Dampak Kejahatan Penjajah Zionis, Belasan Ribu Pengidap Kanker di Gaza Kian Terancam

15 January 2026, 17:50.

Foto: PIC

GAZA (PIC) – Di wilayah Gaza yang dikepung, kanker seolah bukan lagi penyakit yang perlu diobati secara intensif, melainkan menjadi ancaman kematian secara perlahan.

Gaza menghadapi hampir runtuhnya sistem kesehatan akibat agresi ‘Israel’ yang terus-menerus; yang menghancurkan rumah sakit, memutus akses diagnosis, dan membuat ribuan pasien berjuang melawan penyakit tersebut tanpa obat atau perawatan medis lanjutan.

Selama lebih dari dua tahun, pasien kanker menghadapi kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pusat perawatan khusus berhenti beroperasi, obat-obatan penting telah habis, dan ketiadaan layanan bagi mereka yang menunggu sesi kemoterapi atau intervensi bedah yang menyelamatkan jiwa.

Warga Palestina, Mahmoud Saed, seharusnya memulai sesi kemoterapi dan operasi pertama untuk kanker rektum pada 8 Oktober 2023 di Rumah Sakit Turkiye di Gaza. Namun, pecahnya agresi genosida membatalkannya.

Sejak tanggal tersebut, Mahmoud belum menerima alternatif pengobatan apa pun, dan kondisi kesehatannya semakin menurun dari waktu ke waktu.

Saed mengatakan kepada PIC bahwa ia didiagnosis menderita kanker prostat setahun yang lalu, dan telah diangkat. Namun, ia masih bergantung pada kantong untuk menampung feses dan urin; menunggu operasi yang memungkinkannya untuk pulih.

“Yang saya harapkan hari ini hanyalah rujukan pengobatan di luar wilayah Gaza sebelum terlambat,” kata Saed.

Sementara itu, warga Palestina Samar al-Halabi menderita tumor payudara di awal genosida.

Sepanjang agresi, kondisinya menurun hingga kanker stadium 4 akibat pengungsian paksa, tinggal di tenda, kurangnya perawatan medis, serta penargetan rumah sakit dan staf kesehatan.

“Saya menghadapi kesulitan yang sangat besar, bahkan untuk mendapatkan obat penghilang rasa sakit, serta berpindah-pindah antarkota yang hancur di Gaza. Saya terpaksa membayar sekitar 160 shekel per perjalanan pengobatan, mengingat kelangkaan transportasi dan kurangnya infrastruktur kesehatan,” kata al-Halabi.

Pemulihan yang Sangat Sulit

Seorang Muslimah Palestina bernama Umm Muhammad al-Najjar, yang menderita kanker usus besar dan payudara, menjelaskan bahwa menerima perawatan di dalam wilayah Gaza hampir mustahil; di tengah kekurangan obat-obatan dan peralatan medis yang parah.

Oleh karena itu, ia membutuhkan transfer terapi mendesak ke luar Gaza untuk menyelesaikan sesi kemoterapi dan radioterapi, serta mencegah penyebaran penyakit.

Sementara itu, Direktur Medis Pusat Kanker Gaza, Dr. Muhammad Abu Nada, mengatakan bahwa tantangan paling menonjol yang dihadapi pasien kanker adalah penghancuran sistematis rumah sakit khusus, yang dipimpin oleh Rumah Sakit Persahabatan Turkiye, Rumah Sakit Eropa Gaza, dan Rumah Sakit Abdulaziz al-Rantisi.

Hal itu menyebabkan hampir runtuhnya sistem diagnosis dan pengobatan. Abu Nada menjelaskan bahwa alat skrining awal, seperti mammogram dan MRI, hancur atau berhenti berfungsi karena pemadaman listrik dan kekurangan bahan bakar, yang menyebabkan penundaan serius dalam diagnosis kasus baru dan tindak lanjut pasien lama.

