Impian Nenek Maryam Al-Hout Kembali ke Kampungnya
27 May 2012, 14:50.
JAKARTA, Ahad (Sahabatalaqsha.com): Maryam al-Hout (dikenal juga sebagai ummi Hasan) saat ini sudah menginjak usia 80-an akhir. Sehari-hari, ia melayani para pembeli yang datang ke sebuah toko furnitur milik cucunya, Mohammad di Selatan Jalur Gaza.
Seperti dikutip dari wawancaranya dengan laman Electronic Intifada, ummi Hassan adalah salah seorang warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari desa kelahirannya di Julis selama peristiwa Nakbah (pembersihan etnik oleh Zionis yang berujung pada pembentukan negara ‘Israel’ pada 1948).
Sebelum peristiwa itu, ia tinggal di sana bersama almarhum suaminya, Abu Hasan dan kedua orangtuanya. Desa Julis berada di dekat Asqalan yang kini dikenal sebagai Ashkelon.
“Serdadu-serdadu ‘Israel’ menginvasi daerah di dekat desa Beit Daras. Kami lalu pindah ke Asqalan dan tinggal di sana sekitar enam bulan,” kenangnya. “Setelah itu, kami mendengar hal-hal menakutkan tentang Deir Yassin, sebuah kota di dekat Yerusalem. Kami mendengar kaum pria, perempuan dan anak-anak dibantai. Ketakutan kami semakin besar. Dan saat itu, penduduk Julis, termasuk suami saya, Abu Hasan mendapat senapan untuk membela diri,” kata ummi Hasan.
Ia melanjutkan, “Kami diberi tahu bahwa di Asqalan dan desa-desa di dekatnya ada pasukan bersenjata Arab dan Mesir yang datang ke Palestina untuk membela negara ini. Pada saat itu, seluruh penduduk desa Julis, termasuk keluarga besar saya, yakni kedua anak lelaki saya dan suami saya meninggalkan Julis. Ada beberapa orang-orang tua yang tetap tinggal di sana. Kami tinggal di Asqalan sampai perang berhenti. Dalam perang itu, tentara Arab kalah dan kami terpaksa mengungsi ke daerah di dekat Jalur Gaza”.
“Kami bepergian dengan unta sewaan hingga kami tiba di Rafah. Di Rafah, kami berhenti di bukit Tal Zorob sampai badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) datang mendistribusikan selimut dan makanan. Saat itu jumlah rombongan kami ratusan orang. Beberapa hari kemudian UNRWA membantu mendirikan tenda untuk kami,” sambung ummi Hasan.
Masa Kecil Bahagia
Ummi Hasan memiliki masa kecil yang bahagia. Saat usianya lima tahun, ia sering ikut bersama keluarganya memanen gandung, anggur dan buah ara. “Desa Julis dulu seperti surga,” tuturnya.
“Ayah saya dulu memiliki dua perkebunan, satu kebun buah ara dan satu lagi anggur. Rumah saya dulu terbuat dari lumpur. Saya biasa mengambil air minum dari sebuah sumur di lahan pertanian kami. Alhamdulillah, daerah kami sering turun hujan lebat. Dulu kami biasa membuat roti gandung menggunakan kompor api yang terbuat dari lumpur”.
“Saat ada perayaan umat Muslim, para wanita akan membuat kue dan manisan. Dan kami akan pergi ke pantai membawa manisan dan makanan lain, seperti kuskus,” kenang ummi Hassan.
Saat ini sudah lebih dari enam dekade ia diungsikan dari desa kelahirannya. Namun ummi Hasan masih menyimpan harapan untuk kembali ke Julis. “Saya berharap semua yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Gaza akan kembali lagi ke tanah kelahirannya suatu saat, tidak peduli bagaimana reaksi ‘Israel’ nantinya,” ujarnya.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
