Media Tutupi Kisah Ibrahim Zaza; Bocah Gaza yang Dibom Zionis

15 October 2011, 14:22.

JAKARTA, Sabtu (Sahabatalaqsha.com): “Kedua lengan Ibrahim dipotong. Sebuah lubang menganga di paru-parunya. Beberapa bagian dari kakinya hilang. Ginjalnya dalam kondisi buruk. Kami butuh orang-orang yang rela mendampingi kami, di sisi kami,” tutur seorang lelaki yang tampak terlalu letih itu saat menjelaskan kondisi anaknya yang sekarat kepada situs The Real News.

Ibrahim Zaza adalah seorang anak lelaki berusia dua belas tahun. Ia dan sepupunya, Mohammed, 14 tahun, diserang misil Zionis. Ditembakkan dari pesawat berawak saat sedang bermain di depan rumah mereka di Gaza.

Disembunyikan Media

Kisah ini terjadi 18 Agustus lalu. Keesokan harinya, harian British Telegraph menurunkan berita: “Israel” Melawan Serangan Militan di Perbatasan Mesir. Serangan-serangan Zionis terhadap Gaza, penghancuran desa-desa, dan pelanggaran hak asasi manusia tidak disebutkan sama sekali oleh para reporter. Hal ini membuat semua orang bertanya mengapa selalu menggunakan sudut pandang tentara Zionis dalam menyampaikan cerita?

Rakyat Palestina dihukum atas sebuah serangan yang terjadi di perbatasan “Israel” dan Mesir. Tidak ada bukti bahwa Gaza terlibat dalam serangan tersebut. Bahkan Mesir mencurigai bahwa “Israel” berperan dalam kejadian itu.

Di dunia media, persoalan Palestina hanya terasa penting ketika sejumlah besar manusia menjadi korban. Bahkan, alih-alih menunjukkan simpati, media justru menyalahkan militan Palestina adalah pihak yang bertanggung jawab. Sementara “Israel” hanya mempertahankan diri demi keamanan.

Kata “keamanan” pun hanya boleh digunakan oleh Zionis. Keamanan Palestina sama sekali tidak diperhitungkan, meski ribuan rakyat Gaza telah dibunuh selama tiga tahun terakhir.

Kursi Roda

Ayah Ibrahim Zaza, yang mengantongi izin untuk menemani Ibrahim dan Mohammed ke Rumah Sakit “Israel”, ditahan di rumah sakit tersebut karena dianggap mengancam keamanan. Ia pun terus mengelilingi tubuh lemah anaknya. Sambil berharap dan berdoa.

Ia meminta dukungan orang-orang untuk membantunya membeli kursi roda. Karena ia berpikir Ibrahim akan membutuhkannya begitu ia bangun.

Akan tetapi, Ibrahim tidak lagi membutuhkan kursi roda. Ia juga tidak lagi butuh pengobatan untuk luka-lukanya, untuk kakinya yang lepas seluruh kulitnya, untuk perutnya yang terkoyak.

Kematian Ibrahim hanya menarik sedikit, jika memang ada, pemberitaan media. Tidak ada fitur New York Times. Tidak ada ulasan foto sang ibu yang menangis dan masyarakat yang menderita. Tidak akan ada perdebatan mengenai pesawat tempur Zionis yang digunakan untuk membunuh rakyat sipil.

Keberadaan Ibrahim amatlah singkat. Kepergiannya tidak dirasakan orang-orang di luar keluarganya.

“Logika” Tak Masuk Akal

Dalam laporan video The Real News, Lia Tarachansky berbicara kepada Letkol Avital Leibowitz, juru bicara Pasukan Pertahanan “Israel”.

Lia Tarachansky: “Hanya ada satu tembakan misil. Sementara menurut para saksi, tembakan tersebut memang ditargetkan kepada dua anak berusia 12 dan 14 tahun yang sedang duduk di depan rumah mereka.”

Avital Leibowitz: “Logikanya, apabila seseorang mencoba meluncurkan roket kepada kita. Maka lebih baik menarget orang tersebut sebelum kita yang menjadi target.”

Foto Ibrahim Zaza yang tersenyum sipu, menjadi saksi satu lagi korban “logika” Zionis yang tidak masuk akal. (AM/Sahabat Al-Aqsha)

SALURKAN INFAQ TERBAIK ANDA

 

DONASI

 

Sampaikan Infaq terbaik anda melalui rekening

Donasi Palestina:
Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799800009 

an. Sahabat Al Aqsha Yayasan

Donasi Suriah:
Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799880002 

an. Sahabat Al Aqsha Yayasan

Untuk konfirmasi donasi anda, silakan klik di sini.

atau SMS ke
+62 877 00998 009 atau
+62 877 00998 002

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dongeng Nyata Tahanan Palestina
Begitu Tahanan Palestina Terakhir Sampai di Tepi Barat dan Mesir, Baru Shalit Dilepaskan »