Hari Ini, 22 Tahun Lalu, Seorang Yahudi Tembak Mati Jamaah Shalat Subuh di Masjid Ibrahimi
25 February 2016, 15:24.

Setelah serangan Goldstein, Masjid Ibrahimi ditutup selama sembilan bulan untuk perbaikan intensif dan pembersihan. Semua karpet yang berlumuran darah, diganti. Foto: Rich Wiles/Al Jazeera
AL-KHALIL TERJAJAH, Kamis (Al Jazeera | Infopalestina): Hari ini tepat 22 tahun insiden pembantaian kaum Muslim di Masjid Ibrahimi, Al-Khalil. Pada 25 Februari 1994 bertepatan dengan 15 Ramadhan 1414 H, seorang dokter militer ‘Israel’ kelahiran Amerika Serikat berjalan masuk ke dalam Masjid Ibrahimi di Al-Khalil bersenjatakan sebuah senapan serbu Galil. Ia adalah Baruch Goldstein, pria yang berimigrasi ke ‘Israel’ pada tahun 1983 dan tinggal di permukiman ilegal Yahudi Kiryat Arba yang terletak di pinggiran kota.
Itu hari yang masih sangat pagi di bulan suci Ramadhan dan ratusan warga Palestina sedang melaksanakan shalat subuh. Ketika jamaah tengah bersujud, Goldstein melepaskan tembakan. Ia mengisi ulang senjatanya dengan peluru setidaknya sekali, serta terus memberondong jamaah dengan peluru sebelum akhirnya disergap dan dipukuli hingga tewas. Aksi brutalnya itu mengakibatkan 29 jamaah tewas dan lebih dari seratus orang terluka.
Penjajah Zionis segera merilis pernyataan yang mengecam aksi tersebut, serta menyatakan bahwa Goldstein beraksi sendiri dan mengalami gangguan psikologis. Goldstein menimba ilmu di sekolah berhaluan ekstrem. Ia menjadi pakar khusus terorisme dari gerakan Kach. Goldstein berlatih di salah satu kamp militer di wilayah Palestina terjajah 1948 dan terkenal memiliki kebencian mendalam terhadap Arab. Saat melakukan pembantaian, ia mengenakan seragam militer. Usai pembantaian, Goldstein dikubur di Kiryat Arba dan makamnya dianggap suci oleh warga Yahudi.
Pembantaian keji itu diberitakan secara luas oleh media-media internasional. Namun, menurut sebagian besar warga Palestina di kota tersebut, cerita sebenarnya mengenai insiden tersebut tak pernah terungkap.
Syuhada pada hari itu bukan hanya 29 orang yang terbunuh di dalam masjid. Penduduk setempat memperkirakan, angka akhir kematian antara 50-70 orang dan diperkirakan 250 orang menderita luka-luka setelah hari pembantaian. Karena, usai serangan awal di dalam masjid, lebih banyak lagi warga Palestina yang tewas oleh tentara Zionis saat melakukan aksi demonstrasi di luar masjid, di luar rumah sakit Ahli Al-Khalil, dan bahkan di pemakaman setempat dimana para syuhada dimakamkan.
Beberapa orang yang selamat dari pembantaian tersebut juga menyatakan bahwa mereka ditembak oleh penembak kedua di dalam masjid, dan menyatakan itu merupakan serangan terencana yang diketahui betul oleh militer ‘Israel’ sebelumnya. Tak ada seorang pun di kota itu yang percaya cerita versi pejabat ‘Israel’ bahwa Goldstein benar-benar beraksi sendiri sehingga layak disebut menderita gangguan jiwa. Saat kejadian, penjajah melarang warga mengevakuasi jasad korban dan gerbang Masjid Ibrahimi ditutup.
Usai pembantaian, penjajah Zionis memerintahkan 520 toko tutup dan tetap tutup hingga kini. Jalan Syuhada, jalan utama menuju kota, kemudian ditutup. “Satu-satunya cara untuk bisa melewati jalan ini adalah menjadi orang ‘Israel’ atau orang asing. Bagi warga Palestina, ini merupakan wilayah jalan buntu,” kata Alan Fisher dari Al Jazeera. Selanjutnya, seperti sudah diketahui, penjajah Zionis membagi Masjid Ibrahimi menjadi dua bagian, untuk Yahudi dan Muslim. Masjid ini seringkali digunakan penjajah untuk menyelenggarakan perayaan Yahudi dan suara adzan dilarang berkumandang.* (Al Jazeera | Infopalestina | Sahabat Al-Aqsha)

