LAPORAN KHUSUS: Naimah Berjuang Sendiri di Istanbul, Ananda dan Ibu di Denmark, Ayah Syahid di Aleppo…

18 February 2018, 21:22.
Buah-buahan sisa dari dapur hotel tempat Naimah bekerja. Foto: Sahabat Al-Aqsha

Buah-buahan sisa dari dapur hotel tempat Naimah bekerja. Foto: Sahabat Al-Aqsha

ISTANBUL, Ahad (Sahabat Al-Aqsha): Naimah duduk sabar di salah satu anak tangga di sebuah hotel mungil di kawasan Fatih, menanti tamu-tamu keluar dari kamar mereka untuk melancong di kota indah Istanbul. Begitu kamar-kamar itu kosong, maka Naimah, 32 tahun, akan masuk dan mulai membersihkannya sampai kembali nyaman ditempati.

Seorang tamu lelaki tua dari sebuah negara Arab keluar dari kamarnya dan menyapa ramah lalu mengulurkan tip 20 lira kepada Naimah. Gembira Naimah menerima dan ramah menanyakan kabar si bapak.

Cantik, jangkung, berkulit putih khas wanita Suriah, berkacamata dan berseragam putih rapi layaknya petugas cleaning service di hotel, Naimah sudah empat tahun lamanya menjadi satu dari ratusan ribu Muhajirin Suriah di Istanbul. “Saya sendirian di sini,” ujar Naimah, yang bercerai dari suaminya sesudah berulang kali disiksa sampai, suatu kali, kehamilannya gugur.

Naimah kini tinggal di sebuah “rumah” mungil tak jauh dari tempatnya kerja, dengan sewa 400 lira per bulan. Sepi sendiri. (Yang kini disebutnya “rumah” sebenarnya kios tukang cukur berukuran sekitar 2 x 4 meter. Ada satu wastafel, di bawahnya tergeletak plang bertuliskan “Kuafur” yang artinya “tukang cukur.” Ada kamar mandi mungil yang bahkan lebih kecil dari pojok yang disebutnya sebagai “dapur.” Ada kulkas mini. Televisi pemberian kawan. Sebuah sofa-bed tempatnya tidur. Dia mencuci pakaiannya dengan menumpang mesin cuci di hotel. Ketika Sahabat Al-Aqsha mengunjunginya, dia suguhi kami dengan beberapa buah apel dan pir yang sudah layu – sisa dari dapur hotel.)

Berbeda sekali kondisi tempat kos Naimah kini dengan rumahnya dahulu di Damaskus: Sebuah villa dan mobil-mobil tidak jauh dari istana kepresidenan Bashar al-Assad. Dua buah toko perhiasan emas di Damaskus dan satu lagi toko emas di Oman. Ayah Naimah kelahiran Maroko yang lalu besar, belajar, berhasil dagang dan menikah dengan ibu Naimah, di Suriah. Semua harta yang dikumpulkan ayah Naimah bertahun-tahun hancur dalam sebuah serangan udara di penghujung tahun 2011. Hanya berbekal baju di badannya dan sejumlah uang yang tersisa, Naimah, ibunya, ayahnya, lima saudara kandungnya serta anaknya, melarikan diri menuju Idlib.

Lima belas hari lamanya mereka berjalan kaki sampai ke Idlib – diselingi tidur di sembarang tempat dan menumpang bila jumpa kendaraan. Hanya dua hari bertahan di Idlib, mereka kemudian naik pesawat dari Aleppo – yang ketika itu relatif belum tersentuh perang – menuju Kairo. Tiba kabar bahwa paman Naimah sakit, maka kembalilah ayah Naimah ke Aleppo untuk menengok adiknya. Tak lama sesudah itu, sebuah serangan udara rezim Assad menghancurkan seluruh rumah si paman dan membunuh ayah Naimah.

Dari Kairo, Naimah berangkat menuju Saudi Arabia mencari nafkah. Sempat bekerja selama tujuh bulan lalu kembali ke Kairo karena ibunya semakin sakit-sakitan. Ketika itulah Naimah kemudian memutuskan untuk berhijrah lagi meninggalkan Kairo. “Hidup sulit sekali di Mesir. Tak ada pekerjaan. Suasananya tak menyenangkan.”

Maka, Naimah membawa ibunya dan anaknya ke Sudan untuk mengambil visa untuk kemudian masuk ke Turki. Sementara itu, kelima orang saudaranya terpencar-pencar mencari kehidupan mereka sendiri sebagai Muhajirin. Satu orang hijrah ke Italia, seorang lagi ke Jerman, seorang ke Swedia, seorang lagi ke Libya dan satu lagi ke Denmark; di negara-negara itu mereka berjuang mempertahankan hidup termasuk dengan bekerja di pabrik-pabrik.

Di Istanbul, Naimah dan ibu, serta anaknya sempat merasakan hidup menumpang di sebuah penampungan para wanita Muhajirin Suriah selama tiga bulan. Pada saat itu Naimah berkesempatan membawa ibunya berobat dengan hijamah dan alhamdulillah membaik. Lalu mulailah perjuangan mencari nafkah sebelum akhirnya diterima sebagai cleaning service di sebuah hotel di kawasan Fatih. Ibunya lalu memutuskan untuk ikut dengan saudara Naimah di Denmark, yang menurut Naimah lebih memudahkan urusan Muhajirin memperoleh surat-surat. Demikian pula anak Naimah yang kini bersekolah di sana.

“Saya bersyukur, Allah memberi saya kesehatan, kaki dan tangan saya kuat untuk bekerja. Alhamdulillah. Dengan bekerja ini saya bisa mengirim uang ke Denmark, 600 lira untuk biaya sekolah anak saya, dan 400 lagi sebagai bantuan untuk biaya hidup ibu saya.”

Naimah bekerja sejak pagi sampai pukul lima sore. Antara Maghrib dan Isya biasanya dihabiskannya dengan berdiam diri dan mengaji bersama sekelompok wanita Turki dan Suriah di Masjid Al-Fatih. Belum lama ini dia berhasil menyelesaikan kursus hijamah selama enam bulan dari seorang ahli, Dr Naguib Mahfouz dari Mesir, dan mempraktikkan ilmunya bagi kawan-kawannya sesama Muhajirin. Naimah juga sangat lancar berbahasa Turki sebab belajar dari teman-teman sekerjanya.

Nasib dan pengalaman hidupnya menyebabkan Naimah sangat sensitif kepada penderitaan kaum Muslimin. “Di seluruh dunia ummat ini sedang diuji Allah. Di Myanmar. Di Suriah. Di Palestina. Saya marah melihat apa yang terjadi di Palestina! Saya mencintai Masjidil Aqsha lebih daripada saya mencintai tanah air saya, Suriah.”

Apa yang terlintas di benak Naimah ketika serangan udara Assad menghancurkan rumah dan semua isinya? “Suatu saat in syaa Allah saya akan kembali ke Suriah, atau saya ingin mati syahid bersama anak saya di Masjidil Aqsha,” Naimah berazam.* (Sahabat Al-Aqsha)

 

INFAQ SURIAH:

Bank Syariah Mandiri

No. Rek 77 55 12345 7

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan

BNI SYARIAH

No. Rek 77 55 12345 6

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan (Suriah)

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Laporan Khusus 2017 Februari - Suriah

« LAPORAN KHUSUS: Dari Seorang Relawan Kepada Ibu-ibu Indonesia
LAPORAN KHUSUS: Lana dan Batul Berjuang Memeluk Al-Quran di Istanbul »