Penggalian Pemakaman Korban Genosida demi Cari Mayat Serdadu Penjajah Lukai Hati Keluarga Korban

31 January 2026, 19:58.

Foto: PIC

GAZA (PIC) – Penggalian yang dilakukan serdadu zionis di Pemakaman Al-Batesh, kawasan Al-Tuffah, sisi timur Kota Gaza, memicu kecaman luas karena dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan.

Makam-makam korban pembunuhan dan genosida penjajah zionis dibongkar; yang kemungkinan membuat para keluarga korban kembali menghadapi trauma kehilangan.

Selama dua hari, buldoser penjajah meratakan area pemakaman dan memindahkan jenazah dari kuburnya, sementara keluarga korban dilarang mendekat.

Kawasan tersebut dinyatakan berbahaya, dengan tembakan langsung diarahkan kepada siapa pun yang mencoba mengakses lokasi; menjadikan pemakaman itu luka terbuka dalam ingatan kolektif rakyat Gaza.

“Seolah-olah Anakku Dibunuh untuk Kedua Kalinya”

Khalil Al-Jaish (70), ayah dari salah satu korban yang dimakamkan di Pemakaman Al-Batesh, mengatakan bahwa penggalian makam oleh serdadu zionis membawanya kembali ke momen paling kelam dalam hidupnya.

Ia mengaku trauma lama yang belum pulih kembali terbuka saat melihat makam anaknya dibongkar.

“Anakku, Ibrahim, gugur di awal perang saat mencari nafkah. Kami menguburnya dengan susah payah, dan setelah berbulan-bulan mencoba melupakan, tiba-tiba kuburannya digali.

“Rasanya seperti mereka membunuh anakku untuk kedua kalinya,” ujarnya dengan suara berat.

Ia menambahkan bahwa kini keluarga sama sekali tidak dapat mendekati pemakaman dan tidak mengetahui keberadaan maupun kondisi jenazah tersebut.

Nour Al-Din (27), yang kehilangan ibunya selama genosida dan memakamkannya di Pemakaman Al-Batesh, mengatakan bahwa makam tersebut menjadi tempat yang setidaknya bisa menghibur hatinya.

Ia mengaku mampu bertahan menghadapi perpisahan karena masih dapat mengunjungi makam ibunya. Hingga kabar penggalian pemakaman itu kembali membuka luka kehilangan yang mendalam.

“Sakitnya bukan hanya karena kuburan digali, tetapi karena kami dilarang datang dan melihat,” ujarnya. Di tengah ketidakpastian, Nour mempertanyakan apakah jenazah ibunya masih berada di tempatnya atau tidak.

Hussam Al-Rantisi, saudara dari salah satu korban yang dimakamkan di Pemakaman Al-Batesh, menggambarkan kesedihan yang dialami keluarga-keluarga korban genosida zionis.

Ia mengatakan jenazah saudaranya telah dimakamkan selama berbulan-bulan, tetapi kini nasibnya tidak diketahui.

“Pertama kami menemukan jenazah tergeletak di tanah, hari ini kami tidak tahu apa-apa. Pertanyaan terus membayangi—apakah jenazah dibiarkan terbuka, dirusak, atau diutak-atik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa gambar-gambar penggalian makam yang beredar memperparah tekanan psikologis keluarga.

Senada, Muhammad Alwan, yang ayahnya dimakamkan di lokasi yang sama, mengatakan bahwa penggalian kuburan telah menghidupkan kembali duka mendalam.

Ia mempertanyakan, “Apakah penindasan telah mencapai titik ini, ketika kuburan digali dan kesucian orang yang telah gugur dilanggar demi jasad seorang serdadu zionis?”

Kejahatan dan Pelanggaran Hukum Internasional

Pengacara dan aktivis hak asasi manusia, Salah Abdel Ati, menegaskan bahwa penggalian makam di Pemakaman Al-Batesh, timur Kota Gaza, merupakan “kejahatan berlapis”.

Tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional serta nilai-nilai kemanusiaan paling mendasar.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Dalam pernyataannya kepada koresponden PIC, Abdel Ati menekankan bahwa penggalian kuburan, pemindahan, dan perusakan jenazah merupakan serangan langsung terhadap kesucian korban yang gugur dan martabat manusia, yang secara tegas dilindungi Konvensi Jenewa dan hukum internasional.

Menurutnya, praktik ini menunjukkan bahwa penjajah tidak berhenti pada pembunuhan warga sipil dan penghancuran permukiman, tetapi terus melanggar hukum; bahkan setelah kematian korban kejahatannya.

Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut menimbulkan dampak psikologis yang mendalam dan jangka panjang bagi keluarga korban, membuka kembali luka kehilangan, serta berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang yang memerlukan pertanggungjawaban pidana internasional.

Abdel Ati menyerukan kepada komunitas internasional, PBB, dan Komite Internasional Palang Merah untuk segera bertindak, membuka penyelidikan independen, melindungi makam dan jenazah, serta memastikan akuntabilitas atas kejahatan yang disebutnya telah melampaui batas etika dan hukum.

Sumber medis melaporkan bahwa lebih dari 200 jenazah telah diekskavasi/diekshumasi dari sekira 450 kuburan di Pemakaman Al-Batesh, yang didirikan pada Oktober 2023 untuk menguburkan para syuhada dan jenazah tak dikenal akibat agresi ‘Israel’.  

Sumber yang sama menegaskan bahwa penggalian ini bukan insiden pertama. Tindakan serupa juga terjadi pada Januari tahun lalu, yang menandakan pola pelanggaran berulang terhadap kehormatan pemakaman dan jenazah. (PIC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kementerian Kesehatan dan MSF Tolak Serahkan Data Tenaga Medis ke Penjajah Zionis
Kementerian Kesehatan Bantah Klaim Sepihak Penjajah Zionis tentang Jumlah Kelahiran di Gaza »