Hakam Tahboob telah menjadi penjaga masjid selama 31 tahun dan ia ada di tempat kejadian saat insiden pembantaian. “Goldstein biasa datang setiap malam dan melakukan ritual di Makam Yakub. Kini kami tahu bahwa ia sudah mengamati kami dan merencanakannya. Penjajah Zionis ingin kami angkat kaki dari masjid.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Usai pembantaian, militer Zionis membagi Masjid Ibrahimi menjadi dua bagian –memberikan akses eksklusif lebih dari setengahnya, termasuk seluruh taman yang mengelilingi masjid, kepada para pemukim ilegal Yahudi dan pengunjung Yahudi. Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Diperkirakan 1.000 serdadu Zionis, beberapa dari mereka merupakan pemukim ilegal Yahudi, mangkal di markas militer pusat kota permukiman ilegal Yahudi di Al-Khalil. Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Alaaldin Jabari telah menjadi penjaga masjid sejak sebelum terjadinya pembantaian. Ia mengatakan, “Goldstein masuk menggunakan headphone dan kippa. Ia masuk melalui satu pintu dan berencana keluar dari pintu ujung, tapi ditutup. Mayat dan darah ada di mana-mana.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Peluru yang menerjang Kamal Abdeen melintasi tenggorokannya saat ia berbalik ke arah Goldstein. Ia sempat koma selama empat bulan sebelum akhirnya sadar, namun tetap lumpuh dari dada ke bawah. “Serdadu selalu menggeledah kami sebelum memasuki masjid dan kami harus melewati detektor logam,” katanya. “Hari itu mesin dimatikan dan tidak ada seorang pun yang menggeledah kami. Hanya ada sedikit serdadu, mereka hanya bersantai dan tertawa-tawa. Mereka berpikir tidak seorang pun bisa keluar hidup-hidup.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Hamadi al-Mohtesab sebagian tubuhnya lumpuh usai ditembak tiga kali di dalam masjid. “Saya berbalik dan melihat seorang pemukim ilegal Yahudi di belakang saya menembak saya dan kemudian saya ditembak dari sisi lainnya. Saya tidak tahu siapa yang menembak saya, tapi itu bukan Goldstein. Saya ditembak tiga kali di bagian lain tubuh saya. Saya sama sekali tidak bisa melihat setelah itu, tapi saya masih bisa mendengar dan mendengar orang-orang berkata bahwa para serdadu telah menutup pintu gerbang utama, jadi kami tidak bisa keluar. Saat kami berada di ambulans kami diberhentikan di pos pemeriksaan di Beit Ummar. Para serdadu membiarkan kami begitu lama di pos pemeriksaan dan teman saya yang juga terluka akhirnya meninggal dunia di dalam ambulans. Memori itu tidak pernah akan bisa pudar dari ingatan. Orang-orang bilang, saya tidak lagi bisa tertawa.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Suami Fatima Hamis al-Jabari, Suleiman, tewas oleh Goldstein saat pembantaian. “Suami dan saya, serta dua anak lelaki kami saat itu ada di masjid. Lelaki dan wanita shalat terpisah sehingga ketika mendengar tembakan saya hanya berpikir tentang suami dan anak-anak saya. Saat penembakan mulai terjadi suami saya berupaya melindungi anak lelaki bungsu kami, Sari, yang masih berusia delapan tahun. Suleiman ditembak dari belakang dan peluru menembus tubuhnya dan Sari. Suami saya tewas dan isi perut Sari berhamburan keluar. Kami pikir dia akan meninggal juga, tapi ia bisa bertahan setelah sebulan dirawat di rumah sakit.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Beberapa jam setelah pembantaian, banyak orang yang pergi ke rumah sakit untuk mendonorkan darah mereka bagi korban yang terluka. Arafat Bayaat tertembak dan terbunuh oleh para serdadu Zionis di luar Rumah Sakit Ahli di Al-Khalil usai mendonorkan darah. Istrinya, Hala, mengingat hari itu, “Ia pergi untuk membuka toko seperti biasanya, namun mendengar kabar pembantaian itu. Jadi, ia pergi ke rumah sakit untuk mendonorkan darah. Saat ia keluar dari rumah sakit sebuah ambulans tiba dan teman Arafat ada di ambulans itu. Ia sudah meninggal dunia. Arafat marah dan mengambil batu untuk dilempar ke arah para serdadu yang ada di sekitar rumah sakit. Saat ia berdiri, serdadu Zionis menembak jantungnya sekali.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Untuk mencapai Masjid Ibrahimi, warga Palestina kini harus melewati beberapa pos pemeriksaan militer yang permanen maupun tidak permanen, yang mengelilingi Kota Tua. Banyak dari warga Palestina di Al-Khalil menghindari daerah ini karena keberadaan para serdadu dan pemukim ilegal Yahudi. Foto: Rich Wiles/Al Jazeera

Jamal Maraqa, pemilik toko di Kota Tua dekat masjid. “Segalanya berubah setelah pembantaian itu. Para pemukim ilegal Yahudi diberikan separuh dari masjid dan Al-Khalil kemudian dibagi menjadi wilayah H1 dan H2. H2 hanya diperuntukkan bagi pemukim ilegal Yahudi. Mereka merampas rumah-rumah dan toko-toko kami. Para serdadu Zionis melempar saya keluar dari toko kami dan mengelas pintu-pintunya. Saya baru kembali ke sini beberapa tahun lalu.” Foto: Rich Wiles/Al Jazeera
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
