Mwatana: “Tahun 2022, Terjadi 1.066 Kasus Kekerasan terhadap Warga Sipil Yaman; 388 Orang Tewas”

7 January 2023, 10:13.
Sumber: Mwatana

Sumber: Mwatana

YAMAN (Mwatana) – Mwatana for Human Rights telah mendokumentasikan sedikitnya 1.066 kasus kekerasan terhadap warga sipil dan infrastruktur vital di Yaman pada tahun 2022; yang sebagian di antaranya merupakan kejahatan perang.

Menurut laporan yang dirilis 5 Januari 2023 tersebut, sedikitnya 388 warga sipil tewas pada tahun 2022, termasuk 134 anak-anak dan 19 perempuan. Selain itu, tidak kurang dari 880 warga sipil terluka, termasuk 383 anak-anak dan 70 perempuan.

Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak berkonflik turut menyebabkan kerusakan infrastruktur penting, termasuk rumah sakit, sekolah, dan beberapa fasilitas layanan publik lainnya.

Mwatana juga menyatakan bahwa milisi syiah Houthi yang didukung oleh Iran, koalisi yang dipimpin Saudi/Uni Emirat Arab (UEA), pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan pasukan yang didukung UEA, termasuk Dewan Transisi Selatan, telah gagal menyelamatkan warga sipil dari pelanggaran hukum internasional yang serius.

Mwatana memiliki peneliti lapangan di 17 provinsi Yaman, yang mengumpulkan data dengan melakukan lebih dari 2.183 wawancara dengan para korban, keluarga korban, saksi mata, serta petugas medis dan kemanusiaan.

Mwatana menyebut pihak-pihak yang berkonflik di Yaman telah melakukan pelanggaran yang meluas dan sistematis.

Termasuk membunuh dan melukai puluhan ribu warga sipil, menghancurkan infrastruktur vital (termasuk rumah sakit dan sekolah), melakukan penahanan sewenang-wenang, penghilangan warga secara paksa, penyiksaan, hingga menutup akses bantuan kemanusiaan.

Selain itu, mereka juga merekrut dan menggunakan anak-anak, merebut sekolah dan rumah sakit, menyerang petugas kesehatan dan kemanusiaan, menggunakan krisis kelaparan sebagai alat perang, menekan jurnalis dan pekerja profesional media, serta membatasi hak dan kebebasan warga.

Mwatana mendesak negara-negara anggota PBB untuk segera membentuk mekanisme investigasi kriminal internasional yang independen untuk Yaman.

Tujuannya untuk mendokumentasikan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkonflik, menyerahkan laporan ke publik, serta mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis bukti-bukti yang ada, lalu menyusun arsip untuk investigasi di masa yang akan datang.

“2022 adalah tahun tragis lainnya bagi warga sipil di Yaman. Kesenjangan akuntabilitas di Yaman adalah alasan utama mengapa pihak-pihak yang berkonflik tetap melanjutkan tindakan kriminal mereka dalam melanggar HAM dan membatasi kebebasan publik maupun pribadi,” ucap Radhya Almutawakel, Ketua Mwatana for Human Rights.

Delapan tahun telah berlalu sejak pecahnya konflik bersenjata di Yaman pada akhir 2014.

Perang menyebabkan kondisi hidup dan kesehatan yang sangat mengerikan, serta membuat warga Yaman mati kelaparan, di mana ibu menyusui dan anak-anak menderita kekurangan gizi akut.

Jutaan orang yang terkena dampak krisis kemanusiaan di Yaman menderita krisis pangan, penyebaran penyakit menular, dan luka psikologis yang semakin parah, menurut lembaga-lembaga internasional. (Mwatana)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« 39 Muslim Rohingya Ditangkap Militer Myanmar di Kota Ayeyarwaddy
Ilustrator Jepang Terbitkan Manga Berdasarkan Kisah Nyata Muslimah Uyghur di Kamp Konsentrasi Xinjiang »