China Gunakan Peralatan Buatan Amerika Serikat untuk Awasi dan Lacak Muslim Uyghur
26 February 2019, 21:11.

Foto: AFP
WASHINGTON, Selasa (Anadolu Agency): Pemerintah China menggunakan teknologi dari Amerika Serikat (AS) untuk mengawasi dan melacak Muslim Uyghur agar mereka tunduk pada Partai Komunis yang berkuasa, ungkap The New York Times.
Surat kabar AS itu memberitakan, polisi dan ilmuwan China menggunakan peralatan yang dibuat oleh perusahaan AS, Thermo Fisher, untuk mengembangkan kemampuan mendeteksi DNA. Mereka juga mengandalkan material genetik yang disediakan oleh ahli genetika Universitas Yale Kenneth Kidd untuk membuat perbandingan dengan DNA Muslim Uyghur.
Program pengumpulan DNA itu disebut Fisik untuk Semua. Menurut kantor berita China Xinhua, antara tahun 2016-2017 sekitar 36 juta orang telah ambil bagian dalam program tersebut.
Program ini mengumpulkan sampel DNA dan darah, gambar iris (selaput bola mata yang ada di belakang kornea mata) dan informasi pribadi lainnya, dengan kedok pemeriksaan kesehatan gratis.
“Mengumpulkan material genetik adalah bagian penting dari kampanye China, menurut kelompok HAM dan aktivis Uyghur. Mereka mengatakan, basis data DNA yang komprehensif dapat digunakan untuk memburu warga Uyghur yang menolak untuk mematuhi kampanye (agar Muslim Uyghur tunduk pada Partai Komunis-pent),” ungkap The Times dalam sebuah laporan Kamis lalu.
Wilayah Xinjiang, China, adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga Uyghur. Otoritas China telah lama melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi terhadap kelompok Muslim beretnis Turki yang merupakan kelompok mayoritas di Xinjiang itu.
Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa sekitar satu juta Muslim Uyghur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, di mana mereka menjalani apa yang disebut program “pendidikan ulang”.
China meningkatkan pembatasannya di wilayah ini dalam dua tahun terakhir, seperti melarang pria menumbuhkan jenggot dan wanita mengenakan jilbab, serta menjalankan program DNA dan pengawasan ini.
“China ingin menjadikan Uyghur di negara itu, sebuah kelompok etnis yang mayoritas Muslim, lebih tunduk kepada Partai Komunis,” urai The Times.
Surat kabar itu memberitakan, menurut China, menggunakan material genetik untuk memecahkan masalah kejahatan adalah pembenaran yang tepat untuk membangun basis data DNA di seluruh negeri.
Akan tetapi, pada Rabu pekan lalu, Thermo Fisher mengubah posisinya dan mengatakan tidak akan lagi menjual peralatan di Xinjiang, di mana sebagian besar aktivitas melacak Uyghur berlangsung.
Meski demikian, kerja sama komunitas ilmiah global dengan Beijing “melegitimasi jenis pengawasan genetika ini,” kata Mark Munsterhjelm, asisten profesor di Universitas Windsor di Ontario yang telah melacak penggunaan teknologi AS di Xinjiang, kepada The Times.* (Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
