’s Bazar, 24 Agustus. Foto: Daily Sabah

ISTANBUL, Rabu (Daily Sabah): Myanmar “tidak bisa dan tidak mau” menyelidiki perlakuan kejamnya terhadap Muslim Rohingya, ungkap utusan HAM PBB. Komunitas internasional pun kembali diserukan untuk bertindak dengan menyeret para jenderal Myanmar ke pengadilan internasional. Sebelumnya, tim misi pencari fakta PBB telah menyerukan agar para petinggi militer Myanmar diadili atas tuduhan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang terhadap Muslim Rohingya.

Utusan khusus PBB untuk Myanmar Yanghee Lee –yang telah dilarang memasuki negara tersebut sejak Desember lalu– mengatakan pemerintah Myanmar tidak bisa melakukan penyelidikan yang adil atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Lee mengatakan, pemerintah Myanmar hanya mengambil “langkah-langkah terbatas dan tidak memadai”.

“(Myanmar) tidak bisa dan tidak mau melaksanakan kewajibannya untuk melakukan investigasi dan penuntutan yang tepercaya, cepat, menyeluruh, independen dan tidak memihak,” kata Lee dalam laporan yang ia publikasikan melalui akun Twitter-nya pada Senin lalu, sebagaimana diberitakan kantor berita AFP. Terkait penolakan Myanmar untuk bertanggung jawab, ungkap Lee, maka kini tergantung pada pengadilan internasional untuk menegakkan keadilan.

“Tanggung jawab ada pada komunitas internasional untuk mengambil tindakan.” Ia memperingatkan, “Setiap penundaan dalam menegakkan keadilan hanya akan menghasilkan lebih banyak pelanggaran.” Dalam kesimpulannya, Lee merekomendasikan PBB untuk segera merujuk situasi di Myanmar ke Mahkamah Pidana Internasional.”

Para penyelidik yang didukung PBB bulan lalu mempresentasikan laporan yang menggambarkan perlakuan kejam terhadap Muslim Rohingya. Laporan tersebut mengungkap bahwa anggota-anggota tertentu dari tentara Myanmar berpartisipasi dalam genosida terhadap Muslim Rohingya sehingga banyak dari mereka yang melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh. Laporan tim pencari fakta PBB setebal 444 halaman itu menyebut kejahatan yang dilakukan tentara Myanmar adalah “kejahatan paling berat berdasarkan hukum internasional.”

Mengacu pada laporan PBB sebelumnya, laporan tersebut mencatat tindakan serupa yang dilakukan oleh tentara dan pemerintah Myanmar di masa lalu terhadap Rohingya. Tentu saja Myanmar menepis tuduhan tersebut dan mengecam lembaga PBB berat sebelah, kemudian pemerintah membentuk komitenya sendiri untuk menyelidiki kejahatan tersebut.

Sekitar satu juta Muslim Rohingya, yang terusir dari rumah-rumah mereka di Myanmar, kini tinggal di kamp-kamp kumuh di bagian tenggara distrik Bangladesh, Cox’s Bazar. Dari jumlah tersebut, lebih dari 700.000 melintasi perbatasan menuju Bangladesh setelah Myanmar meluncurkan operasi militer brutal pada Agustus 2017 sebagai balasan atas serangan di pos keamanan di utara Rakhine. Berdasarkan laporan terbaru, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya tewas oleh tentara Myanmar sejak terjadinya pembantaian di Myanmar tahun lalu.

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan luar biasa akan terjadinya serangan sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012. Dalam sebuah laporan, para penyelidik PBB menyatakan kekerasan semacam itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Warga Rohingya yang tak berkewarganegaraan itu telah menjadi sasaran kekerasan komunal dan sentimen anti-Muslim yang kejam di Myanmar –negara yang sebagian besar penduduknya beragama Budha– selama bertahun-tahun. Myanmar menolak kewarganegaraan Rohingya sejak 1982 dan mengecualikan mereka dari 135 kelompok etnis yang diakui secara resmi. Hal ini secara efektif menjadikan warga Rohingya tak berkewarganegaraan.

Jejak keberadaan Rohingya di Rakhine terbukti sejak berabad-abad lalu. Akan tetapi, sebagian besar orang di Myanmar yang mayoritas beragama Budha menganggap mereka hanyalah imigran Muslim yang tak diinginkan dari Bangladesh.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bantuan Bahan Bakar dari Qatar Masuk ke Gaza
Jumlah Warga yang Kehilangan Pekerjaan Meningkat Tajam Sejak ‘Israel’ Blokade Gaza »