LAPORAN KHUSUS: Anak Suriah di Jalan-jalan Istanbul

18 February 2018, 21:50.
Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

ISTANBUL, Ahad (Sahabat Al-Aqsha): AISYAH duduk membungkuk di dekat roda sebuah mobil yang terparkir di jalan utama kawasan Fatih, Istanbul. Jaket pink-nya sudah pudar dan mulai kekecilan. Angin dingin 7 derajat Celcius bulan Desember memaksanya menyembunyikan kepalanya di balik tudung jaketnya. Di depannya ada beberapa bungkus kecil tisu.

Gadis pengungsi Suriah berusia sepuluh tahunan ini menunggu ada orang yang melihat ke arahnya, berhenti, mengulurkan koin satu lira dan mengambil sebungkus tisu. Dia sudah pandai membaca wajah dan bahasa tubuh – baik orang Suriah, Turki maupun bangsa lain. Kalau dilihatnya ada seseorang memandang ke arahnya, matanya nampak bersimpati, tapi tak berhenti dan membeli dagangannya, maka tak segan Aisyah akan berlari mendekatinya, memberi isyarat dengan tangan ke mulut dan perutnya untuk memberitahu bahwa dia lapar.

Aisyah mengaku dari kawasan Thariq al-Bab, Aleppo. Hijrah bersama ibunya sebab bapaknya sudah syahid di Aleppo. Mungkin benar, mungkin tidak. Mungkin namanya Aisyah, mungkin bukan. Adik Aisyah, anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun, mengaku bernama Ayyub. Tapi Aisyah bilang, “kadzib” alias “bo’ong.” Belakangan Aisyah mengakui adiknya bernama Jihad.

Aisyah dan Ayyub atau Jihad hanyalah dua dari entah berapa anak pengungsi Suriah yang menjadi anak jalanan di Turki. Di pasar sebelah Masjid Al-Fatih mereka berbaur dengan pedagang dan pengunjung, berbaur pula dengan para pengungsi Gypsi, dengan ahlinya menandai siapa yang kelihatannya mudah ditarget untuk dimintai uang. Biasanya tentu saja para turis atau pendatang.

Sehari mereka bisa dapat lebih dari 10 lira – dan itu sungguh sangat lumayan untuk membantu kehidupan Muhajirin di kawasan pertokoan seperti Fatih. Sewa rumah mungil berkamar tiga dengan kamar mandi dan dapur sempit di kawasan Yavuz Selim, misalnya, di balik deretan pertokoan Fatih, sekitar 1000 lira. Kos satu kamar berukuran 2 x 3 meter bisa mencapai 400 lira.

Mengemis sejak pagi, anak-anak ini tak bersekolah. Tak bisa baca, apalagi tulis. Belum sempat belajar Bahasa Turki dengan baik, namun tak pula bisa berbahasa Arab dengan baik. Bahasa percakapan mereka adalah ammiyah – bahasa jalanan.

Tidak seperti anak-anak di Gaza dan Damaskus sebelum perang, anak-anak ini tak hidup bersama Al-Quran. Al-Fatihah mereka masih hafal, tapi tiga Qul pun mereka tak tahu. Akhlaq dan adab Islami yang menjadi ciri anak-anak Tanah Syam tak mereka miliki – mereka bicara kasar dan saling pukul, makan dan minum dengan tangan kiri, serta pergi ke toilet tanpa mencuci tangan sesudahnya.

Hambatan Akses Pendidikan di Turki
Anak-anak jalanan Suriah di Fatih, Istanbul, adalah masa depan ummat yang dirusak oleh kehidupan mereka kini. Jangankan Al-Quran, pendidikan Turki pun tak mereka dapatkan.

Sebelum perang, hampir semua anak Suriah bersekolah. Kini, menurut UNICEF, ada sekitar tiga juta anak di dalam dan di luar Suriah yang tak bersekolah. Di dalam 21 kamp pengungsian Turki yang dikelola pemerintah, sekitar 90 persen anak Muhajirin Suriah di dalamnya secara teratur bersekolah. Namun, mereka ini hanyalah sekian persen dari keseluruhan jumlah Muhajirin anak Suriah di Turki. Sebagian besar anak Suriah di Turki tinggal di luar kamp, seperti di Fatih, Istanbul ini, dan justru di pusat-pusat kota inilah mereka tak bersekolah. Dalam periode 2014-2015, menurut Human Rights Watch (HRW), hanya 25 persen Muhajirin anak Suriah bersekolah.

Rata-rata, anak-anak Suriah ini kehilangan sedikitnya dua tahun masa sekolah akibat perang. Baik karena gedung-gedung sekolah yang dihancurkan oleh rezim maupun kelompok bersenjata, atau berulangkali harus libur sebab hujan peluru. Setibanya mereka di Turki, gangguan bersekolah ini jadi lebih panjang atau bahkan permanen sebab rendahnya akses memasuki sekolah Turki.

Pemerintah Turki sudah mengambil berbagai langkah untuk melaksanakan ketetapan hukum internasional, yaitu terjaminnya akses ke pendidikan dasar bagi semua anak, serta terbukanya akses ke pendidikan lanjutan. Pada 2014, misalnya, Turki mencabut keharusan warga Suriah memiliki iqamah (izin tinggal) Turki untuk mendaftarkan anak ke sekolah. Sebaliknya, pemerintah justru membuka kesempatan belajar bagi semua anak Suriah selama mereka memiliki identitas diri yang dikeluarkan pemerintah. Turki juga mengakreditasi “pusat-pusat belajar sementara” berbahasa Arab yang disetujui oleh Pemerintah Suriah Interim – sebuah pemerintahan oposisi Suriah di Turki.