“Hanya sekira 30% dari jumlah obat kemoterapi dan obat penghilang rasa sakit khusus yang dibutuhkan yang tersedia,” kata Abu Nada. Ia menunjuk pada kekurangan besar tenaga medis setelah sejumlah dari mereka menjadi sasaran selama agresi dan pengusiran paksa sebagian lainnya dari wilayah Gaza.

Menurut statistik terbaru hingga akhir Desember 2025, jumlah pasien kanker di Gaza sekira 12.500 pasien dari berbagai kelompok usia. Lebih dari 2.000 kasus baru didiagnosis setiap tahunnya, termasuk 122 anak-anak, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Data menunjukkan bahwa sekira 3.000 pasien mengalami keterlambatan diagnosis yang signifikan. Sementara hanya 1.000 pasien yang dapat didiagnosis secara akurat karena kurangnya alat dan layanan medis.

Sejak akhir Mei 2025, kemoterapi intravena dan sesi tindak lanjut medis hampir sepenuhnya terhenti, yakni setelah rumah sakit khusus tidak beroperasi. Ribuan pasien tidak mendapatkan perawatan yang sangat mereka butuhkan.

Pembatasan yang Mencekik

Penjajah zionis memberlakukan pembatasan ketat terhadap keluarnya pasien untuk perawatan di luar wilayah Gaza. Meskipun sekira 17.000 pasien sangat membutuhkan transfer medis, hanya sekitar 1.100 yang diizinkan untuk pergi.

Menurut sumber medis, sekira 436 pasien kanker telah meninggal sejak 7 Oktober 2023 akibat kurangnya perawatan dan ketidakmampuan untuk mengakses layanan kesehatan.

Pusat-pusat spesialis, seperti Rumah Sakit Gaza Eropa, Pusat Kanker Gaza, Rumah Sakit Persahabatan Turkiye, dan Rumah Sakit Abdulaziz al-Rantisi berhenti beroperasi.

Dr. Abu Nada menegaskan perlunya membangun kembali rumah sakit yang hancur, membuka pelintasan dengan segera, dan mengizinkan masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis.

Ia menekankan bahwa mencegah pasien bepergian untuk perawatan di luar Jalur Gaza merupakan bentuk pembunuhan perlahan.

“Di Gaza, pasien kanker tidak meninggal karena penyakitnya lebih ganas, tetapi karena pengobatan dilarang. Waktu terus direnggut dari tubuh mereka hari demi hari,” simpul Abu Nada.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Munir al-Bursh, mengatakan bahwa sekira 22.000 pasien telah menyelesaikan semua prosedur medis dan administratif yang diperlukan untuk perjalanan, termasuk 18.100 pasien yang telah menerima persetujuan resmi.

Akan tetapi, mereka masih terjebak, tanpa dapat meninggalkan wilayah Gaza untuk mendapatkan perawatan medis.

Al-Bursh menunjukkan bahwa di antara mereka, sekira 5.000 orang adalah anak-anak dan 5.000 orang pasien kanker; selain 7.000 korban luka yang menderita cedera serius yang membutuhkan intervensi terapi khusus yang tidak tersedia secara lokal. 

Ia memperingatkan bahwa larangan perjalanan yang terus berlanjut membahayakan nyawa mereka. 

Ia menekankan bahwa sektor kesehatan di Gaza sebagian besar telah kehilangan kemampuan untuk menyediakan perawatan medis khusus. 

Penutupan terus-menerus pelintasan Rafah secara praktis telah mengubah larangan melintas menjadi “hukuman mati perlahan” bagi ribuan pasien. Mengingat setiap hari penundaan berarti hilangnya lebih banyak nyawa yang seharusnya dapat diselamatkan. (PIC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Musim Dingin Kian Berat, Sudah Belasan Anak Gaza Meninggal Dunia
Apoteker Gaza Jadikan Rumahnya sebagai Laboratorium Obat Darurat »