Perjuangan Ibu 70 Tahun Jenguk Anaknya di Penjara Zionis

6 November 2018, 21:27.
Mona Daraghmeh (70) menderita tekanan darah tinggi dan diabetes. Keluarganya berusaha menghalanginya pergi, tapi ia tidak mau melepaskan satu-satunya kesempatan yang ia miliki setiap bulan untuk melihat putranya. Foto: Alyona Synenko/ICRC

Mona Daraghmeh (70) menderita tekanan darah tinggi dan diabetes. Keluarganya berusaha menghalanginya pergi, tapi ia tidak mau melepaskan satu-satunya kesempatan yang ia miliki setiap bulan untuk melihat putranya. Foto: Alyona Synenko/ICRC

PALESTINA TERJAJAH, Selasa (Al Jazeera): Rasa rindu, kata sebagian orang menyakitkan. Mungkin, kalau boleh memilih, lebih baik berhadapan setiap hari dengan moncong senjata daripada membayangkan sanak famili dikerangkeng penjajah Zionis.

Sekali dalam sebulan, ada semacam ‘tradisi’ yang dilakukan ribuan orang Palestina pada satu hari khusus. Mereka mesti bergegas keluar rumah di awal hari atau bahkan pada tengah malam untuk mengejar bus yang akan membawa mereka ke penjara-penjara Zionis. Bukan mau menyerahkan diri, tapi untuk menjenguk anggota keluarga yang ditawan penjajah Zionis ‘Israel’.

Seperti, Mona Daraghmeh, penduduk desa Tubas di Tepi Barat terjajah itu rela menempuh perjalanan selama 12 jam demi melepas rindu terhadap anak lelakinya. Meski sesampainya di penjara, perempuan berusia 70 tahun itu hanya diberi waktu 45 menit dan tak diperbolehkan menyentuh, mengusap, apalagi memeluk anaknya karena terhalang sekat kaca yang memisahkan fisik keduanya.

Akan tetapi, bagi Daraghmeh, seperti itu sudah cukup daripada tak menemuinya sama sekali.

“Pada malam itu (sebelum keberangkatan), saya hampir tak bisa tidur karena khawatir tak membawa izin masuk atau kartu identitas. Saya bisa kehilangan kesempatan menemuinya,” tutur perempuan yang kini mengidap diabetes dan hipertensi itu.

Tak bisa memeluk anaknya adalah beban jiwa bagi Daraghmeh.

Oleh karena itu, dia sering melihat foto-foto dan membaca surat-surat lama yang ditulis anaknya dari penjara. Hanya untuk mengobati kerinduan akan kehadiran putranya.

Mengunjungi penjara sangat melelahkan secara fisik dan emosional, khususnya bagi lansia. Sebelum memasuki penjara, warga Palestina harus melewati antrean pos pemeriksaan dan penggeledahan ketat yang bisa memakan waktu berjam-jam.

“Kami bahkan terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa dia tak mendapat izin kunjungan (penjara), namun itu tak memengaruhinya,” kata Kheyreyeh, anak perempuan Daraghmeh yang tak tega melihat ibunya melewati serangkaian proses tersebut.

Lebih dari 100 ribu orang asal Tepi Barat terjajah, Gaza, dan Baitul Maqdis Timur menumpangi bus-bus Palang Merah setiap tahun untuk mengunjungi anggota keluarga mereka yang ditawan di penjara-penjara Zionis. Hak yang diberikan kepada para tawanan berdasarkan hukum kemanusiaan internasional.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Di sela kunjungannya, Daraghmeh membaca surat bergambar mawar yang ditulis putranya dari dalam penjara. Foto: Alyona Synenko/ICRC

Di sela kunjungannya, Daraghmeh membaca surat bergambar mawar yang ditulis putranya dari dalam penjara. Foto: Alyona Synenko/ICRC

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Netanyahu Setujui RUU Hukuman Mati untuk Warga Palestina yang Lawan Penjajah Zionis
Bayi 4 Bulan Terluka Akibat Pemukim Ilegal Yahudi Lempari Kendaraan dengan Batu »