Namun, tentu saja belum semua anak dapat tertampung di sekolah-sekolah di Turki. Data 2015 menunjukkan ada sekitar 708.000 anak pengungsi Suriah berusia antara lima sampai 17 tahun di Turki selama empat tahun terakhir; hanya sepertiga di antaranya diserap oleh sekolah-sekolah yang ada termasuk pusat-pusat belajar sementara. Itu artinya pada 2015 ada sekitar 485.000 anak Suriah yang mendapat akses pendidikan.

Ada sejumlah hambatan bagi anak-anak Suriah, terutama yang tinggal di luar kamp, untuk mengakses pendidikan di Turki:

1. Hambatan bahasa: Kebanyakan anak Suriah yang berbahasa Arab mengalami kesulitan bahasa di sekolah berbahasa Turki. Anak-anak yang lebih mudah belajar biasanya lebih cepat menyerap dan belajar Bahasa Turki, namun kemudian kesulitan mempertahankan Bahasa Arab mereka. Seorang ibu Suriah mengeluh: “Dua anak terkecil saya, berumur 7 dan 9 tahun, sekarang mengobrol di antara mereka dengan Bahasa Turki. Saya tak paham. Ketika saya tanya apa yang mereka bicarakan, mereka bilang mereka tak mampu menerjemahkan sejumlah perkataan mereka karena mereka tak tahu padanannya dalam Bahasa Arab!”
2. Hambatan ekonomi: Keluarga Muhajirin –terutama di perkotaan– kesulitan mencari pekerjaan secara legal. Banyak yang akhirnya bekerja secara ilegal atau menerima pekerjaan serabutan dengan gaji rendah. Seorang wanita pengungsi Suriah bertutur: Satu keluarga pengungsi membutuhkan tiga pencari nafkah untuk bisa bertahan hidup. Satu gaji untuk membayar sewa rumah (yang di perkotaan bisa sangat mahal), satu gaji lagi untuk membayar keperluan seperti listrik dan gas, dan satu lagi untuk membeli makanan. Dari mana uang untuk membayar keperluan sekolah seperti transportasi atau alat sekolah? Menurut data resmi pemerintah Turki, sekitar 900.000 anak – baik Turki maupun non-Turki – adalah pekerja anak, dan sekitar 300.000 di antaranya berusia antara enam dan 14 tahun.

3. Hambatan integrasi sosial: Tidak sedikit anak pengungsi Suriah yang mengalami bullying atau kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan anak-anak Turki. Ini yang digambarkan oleh beberapa ibu yang diwawancara Sahabat Al-Aqsha. “Kalau tidak di-bully, anak kami merasa harus menyesuaikan diri termasuk dengan sepenuhnya berbahasa Turki atau bahkan merokok karena kawan mereka merokok.”

Sekolah Berkurikulum Suriah di Istanbul
Enam sekolah Suriah telah memulai pendidikan mereka sendiri di Istanbul pada tahun ini. Sekolah-sekolah tersebut memberikan pendidikan yang sesuai dengan kurikulum republik Arab.

Sebagian besar sekolah di Istanbul itu terletak di distrik pinggiran kota, seperti Esenyurt, Esenler, Umraniye dan Basaksehir. Sekolah di Esenyurt diresmikan pertama kali melalui kerja sama antara kota Esenyurt dan Suriah, yaitu Yayasan Pendidikan Kadimun dan sudah memiliki 13 kelas yang berbeda-beda, mulai dari kelas satu sampai kelas sebelas.

Saat ini sudah ada sekitar 619 siswa yang terdaftar di sekolah tersebut, namun 200 di antaranya masih masuk dalam daftar tunggu, kata ketua dewan sekolah, Ola Ragipoglu.
Ragipoglu mengatakan, bersama dengan oposisi Suriah, mereka sedang dalam proses menciptakan sebuah dewan pendidikan baru, yang akan mengatur semua sekolah di Turki di bawah satu payung yang sama.

Enam Miliar Dolar
Turki sudah sangat dermawan dalam memperlakukan para pengungsi Suriah yang sudah tujuh tahun terakhir ini membanjiri negeri itu. Data 2015 menunjukkan, sejauh ini Turki sudah membelanjakan sedikitnya US$6 miliar untuk berbagai fasilitas dan pelayanan bagi Muhajirin Suriah.

Kementerian Pendidikan Nasional Turki sudah menyatakan targetnya menyekolahkan 270 ribu anak Suriah pada Januari 2016, dan 370 ribu anak di penghujung tahun 2016.* (Sahabat Al-Aqsha)

 

INFAQ SURIAH:

Bank Syariah Mandiri

No. Rek 77 55 12345 7

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan

BNI SYARIAH

No. Rek 77 55 12345 6

an. Sahabat Al-Aqsha Yayasan (Suriah)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Laporan Khusus 2017 Februari - Suriah

« LAPORAN KHUSUS: ‘Suriah Kecil’ di Istanbul, ‘Rumah’ Bagi Setengah Juta Muhajirin Suriah
LAPORAN KHUSUS: Perjuangan Anak Muhajirin Suriah Menghafal Al-Qur’an »