Ratusan Muhajirin Rohingya Unjuk Rasa Menentang Pembunuhan dan Penyiksaan di Rakhine

15 October 2020, 19:03.
Sumber: Anadolu Agency

Sumber: Anadolu Agency

BANGLADESH (Anadolu) – Ratusan muhajirin Rohingya di tenggara Bangladesh, Rabu (14/10/2020), menggelar unjuk rasa menentang pembunuhan dan penyiksaan Muslim Rohingya di Myanmar.

Memegang spanduk dan poster berisi tulisan, para muhajirin di sebuah kamp berkumpul dan membentuk rantai manusia.

Mereka menuntut segera diakhirinya pembunuhan dan penyiksaan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

“Karena ada pembatasan, kami tidak mengumpulkan massa dalam jumlah besar. Sekira 300 anggota kami ambil bagian secara damai dalam unjuk rasa hari ini. Kami menyoroti bahwa (saudara-saudara) kami masih dibunuh di Myanmar,” kata Ansar Ali, seorang warga Rohingya di kamp tersebut.

Dia mengatakan sepupunya ditembak mati oleh serdadu Myanmar pada Selasa (13/10/2020).

“Hampir setiap hari Tatmadaw [serdadu Myanmar] membunuh Rohingya di Arakan [Rakhine],” tambah Ali.

Ia mengatakan ratusan warga Rohingya telah meninggalkan rumah mereka karena kekerasan yang terus berlangsung di negara bagian Rakhine.

Dalam aksi itu, para muhajirin membawa poster bertuliskan “Selamatkan Rohingya dari pembunuhan massal. Hentikan genosida terhadap Rohingya”.

Amnesty International, belum lama ini, menemukan bukti baru tentang serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil di Myanmar barat.

Sementara Human Rights Watch telah memperingatkan ancaman marginalisasi jangka panjang terhadap Rohingya.

Komunitas paling teraniaya

Muslim Rohingya, yang disebut PBB sebagai kaum paling teraniaya, menderita sejumlah besar serangan sejak gelombang genosida meletus pada 2012.

Amnesty International mengungkapkan bahwa lebih dari 750.000 muhajirin Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, sejak serdadu Myanmar melancarkan serangan ke komunitas Muslim minoritas pada 2017.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sekira 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh serdadu Myanmar sejak 25 Agustus 2017.

Dalam laporannya yang berjudul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira”, OIDA menyebutkan lebih dari 34.000 warga Rohingya dibakar hidup-hidup, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli.

Tak hanya itu, sekira 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh serdadu Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak. (Anadolu)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Warga Nablus Lawan Perluasan Permukiman Ilegal dan Tuntut Pembebasan Maher Al-Akhras
Sejumlah Pemukim Ilegal Serang Petani Palestina Berusia 75 Tahun Menggunakan Batu »