Skandal Epstein: Pemerasan, Kekuasaan, dan Bayang-Bayang Geopolitik
14 February 2026, 18:04.

Jeffrey Epstein, seorang miliarder Amerika Serikat yang ditangkap atas kasus perdagangan s*ks terhadap gadis-gadis di bawah umur. [Twitter]
AS (Middle East Monitor) – Berkas Jeffrey Epstein mengguncang perhatian global. Dokumen-dokumen tersebut mengungkap bahwa skandal ini tidak sekadar berkisar pada kebejatan seorang individu.
Terkuaknya skandal tersebut membuka tabir jejaring luas pengaruh, kompromi, dan dugaan pemerasan yang melibatkan kalangan bangsawan, miliarder, diplomat, taipan teknologi, hingga pebisnis Arab.
Keterkaitan para elite lintas negara itu melampaui ranah skandal pribadi dan mulai menyentuh wilayah geopolitik yang sensitif. Hal ini memunculkan pertanyaan menghantui tentang apakah operasi Epstein berfungsi sebagai alat bagi kepentingan strategis ‘Israel’?
Sistem Orang-Orang Kebal Hukum
Ketika Jeffrey Epstein pertama kali dituntut, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menghadapi kritik tajam atas kelonggarannya. Senator Ben Sasse mengecam kesepakatan pembelaan (plea deal) pada 2008 yang terkenal itu sebagai “kegagalan sistem yang menjijikkan.”
Pejabat DOJ kemudian mengakui bahwa kasus Epstein berkaitan dengan sebuah sistem para pendukung yang merasa diri mereka kebal hukum. Sistem itu kini tersingkap melalui jutaan halaman dokumen, yang menunjukkan bagaimana Epstein membangun akses ke pusat-pusat kekuasaan lintas benua.
Keterlibatan Pangeran Andrew tetap menjadi salah satu kasus tingkat tinggi yang paling sensitif secara politik.
Penyelesaiannya dengan Virginia Giuffre—meski bukan pengakuan bersalah—pada 2022 digambarkan oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebagai “sangat mengkhawatirkan, dan publik memang berhak mengharapkan akuntabilitas serta transparansi.” Dampak terhadap reputasi monarki Inggris pun sangat merusak.
Kekuatan Amerika dan Sengkarut Keterlibatan
Di seberang Atlantik, para senator Amerika Serikat menuntut kejelasan. Pada 2019, Pemimpin Minoritas Senat AS saat itu, Chuck Schumer, menyatakan, “Kasus Epstein menunjukkan bagaimana kekayaan dan koneksi dapat membelokkan keadilan. Kita membutuhkan pengungkapan penuh terhadap semua pihak yang terlibat.”
Pernyataannya menegaskan pengakuan lintas partai bahwa pengaruh Epstein merupakan penyakit sosial. Bill Gates, Donald Trump, dan Bill Clinton semuanya menghadapi sorotan atas hubungan mereka dengan Epstein, meskipun masing-masing membantah melakukan pelanggaran.
Namun, fakta bahwa nama-nama tersebut muncul dalam berkas-berkas itu menunjukkan bagaimana Epstein memosisikan dirinya sebagai perantara pengaruh, bukan sekadar seorang predator.
Berdasarkan jutaan dokumen yang mereka miliki, para penyelidik Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengetahui skala skandal tersebut. Mereka tahu bahwa ini bukan semata soal pelecehan, melainkan soal daya ungkit.
Epstein mengumpulkan rahasia, dan rahasia adalah mata uang. Mata uang itu tampaknya digunakan dengan cara-cara yang melampaui keuntungan pribadi, mengarah pada manipulasi geopolitik.
Keterkaitan Epstein dengan Zionis
Spekulasi mengenai keterkaitan Epstein dengan intelijen ‘Israel’ kian menguat. Meski bukti definitif masih sulit diperoleh, bukti-bukti tidak langsungnya mencolok. Rekan terdekat Epstein, Ghislaine Maxwell, adalah putri Robert Maxwell, seorang taipan media yang bekerja erat dengan Mossad.
Para pakar intelijen berpendapat bahwa operasi Epstein menunjukkan ciri-ciri skema kompromat klasik: memancing/menjebak tokoh-tokoh berkuasa ke situasi yang memalukan, merekam buktinya, lalu memanfaatkannya sebagai alat tekanan.
