Influenza Menyerang Tubuh-Tubuh Lapar dan Menggigil Penduduk Gaza, Tak Semata Penyakit Musiman

15 January 2026, 17:52.

Foto: PIC

GAZA (PIC) – Pada musim dingin ini, influenza tidak datang ke wilayah Gaza sebagai penyakit musiman yang berlalu begitu saja, tetapi sebagai ancaman kesehatan kompleks yang mengepung tubuh-tubuh yang baru saja keluar dari kelaparan.

Situasi ini terjadi di tengah sistem perawatan kesehatan yang hampir runtuh serta hampir nihilnya alat pencegahan dan pengobatan.

“Demamnya Mencapai 40 Derajat”

Dengan datangnya bulan Januari, di tengah musim dingin, kekhawatiran meningkat bahwa penyakit ini dapat berubah menjadi krisis kesehatan yang meluas di tengah kekebalan tubuh yang melemah, tidak adanya vaksinasi, dan menipisnya obat-obatan penting.

Di sebuah tenda lusuh di sebelah barat Kota Gaza, Umm Ahmed Meqdad (32 tahun) menceritakan detail penyakit putranya yang berusia lima tahun. Sang putra telah menderita influenza selama lebih dari dua minggu.

“Demamnya akan melonjak dan mencapai 40 derajat. Saya mendekapnya sepanjang malam hanya untuk merasakan apakah kondisinya memburuk. Dokter mengatakan ia membutuhkan obat penurun demam dan pemeriksaan lanjutan, tetapi obatnya mahal. Saya hanya mampu membelinya sekali saja.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Anak saya belum menerima vaksinasi apa pun sejak genosida dimulai. Dulu kami khawatir sakit; sekarang kami khawatir akan ketidakberdayaan.”

Abu Mahmoud Al-Assi, 67 tahun, yang menderita diabetes dan tekanan darah tinggi, mengatakan bahwa tertular influenza musim dingin ini adalah pengalaman terberat dalam hidupnya.

“Penyakit itu membuat saya lemas, batuk, sesak napas, nyeri sendi. Namun, masalahnya bukan penyakit itu sendiri. Masalahnya adalah sakit dan tidak menemukan obat penghilang rasa sakit. Apotek kosong. Jika Anda menemukan sesuatu, harganya sangat mahal.”

Ia menambahkan dengan suara rendah, “Dulu saya bilang penyakit akan berlalu. Sekarang, penyakit meninggalkan bekas.”

Samar Mahna, berusia 30-an, mengakui bahwa ia menunda pergi ke rumah sakit, meskipun kondisinya semakin memburuk.

“Saya takut pergi dan tidak menemukan pengobatan. Saya tinggal di rumah mencoba mengobati diri sendiri dengan hal-hal sederhana. Namun, ketika saya mulai sesak napas, saya merasakan bahayanya.” Ia berkata, “Influenza telah menunjukkan betapa rentannya kita.”

“Masalahnya Bukan Semata Virus”

Spesialis Gizi dan Direktur Departemen Keluarga, Anak, dan Penyakit Menular dan Tidak Menular di Kementerian Kesehatan Gaza, Ahed Sammour, mengatakan bahwa bahaya influenza musim ini bukan karena mutasi pada virus, tetapi lebih karena penurunan tajam kekebalan populasi.

Sammour mengatakan gelombang kekurangan gizi dan kelaparan yang melanda Gaza selama setahun terakhir telah meninggalkan dampak mendalam pada sistem kekebalan tubuh, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.

Ia menjelaskan bahwa tubuh yang pulih dari kelaparan tidak memiliki kemampuan alami untuk melawan infeksi atau pulih dengan cepat.

“Kekebalan tubuh yang melemah berarti penyakit berlangsung lebih lama, komplikasi muncul lebih cepat, dan influenza dapat berubah menjadi pneumonia atau gagal napas dalam beberapa kasus.”

Sammour mencatat bahwa belum ada kematian akibat influenza yang tercatat sejauh ini, dan belum ada mutasi atau varian virus baru yang terdeteksi; meskipun beberapa kasus dirawat di unit perawatan intensif.

Namun, ia memperingatkan agar tidak lengah, dengan mengatakan; “Kita masih berada di awal puncak. Bahaya sebenarnya kemungkinan dimulai pada bulan Januari dan Februari.”

Vaksin Tertahan

Sammour mengungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan belum dapat melaksanakan kampanye vaksinasi tahunan untuk kelompok yang paling rentan.

Ia mengonfirmasikan bahwa sekira 12.000 dosis vaksin tersedia di Kementerian Kesehatan di Ramallah, tetapi penjajah menolak untuk meloloskan vaksin tersebut masuk ke Gaza.

“Vaksinasi tidak sepenuhnya mencegah infeksi,” katanya, “tetapi mencegah kasus parah dan kematian. Ketiadaan vaksinasi melipatgandakan risikonya.”

Ia juga memperingatkan bahwa bahaya influenza tidak lagi terbatas pada kelompok rentan saja, tetapi sekarang memengaruhi semua orang, yakni di tengah kekurangan obat penghilang rasa sakit dan harga yang melonjak.

Ia menekankan bahwa gudang Kementerian Kesehatan hampir kosong dari banyak obat-obatan penting.

Tekanan Besar di Tengah Kekurangan Obat-obatan

Di Kompleks Medis Al-Shifa aktivitas terus berlanjut, meskipun sumber daya sangat terbatas. Dokter dan perawat bekerja di bawah tekanan yang sangat besar di tengah kekurangan obat-obatan.

Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiya, memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatan Gaza tidak mampu menangani gelombang infeksi yang besar.

“Kita menghadapi realitas kesehatan yang sangat rapuh. Rumah sakit beroperasi melebihi kapasitas, dengan kekurangan obat-obatan, obat penghilang rasa sakit, antibiotik, dan alat bantu pernapasan yang parah.”

Ia menambahkan bahwa kekebalan tubuh yang melemah akibat kekurangan gizi membuat infeksi pernapasan apa pun menjadi ancaman yang lebih besar, “Apa yang dulunya dapat diobati di rumah, sekarang mungkin memerlukan perawatan intensif.” 

Abu Salmiya mengatakan pembatasan vaksin masuk ke Gaza membuat tim medis yang menghadapi penyakit ini dalam kondisi nihil alat pencegahan. 

“Kita menghadapi influenza tanpa perisai, dan dengan jumlah tempat tidur ICU yang terbatas, lonjakan kasus yang besar dapat membuat situasi di luar kendali.” 

Ia menegaskan bahwa penjajah zionis merupakan dalang kejahatan atas memburuknya krisis kesehatan Palestina; karena mereka melarang masuknya obat-obatan dan vaksin, serta menyerang infrastruktur kesehatan selama agresi. (PIC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Apoteker Gaza Jadikan Rumahnya sebagai Laboratorium Obat Darurat
Penjajah Zionis Bersiap Sahkan Lima Permukiman Ilegal di Tepi Barat  »