Krisis Transportasi dan Kelangkaan Uang Tunai Jadi Pergulatan Harian Warga Gaza

14 February 2026, 18:02.

Foto: PIC

GAZA (PIC) – Kebebasan bergerak dan bepergian di wilayah Gaza kini bukan lagi hal yang bisa dianggap biasa seperti sebelum agresi genosida zionis ‘Israel’.

Aktivitas sehari-hari berubah menjadi pertarungan fisik dan mental bagi warga, di tengah krisis transportasi yang mencekik, kelangkaan likuiditas uang tunai, serta absennya uang receh (“fakka”). Pergi bekerja, ke rumah sakit, atau sekadar mencari nafkah kini menjadi tantangan berat.

Sejak 7 Oktober 2023, agresi genosida penjajah ‘Israel’ meninggalkan kehancuran luas yang menghantam ribuan mobil, bus, dan truk, serta infrastruktur vital, seperti jalan, SPBU, dan bengkel.

Dampaknya, pergerakan transportasi nyaris lumpuh total. Warga pun terpaksa mengandalkan moda transportasi lawas dan lambat yang kerap mahal sekaligus berbahaya.

Krisis Berlapis: Kendaraan Langka, Uang Receh Menghilang

Warga Gaza, Muhammad Al-Fleit, menggambarkan situasi ini dengan getir. Tarif transportasi melonjak puluhan kali lipat dibanding sebelum agresi.

Jika perjalanan dari Khan Yunis ke Gaza sebelumnya hanya menelan biaya 6 shekel, kini tarifnya berkisar 20–25 shekel. Pergerakan di dalam kota pun hampir mustahil. Bukan hanya karena kendaraan yang langka, tetapi juga akibat krisis uang receh dan likuiditas tunai.

Adham Abu Al-Atta mengatakan banyak warga terpaksa berjalan kaki jarak jauh demi menghemat ongkos. Sebagian lainnya nekat menumpang truk kosong di jalanan, mempertaruhkan nyawa untuk menghindari tarif yang tak sanggup mereka bayar, dan layanan transportasi yang jauh dari memadai.

Beban Berat bagi Sopir dan Penumpang

Sopir Salem Abu Saada menegaskan kesulitan ini tak hanya dirasakan penumpang. Para sopir pun menghadapi kesulitan serupa: minim kenyamanan, keamanan, dan kepastian waktu tiba.

Kelangkaan kendaraan, jalan yang rusak, serta sulitnya memperoleh uang tunai dan receh menggandakan tekanan psikologis dan finansial bagi semua pihak.

Abdul Hadi menambahkan, lonjakan harga bahan bakar menjadi beban tambahan. Harga bensin impor mencapai sekitar 100 shekel per liter, bensin lokal 55 shekel, solar impor 60 shekel, dan solar lokal 20–25 shekel. Harga-harga ini melonjak puluhan kali lipat dari nilai normal dan langsung memicu kenaikan tarif transportasi.

Berjalan Kaki Menghemat Ongkos Demi Anak

Sopir Mohi Al-Din Maslah mengungkapkan semakin banyak warga memilih berjalan kaki untuk menghemat ongkos demi membeli makanan dan minuman bagi anak-anak mereka; di tengah kemiskinan, pengungsian, dan ketidakstabilan.

Krisis uang receh juga memicu persoalan baru. Sejumlah sopir menolak mengangkut penumpang yang tidak memiliki uang logam kecil karena tidak mampu mengembalikan sisa ongkos. Situasi ini semakin memperumit kesulitan kedua belah pihak.

Sektor Bengkel Ikut Terpuruk

Kesulitan juga melanda sektor perawatan kendaraan. Mekanik Muhammad Al-Zaqzouq menjelaskan harga suku cadang melonjak drastis. Harga mesin mobil yang sebelum perang sekitar 6.000 shekel kini melambung menjadi 25.000–28.000 shekel.

Harga satu ban naik dari 300 menjadi 2.500–3.000 shekel. Kaca mobil yang sebelumnya tak lebih dari 300 shekel kini menembus 4.500 shekel.

Biaya perbaikan rem mencapai 800 shekel di luar harga suku cadang. Anggaran perawatan harian yang dulu 10–20 shekel melonjak menjadi 150–200 shekel.

Oli mesin yang sebelumnya 9–10 shekel kini sekitar 80 shekel. Pada saat bersamaan, suku cadang non-orisinal dan bekas semakin marak, tetapi hanya berfungsi sementara.

Laporan pemerintah menyebut lebih dari 60% kendaraan di Jalur Gaza hancur, termasuk bengkel dan SPBU, serta infrastruktur pendukung.

Kelangkaan dan mahalnya bahan bakar serta suku cadang, ditambah jalan dan ruas yang rusak, menjadi faktor utama melambungnya tarif transportasi.

Lebih dari 90% lampu lalu lintas dan tiang penerangan dilaporkan hancur, menjadikan pergerakan di jalan sangat berbahaya di tengah minimnya rambu dan panduan lalu lintas, serta meningkatnya risiko kecelakaan. 

Kini, penduduk Gaza menghadapi krisis transportasi yang terjalin erat dengan krisis likuiditas, kelangkaan uang receh, dan lonjakan harga bahan bakar serta suku cadang yang belum pernah terjadi sebelumnya.  

Pada saat yang sama, tak lebih dari 5% kebutuhan pasar diloloskan masuk—sebagian besar bukan barang orisinal—ditambah biaya “koordinasi” yang bisa mencapai 3.000.000 shekel per truk. 

Semua beban itu mengimpit sopir dan warga secara bersamaan, mengubah detail paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari menjadi perjalanan panjang yang melelahkan—di kota yang kini hanya bisa bergerak dengan susah payah, atau dengan berjalan kaki. (PIC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Berambisi Hancurkan Jaringan Terowongan Perlawanan di Gaza, Penjajah Zionis Kebingungan
Penjajah Kembali Duduki Kamp Arraba, Puluhan Warga Palestina di Jenin Terpaksa Mengungsi »