Ilustrator Jepang Terbitkan Manga Berdasarkan Kisah Nyata Muslimah Uyghur di Kamp Konsentrasi Xinjiang

7 January 2023, 17:41.

Berita 3768 (7 Januari 2023)

JEPANG (RFA) – Seorang penulis dan ilustrator terkenal di Jepang telah merilis buklet manga (komik) baru yang menggambarkan pengalaman seorang wanita etnis Uzbekistan yang dipaksa untuk mengajar bahasa Mandarin kepada sebagian besar tahanan Uyghur di kamp “pendidikan ulang” di Xinjiang.

Dalam beberapa tahun terakhir, Shimizu telah menggambarkan pengalaman para Muhajirin Uyghur, terutama perempuan yang selamat dari jaringan masif kamp konsentrasi di Xinjiang; yang diyakini telah menahan hingga 1,8 juta warga Uyghur dan etnis minoritas Turki lainnya.

Karya terbarunya mengisahkan Qelbinur Sidiq, 53 tahun, yang mengajar bahasa Mandarin di sebuah sekolah dasar di ibu kota Xinjiang, Urumqi, selama hampir tiga dekade.

Ia dipaksa oleh rezim komunis pada tahun 2017 untuk mengajar bahasa tersebut di kamp “pendidikan ulang” Xinjiang.

Sidiq, yang juga lahir di Xinjiang, ikut menjalani aborsi dan sterilisasi paksa sebagai bagian dari kampanye rezim komunis untuk menekan angka kelahiran Muslim di wilayah tersebut.

Shimizu, yang telah menerbitkan enam buklet manga lain yang memerinci penganiayaan rezim komunis Cina terhadap warga Uyghur, merilis kisah Sidiq ini pada Desember 2022 berdasarkan kesaksiannya di sebuah pengadilan di London pada tahun 2021.

Pengadilan independen itu meninjau bukti-bukti pelanggaran hak asasi manusia rezim komunis Cina yang menargetkan etnis Uyghur dan minoritas Turki lainnya, untuk mengevaluasi apakah kejahatan tersebut merupakan genosida berdasarkan Konvensi Genosida atau bukan.

Sidiq, yang sekarang tinggal di Belanda, bersaksi di depan pengadilan pada Juni 2021 tentang berbagai pelanggaran yang biasa dia saksikan di dua kamp konsentrasi.

Termasuk adanya penyiksaan dan pemerkosaan, yang bertentangan dengan klaim Beijing bahwa fasilitas tersebut adalah “pusat pendidikan” sukarela di mana para “siswa” diperlakukan secara manusiawi.

Pada Desember 2021, pengadilan di London itu mengumumkan putusannya bahwa Cina telah terbukti melakukan genosida terhadap bangsa Uyghur dan etnis minoritas lainnya di Xinjiang.

Shimizu yang membaca kesaksian Sidiq saat itu, terkejut karenanya. Dia tahu dia ingin menggambarnya, tetapi sedang sibuk saat itu.

“Saya terkejut ketika mengetahui situasi warga Uyghur dan berpikir penting untuk memberi tahu banyak orang mengenai situasi mereka guna menyelamatkan orang-orang di kamp [konsentrasi],” ucap Shimizu.

“Saya juga berpikir jika saya menggambarkan pengalaman pahit mereka dengan manga yang mudah dipahami, dunia bisa mengetahuinya dengan lebih baik.”

Ketika Sidiq mengunjungi Jepang pada tahun 2022, Shimizu berbicara dengannya tentang rencananya untuk membuat manga yang menceritakan pengalamannya.

“Dia adalah satu-satunya saksi yang melihat bagian dalam kamp konsentrasi yang saya temui dan ajak bicara secara langsung,” ucap Shimizu, “yang lain sebenarnya juga dijadwalkan untuk datang ke Jepang, tetapi dibatalkan karena wabah virus corona.”

Asosiasi Uyghur Jepang bekerja sama dengan Pusat Produksi Film Pendidikan Jepang Too’i telah membuat film pendek berdasarkan buklet manga Shimizu untuk digunakan sebagai materi mendidik para pelajar dan karyawan Jepang tentang hak asasi manusia.

Semua karya Shimizu yang diterbitkan telah mendapat tanggapan positif di Jepang, meskipun ada permintaan lebih karena media besar jarang meliput krisis Uyghur.

“Buklet manga versi bahasa Inggris perlu disebarluaskan dan, jika memungkinkan, diterbitkan sebagai buku,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa ia menerbitkan karya-karyanya secara gratis dan mengizinkannya digunakan untuk tujuan pendidikan.

Tanggapan atas genosida Uyghur telah tumbuh di Jepang sejak parlemen mengadopsi resolusi pada tahun 2022 yang mengungkapkan keprihatinan atas pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang, Hong Kong, Tibet, dan Mongolia, serta menyerukan pemerintah Jepang untuk bekerja sama dengan negara lain guna memantau situasi tersebut.

Ahmatjan Litip, Sekretaris Jenderal Asosiasi Uyghur Jepang mengatakan, sekira 500 sekolah dasar dan menengah di Jepang tercatat telah menambahkan manga tentang penderitaan bangsa Uyghur berdasarkan kesaksian Mihrigul Tursun, mantan tahanan Uyghur berusia 33 tahun, dalam kurikulumnya.

“Komik manga merupakan salah satu media yang memiliki peran penting dalam masyarakat Jepang karena pembacanya dari segala usia; mulai dari anak-anak hingga lansia, pria maupun wanita, suka membacanya,” ujar Litip.

“Masyarakat Jepang menerima komik manga ini dengan baik dan menjadi viral di media sosial. Kami percaya komik manga telah mencapai hasil yang tidak bisa kami dapatkan; bahkan jika kami menghabiskan jutaan dolar untuk mempromosikan tujuan kami,” ujar Litip. (RFA)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Mwatana: “Tahun 2022, Terjadi 1.066 Kasus Kekerasan terhadap Warga Sipil Yaman; 388 Orang Tewas”
Sudah Dua Pekan, Belum Ada Kepastian Kondisi Belasan Penambang Uyghur yang Terjebak di Reruntuhan Tambang Emas »