Jika Epstein memang berfungsi sebagai aset ‘Israel’, implikasinya sangat besar. Dengan menekan/meneror kalangan bangsawan, duta besar, dan pebisnis Arab, ‘Israel’ akan memperoleh daya ungkit luar biasa dalam negosiasi diplomatik, kesepakatan dagang, dan pengaturan “keamanan”.
Di kawasan yang aliansinya cepat berubah, daya ungkit semacam itu dapat menggeser keseimbangan kekuatan secara halus, tetapi menentukan.
Siapa yang Diuntungkan dari Keheningan?
Pertanyaan utamanya bukan hanya siapa yang terlibat, melainkan siapa yang diuntungkan—dan siapa yang terus diuntungkan—dari apa yang masih disembunyikan.
Anggota Kongres Ro Khanna, salah satu penggagas Epstein Files Act, mempertanyakan mengapa 2,5 juta halaman dokumen masih belum dirilis.
Para pengacara korban juga meminta hakim federal memerintahkan situs web DOJ diturunkan, dengan alasan bahwa rilis tersebut kembali melukai para penyintas akibat penyensoran (redaksi) yang tidak konsisten.
Catatan-catatan itu menegaskan sebuah pola yang jelas: jaringan pria-pria berpengaruh tetap terhubung dengan seorang pelaku kejahatan seksual yang telah diketahui, jauh setelah kejahatannya terungkap.
Namun, dokumen tersebut belum membuktikan adanya konspirasi kriminal yang lebih luas yang melibatkan pihak lain selain Epstein dan Maxwell.
Kesimpulan DOJ bahwa tidak ada bukti pemerasan diperdebatkan oleh mereka yang meyakini bahwa struktur operasi Epstein itu sendiri—pencatatan yang sangat teliti, tamu-tamu berkuasa, pulau pribadi—menunjukkan bahwa daya ungkit dan pemerasan adalah tujuan utamanya.
Jaringan Pemerasan
Polanya jelas: Epstein membangun akses ke kalangan elite, menjebak mereka dalam situasi yang memalukan, dan menyimpan catatan secara terperinci. Ini bukan kebejatan acak—melainkan pemerasan yang sistematis.
Pulau Epstein bukan sekadar tempat bermain, melainkan jebakan. Setiap tamu adalah aset potensial. Berkas-berkas itu menunjukkan bahwa operasi Epstein dirancang untuk menciptakan daya ungkit, bukan sekadar pemuasan hasrat.
Kegunaan geopolitik dari daya ungkit semacam itu sangat jelas. Dalam perundingan penjualan senjata, perjanjian dagang, atau pengakuan diplomatik, kemampuan untuk membungkam atau memengaruhi para pengambil keputusan sangatlah berharga.
Jika zionis ‘Israel’ memang diuntungkan dari kompromat Epstein, hal itu akan menjadi salah satu operasi intelijen paling berani pada era modern.
Konsekuensi dan Akuntabilitas
Dampak skandal Epstein bersifat jangka panjang. Reputasi hancur, institusi tersingkap, dan aliansi dipertanyakan. Namun, akuntabilitas tetap sulit diraih.
Pangeran Andrew menarik diri dari kehidupan publik, tetapi tidak menghadapi tuntutan pidana. Para elite Amerika terus membantah kesalahan. Banyak pemimpin internasional masih tak disebutkan namanya.
‘Israel’, jika memang diuntungkan dari operasi Epstein, tidak menghadapi pengawasan apa pun. Seruan Chuck Schumer untuk “pengungkapan penuh terhadap semua pihak yang terlibat” belum terjawab.
Tuntutan Keir Starmer akan “akuntabilitas dan transparansi” disambut keheningan. Pengakuan DOJ bahwa Epstein mengumpulkan rahasia, tidak berlanjut pada penuntutan terhadap para pihak yang memungkinkannya. Dunia dibiarkan dengan potongan-potongan kebenaran, tetapi tanpa keadilan.
Bayang-Bayang yang Bertahan
Berkas Epstein lebih dari sekadar skandal; ia adalah studi kasus tentang bagaimana kekuasaan, kerahasiaan, dan eksploitasi saling berkelindan.
Berkas-berkas itu menyingkap sebuah sistem, yakni elite dikompromikan, keadilan dibelokkan, dan geopolitik dimanipulasi melalui pemerasan.
Apakah Epstein merupakan aset ‘Israel’, mungkin belum terbukti secara terang benderang. Namun, bukti-bukti tidak langsung, logika strategis, dan implikasi geopolitiknya semuanya mengarah ke sana. (Middle East Monitor)
*Diterjemahkan dari tulisan Jasim Al-Azzawi di situs Middle East Monitor.
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
