Telah Bebas dari Kamp Konsentrasi di Xinjiang, Namun Wanita Kazakh Ini Merasa Tetap Dipenjara

9 January 2023, 06:46.
Sumber foto: East Turkistan National Awakening Movement

Sumber foto: East Turkistan National Awakening Movement

(Bitter Winter) – “Bunuh aku atau biarkan aku pergi ke Kazakhstan. Aku tidak ingin berada di neraka ini.”

Warga Turkistan Timur (Xinjiang) yang telah dibebaskan dari penjara atau kamp konsentrasi rezim komunis Cina, kebanyakan takut untuk berkisah kepada wartawan atau orang asing. Jika itu dilakukan, dia bisa ditangkap dan dimasukkan penjara lagi.

Itu pula yang sebenarnya dirasakan oleh Zhanargul Zhumatai, wanita etnis Kazakh, ketika berbicara kepada Bitter Winter dari apartemennya di Urumqi, ibu kota wilayah otonom Xinjiang. Namun, ia memberanikan diri tetap berbicara agar masyarakat internasional tidak berdiam diri saja. Dia sendiri sadar bahwa yang dilakukannya itu berisiko menghilangkan nyawanya.

“Saya ingin hidup normal,” katanya. Matanya berkaca-kaca.

Kamp Konsentrasi

Zhanargul Zhumatai kini berusia 43 tahun. Lahir di Cina dan sekian lama hidup berdampingan dengan warga Uyghur, etnis terbesar di Turkistan Timur.

Wanita ini menyukai seni. Sebelum ditahan, dia dikenal sebagai musisi, penyanyi, serta menggeluti dunia penyiaran dan jurnalistik. Dia ingin agar eksotiknya budaya Kazakh bisa dinikmati oleh khalayak luas.

Pada tahun 1999, Zhanargul belajar di Universitas Nasional Al-Farabi Kazakh. Setelah lulus, dia bekerja sebagai jurnalis di Kazakhstan dan merintis perusahaan di bidang seni.

Tahun 2008, Zhanargul pergi ke Cina untuk mengikuti gelaran seni dan pameran budaya. Ia kemudian tinggal di Urumqi dan terus menekuni kesenian. Kiprahnya ini pernah membuahkan penghargaan dan hadiah karena ia dinilai turut melestarikan warisan budaya dan sastra Kazakh.

Sampai tiba masanya ketika rezim komunis Cina melancarkan apa yang disebut kampanye “anti-terorisme”. Orang-orang di Turkistan Timur—terutama etnis Uyghur dan Kazakh—yang memperlihatkan identitas Muslim, seperti memelihara jenggot, memakai jilbab, rajin salat dan pergi ke masjid, serta memiliki anak atau kerabat yang belajar di Turki atau negara Muslim, ditangkapi oleh aparat keamanan. Termasuk yang juga ditangkapi adalah orang yang ketahuan membaca buku-buku terlarang, utamanya buku terkait budaya Uyghur dan Kazakh.

Zhanargul dan para aktivis melakukan protes atas kebijakan tersebut. Tindakan ini dianggap membuat onar, maka dia ditangkap tanpa penjelasan pada tanggal 26 September 2017. Zhanargul ditahan di kamp konsentrasi hingga tahun 2019.

Selama menjalani proses hukum itu, Zhanargul tidak pernah dibawa ke pengadilan, tidak didampingi penasihat hukum, dan tidak pernah ada pembela. Hukumannya makin berat karena dia menggunakan media sosial di ponselnya, seperti Instagram dan Facebook.

Di dalam kamp kosentrasi, Zhanargul mengaku disiksa secara brutal, kejam, dan tidak manusiawi. Kondisi tahanan begitu jorok. Dia sering diikat dan dipukuli. Tidak ada fasilitas medis untuk tahanan. Akibat perlakukan semacam itu selama dua tahun, dirinya merasa hancur secara fisik dan mental.

