Ramadan Ketiga pada Masa Genosida: Warga Gaza Teguh Bertahan di Tengah Kehancuran dan Kehilangan
20 February 2026, 14:17.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Tiga tahun berturut-turut, penduduk wilayah Gaza menyambut Ramadan di tengah agresi terbuka penjajah yang tak kunjung usai sejak 7 Oktober 2023.
Bulan yang dulu identik dengan jalanan berhias lampu, pasar yang ramai, dan aroma manis qatayef kini berubah menjadi hamparan tenda, ketiadaan pekerjaan, makanan seadanya, serta rumah-rumah yang luluh lantak.
Jika dulu persiapan Ramadan dimulai berminggu-minggu sebelumnya—rak toko dipenuhi pasta aprikot dan kurma pilihan, lentera menghiasi gang-gang permukiman—kini pertanyaan paling mendasar warga Gaza jauh lebih sederhana: “Bagaimana memastikan ada makanan untuk berbuka?”
Perdagangan Muncul dari Bawah Tenda
Di Khan Yunis, Zaher al-Qidra berdiri di depan sisa-sisa “Pasar Swalayan Al-Qidra” miliknya. Kini, toko itu hanya berupa lapak darurat di dalam tenda berlapis plastik di Jalan Pesisir Al-Rashid.
Sebelum agresi, toko milik Zaher termasuk yang terbesar di sekitar Rumah Sakit Eropa. Rak-raknya penuh dengan kebutuhan Ramadan dan selalu dipadati pembeli.
Al-Qidra mengenang masa-masa itu, menggambarkan Ramadan sebagai perayaan nasional dan keagamaan; penjualan melonjak dan perdagangan berkembang pesat.
Namun, pada Mei tahun lalu, segalanya berubah. Pengeboman brutal menghantam kawasan itu. Rudal berkekuatan tinggi jatuh tak jauh dari rumahnya.
Ia menerima telepon yang memerintahkannya mengungsi dalam hitungan menit. Setelah pergi, rumah dan tokonya hancur.
Al-Qidra memperkirakan kerugiannya mencapai hampir 2 juta dolar AS, belum termasuk kerugian akibat berhentinya usaha berbulan-bulan. Meski mencoba bangkit, tantangan terus mengadang.
Barang kebutuhan Ramadan langka, harga melonjak tak menentu. Hujan dan angin merusak dagangan di dalam tenda. Listrik sering padam, pendingin tak berfungsi maksimal.
“Kami mencoba bertahan, tetapi setiap hari selalu ada risiko baru,” katanya, khawatir serangan akan kembali dan menghilangkan sisa yang masih ia miliki.
Meja Makan Bergantung pada Dapur Amal
Di sisi lain, keluarga-keluarga muhajirin menghadapi kenyataan yang lebih getir. Shaima Abu Hammam (35), warga Jabalia di Gaza utara, kini mengungsi ke selatan bersama keluarganya. Ramadan tahun ini datang tanpa persiapan.
“Kami hidup dari hari ke hari. Jika hari ini bisa ada makanan di meja, kami bersyukur. Namun, untuk besok, kami tidak tahu,” ujarnya.
Harga yang melambung membuatnya tak mampu membeli kebutuhan dasar sahur, seperti yogurt dan kurma. Untuk berbuka, keluarganya bergantung pada dapur umum. Kelangkaan gas dan sulitnya menyalakan api di dalam tenda membuat memasak hampir mustahil.
“Saya hanya berharap bulan ini berlalu dengan selamat,” katanya lirih. Suaminya berusaha mencari pekerjaan serabutan agar keluarga tetap bisa merasakan sedikit suasana Ramadan.
Kisah serupa datang dari Ayman Mhanna (57), pensiunan yang terpaksa mengungsi dari Rafah ke kawasan Mawasi, Khan Yunis.
Dulu, gajinya cukup untuk kebutuhan sederhana. Kini, pembayaran yang tak menentu dan harga yang meroket membuatnya tak lagi mampu mencukupi kebutuhan dasar.
“Kami dulu hidup sederhana, tetapi stabil,” katanya. “Ramadan seolah tak mengubah apa pun. Kami sudah berpuasa karena keadaan selama berbulan-bulan.”
Ramadan Tanpa Abdullah
Namun, di atas kemiskinan dan kelaparan, ada luka yang lebih dalam: kehilangan.
Fouad Thabet dari Deir al-Balah menjalani Ramadan pertamanya tanpa putranya, Abdullah. Sang anak tewas dalam serangan udara yang menghantam Kamp Deir al-Balah pada hari terakhir Ramadan tahun lalu.
Ia mengenang bagaimana Abdullah menghitung hari menjelang Idulfitri, ingin membelikan pakaian baru untuk saudara-saudarinya.
“Pada hari terakhir Ramadan itu, dia pergi dan tak pernah kembali. Sejak saat itu, segalanya berubah,” ujar Thabet.
“Meja makan terasa tak lengkap. Suaranya tak ada. Kami berpuasa dan salat, tetapi sesak di dada ini tak terucapkan,” katanya. Bagi Thabet, Ramadan bukan lagi masa menyambut Idulfitri, melainkan musim mengenang hari ketika lingkaran keluarganya terputus.
Duka Seorang Ayah
Munir Abu al-Atta memikul kesedihan yang tak kalah berat. Ia kehilangan dua putranya di awal perang, ketika serangan menghantam Masjid Al-Salam di Deir al-Balah. Kedua anaknya adalah tulang punggung hidupnya.
“Saya tak punya siapa-siapa selain mereka,” katanya. “Setiap azan Magrib, saya seperti mendengar mereka bergegas untuk berbuka. Sekarang saya duduk sendiri. Ramadan dulu menyatukan kami. Kini, ia mengingatkan saya pada kehilangan di setiap detik.”
Menurutnya, rasa sakit itu tak sekadar hadir saat Ramadan, tetapi menguat pada bulan yang seharusnya penuh kebersamaan.
Ekonomi Runtuh, Daya Beli Lenyap
Pakar ekonomi Maher al-Tabba menggambarkan Ramadan kali ini datang di tengah keruntuhan total. Setelah lebih dari dua tahun agresi genosida, tingkat kehilangan pekerjaan mencapai sekitar 80 persen.
Kemiskinan melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perekonomian menyusut tajam, menghantam daya beli masyarakat.
Harga sejumlah barang naik lebih dari 300 persen dibanding sebelum perang. Pada saat yang sama, pasar mengalami kelesuan parah akibat minimnya perputaran uang dan lemahnya permintaan.
Kini, keluarga-keluarga membatasi belanja hanya untuk kebutuhan paling mendesak. Di Gaza, perayaan telah digantikan oleh perjuangan untuk bertahan hidup. Bulan suci tetap datang. Warga tetap berpuasa. Di antara kehilangan dan kehancuran, tekad untuk hidup dan bertahan tetap teguh. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
