Penjajah Kembali Duduki Kamp Arraba, Puluhan Warga Palestina di Jenin Terpaksa Mengungsi
14 February 2026, 18:03.

Foto: PIC
JENIN (PIC) – Di bawah ancaman langsung penangkapan dan penyitaan ternak, keluarga-keluarga Palestina yang tinggal di kawasan yang dikenal sebagai Kamp Arraba, selatan Jenin, mulai mengevakuasi rumah dan harta benda mereka.
Tenggat waktu yang ditetapkan serdadu zionis ‘Israel’ untuk meninggalkan lokasi yang telah mereka huni bertahun-tahun itu berakhir, memaksa warga bergegas mengemas barang, peralatan pertanian, dan kebutuhan hidup menjelang pengusiran paksa.
Sumber lokal melaporkan sekira 50 orang dipaksa meninggalkan area tersebut setelah serangkaian penerobosan selama sepekan penuh. Penerobosan itu disertai ancaman penangkapan seketika serta penyitaan kawanan domba jika perintah evakuasi tidak dipatuhi.
Serdadu penjajah juga mengumumkan rencana penempatan ulang pasukan dan pendirian pos militer permanen di lokasi.
Latar Belakang Lokasi
Aktivitas di Kamp Arraba bermula pada tahun 2005, ketika serdadu penjajah mengevakuasi kamp militer Dotan sebagai bagian dari rencana penarikan sepihak.
Pada 2013, keluarga-keluarga Palestina kemudian berlindung di sana dan memanfaatkan bangunan beton lama—peninggalan era Yordania—sebagai rumah dan kandang ternak, yang memberi tingkat stabilitas minimum bagi petani dan peternak setempat.
Pengusiran Paksa dan Dampaknya
Um Muhammad, salah satu perempuan yang mengungsi, menyebut keputusan ini sebagai pukulan keras bagi masa depan anak-anaknya. Pengungsian berulang memaksa sebagian dari mereka menghentikan studi universitas demi mencari tempat tinggal alternatif yang jauh dari standar layak.
Sementara itu, Jamal Rashid—yang mengawasi pemindahan perabotan dengan traktor pertanian—menilai evakuasi ini bagian dari kebijakan lebih luas yang menyasar komunitas pedesaan di Lembah Yordan dan selatan Al-Khalil.
Ia menekankan bahwa ruangan beton tersebut sebelumnya melindungi ternak mereka, sebelum perintah militer kembali mengejar dan meneror.
Seiring berakhirnya tenggat, kendaraan yang membawa puluhan warga meninggalkan lahan kamp. Kesunyian menyelimuti area yang sebelumnya ramai aktivitas pertanian, di tengah kekhawatiran kembalinya alat berat militer untuk membangun kembali barak.
Peringatan Otoritas Lokal
Kepala Pemerintah Kota Arraba, Ahmad Al-Arda, menegaskan pihaknya tidak menerima pemberitahuan resmi terkait jenis aktivitas militer yang akan dilakukan.
Ia memperingatkan bahwa penguasaan kembali kamp secara efektif akan memperketat kontrol atas lahan luas di sekitarnya dengan dalih keamanan. Juga akan mengisolasi kota-kota di selatan Jenin dari pusat kota, serta memperparah kesulitan mobilitas dan akses layanan warga.
Para pengamat urusan ‘Israel’ menilai penempatan ulang di Kamp Arraba sebagai bagian dari eskalasi memperkuat kehadiran militer dan permukiman ilegal di Tepi Barat utara.
Yakni dengan memanfaatkan kembali lokasi yang pernah dikosongkan menjadi titik permanen yang memutus keterhubungan geografis antarkomunitas Palestina, khususnya di wilayah Kategori C.
Data Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Ilegal menunjukkan lonjakan signifikan perintah penyitaan lahan pada Januari lalu.
Penjajah ‘Israel’ menyita lebih dari 744 dunum untuk kepentingan militer dan permukiman ilegal—termasuk pembukaan jalan dan perluasan kamp—di wilayah Nablus, Jenin, dan Ramallah.
Langkah ini berjalan seiring persetujuan “Administrasi Sipil” penjajah atas rencana pembangunan ratusan unit rumah ilegal untuk menghubungkan permukiman ilegal yang ada dan memperdalam isolasi desa-desa Palestina.
Dalam konteks ini, Kamp Arraba kembali mencuat sebagai contoh berulang penguasaan kembali lahan yang telah dikosongkan dengan dalih keamanan—membuka jalan bagi kehadiran militer permanen dan potensi ekspansi permukiman ilegal.
Sementara itu, keluarga-keluarga Palestina yang terusir menghadapi realitas pengungsian lanjutan, tanpa perlindungan internasional yang efektif dan memadai. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