Ketika berada di kamp konsentrasi, Zhanargul pernah berujar kepada aparat, “Bunuh aku atau biarkan aku pergi ke Kazakhstan. Aku tidak ingin berada di neraka ini!”

Dipaksa Jadi Gila

Pada 18 Oktober 2019, Zhanargul tiba-tiba dibebaskan. Prosesnya sungguh misterius, seperti dulu ketika dia ditangkap kemudian ditahan.

Bebas dari tahanan, tidak berarti Zhanargul lantas hidup lebih nyaman. Justru ia bertemu dengan berbagai kenyataan pahit.

Perusahaannya yang dulu dirintis dan dibesarkan, telah dibubarkan oleh pihak berwenang. Nomor teleponnya diputus, dan dananya disita. Akan sangat sulit baginya untuk membangun kembali usaha itu, sebab nama Zhanargul sudah masuk dalam catatan “kriminal”.

Aktivitasnya terus dipantau oleh aparat keamanan, dari pagi, siang, senja, hingga malam. Mesin pengawas yang terpasang di berbagai sudut kota seperti terus mencarinya di mana pun dia berada.

KTP-nya telah ditandai dengan status “mantan tahanan”. Itulah sebabnya, alarm di pos-pos pemeriksaan akan selalu berbunyi jika Zhanargul melintas. Misalnya di pasar, mal, bioskop, ingin meninggalkan kota, atau mengunjungi teman. Keadaannya seperti tidak berbeda dengan kehidupan di tahanan.

Zhanargul menyadari bahwa dirinya tidak memiliki masa depan lagi di Cina. Dia pun memutuskan ingin pergi ke Kazakhstan.

Wanita ini kemudian meminta paspor yang disita aparat. Petugas meminta agar rumahnya dijual terlebih dahulu untuk membayar jaminan.

Apa boleh buat, syarat itu terpaksa dipenuhi. Namun, belakangan ternyata Zhanargul menemui janji kosong. Uang hasil penjualan rumahnya raib sehingga dia menggelandang seperti tunawisma.

Zhanargul kemudian nebeng di rumah ibunya yang lemah dan telah berusia 77 tahun. Karena statusnya sebagai mantan tahanan, dia kesulitan untuk berkarya kembali. Praktis dia menganggur.

Zhanargul merasa telah kehilangan segalanya: kebebasan, karir, kehidupan sehari-hari, tempat tinggal, dan semuanya. Kondisi kesehatannya pun terus memburuk.

Di sela-sela keputusasaannya, dia sempat tersambung melalui telepon dengan koleganya di perbatasan Kazakhstan. Kisahnya kemudian diposting di media sosial oleh seorang aktivis HAM.

Sampai tanggal 2 Januari 2023 lalu, polisi di Urumqi terus mencari-carinya dan mendatangi rumah-rumah kerabat Zhanargul. Mereka menuduh wanita ini telah bergaul dengan teroris dan menjadi mata-mata asing. Aparat juga memintanya agar “diam” dan tidak menceritakan tentang semua yang pernah dialaminya.

Saudara laki-lakinya mengatakan, Zhanargul mungkin bisa lolos dari pencarian itu jika secara sukarela menyerahkan diri ke rumah sakit jiwa. Klaim “gila”-lah yang akan bisa membebaskannya.

“Saya tidak akan pernah menyerah. Saya tidak akan ke rumah sakit jiwa. Saya tidak sakit jiwa. Saya bukan orang jahat. Saya tidak bersalah,” ujarnya kepada Bitter Winter.

“Tolong beritahu dunia tentang apa yang telah mereka lakukan kepadaku, sebelum terlambat,” tambahnya. (Bitter Winter)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sudah Dua Pekan, Belum Ada Kepastian Kondisi Belasan Penambang Uyghur yang Terjebak di Reruntuhan Tambang Emas
Kapal yang Mengangkut Ratusan Muhajirin Rohingya Kembali Mendarat di Pantai Aceh »