Muhajirin Suriah: “Penutupan Pelintasan Batas Bab Al-Hawa Merupakan Pembunuhan Massal”
8 July 2021, 10:35.
![Rantai manusia dibentuk guna mendesak terus berlakunya resolusi PBB yang mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Provinsi Idlib Suriah melalui pelintasan batas dengan Turki, Bab al-Hawa, pada 2 Juli 2021 [OMAR HAJ KADOUR/AFP via Getty Images]](http://sahabatalaqsha.com/nws/wp-content/uploads/2021/07/Berita-2226-8-Juli-2021-800x533.jpg)
Rantai manusia dibentuk guna mendesak terus berlakunya resolusi PBB yang mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Provinsi Idlib Suriah melalui pelintasan batas dengan Turki, Bab al-Hawa, pada 2 Juli 2021 [OMAR HAJ KADOUR/AFP via Getty Images]
SURIAH (Middle East Monitor) – Muhajirin Suriah, yang terusir dari kampung halamannya akibat serangan rezim Bashar Assad dan sekutunya, menilai penutupan pelintasan batas Suriah dengan Turki, Bab al-Hawa, merupakan “pembunuhan massal”.
Idlib berada dalam zona de-eskalasi yang dibuat berdasarkan kesepakatan antara Turki dan Rusia.
Daerah tersebut telah menjadi titik fokus berbagai kesepakatan gencatan senjata, yang sering dilanggar oleh rezim Suriah dan sekutunya.
Anadolu melaporkan, rasa khawatir melingkupi jutaan warga sipil setelah Rusia memblokir bantuan yang masuk ke Suriah melalui pelintasan batas Bab al-Hawa – tepat di seberang gerbang perbatasan Cilvegozu di Provinsi Hatay di Turki.
Turki Sultan, yang telantar akibat serangan rezim Assad dan sekutunya di Idlib pada 2019, mengatakan kepada Anadolu bahwa ia berlindung di Kamp Mahatta di Idlib, di perbatasan Turki.
Ia mengatakan pelintasan batas Bab al-Hawa merupakan penopang penting kehidupan warga sipil yang tinggal di wilayah tersebut.
“Jika Rusia mendorong pengelolaan bantuan kemanusiaan melalui rezim Assad, sama saja memberikan hukuman mati kepada 5 juta orang yang tinggal di Idlib,” katanya.
“Rusia menggusur kami dengan mengebom kami. Mereka membunuh dan menghancurkan rumah kami. Seolah tak cukup, mereka lalu mengarahkan perhatian pada bantuan kemanusiaan yang datang kepada kami melalui Bab al-Hawa. Mereka bermain dengan kehidupan anak-anak dan para lansia.”
Husain Ali Berjus, muhajirin lain, mengatakan rumahnya telah dihancurkan dalam serangan rezim Suriah dan pendukungnya, Rusia, pada 2019.
“Mereka mengebom kami. Mereka menghancurkan rumah kami. Mereka menggusur kami. Seolah tidak cukup, mereka juga mengincar obat dan makanan yang datang kepada kami. Tentu saja, Rusia seharusnya tidak bisa melakukan itu,” katanya.
Abdulsattar Humaydi, dari Distrik Saraqib di Idlib, mengatakan dirinya telantar akibat serangan dari Iran, Assad, dan Rusia.
Hingga saat ini, keluarganya bisa bertahan hidup berkat bantuan yang masuk melalui Bab al-Hawa.
“Rusia menutup Bab al-Hawa yang digunakan sebagai pintu masuk bantuan kemanusiaan. Artinya mereka mengorganisir pembunuhan massal terhadap para muhajirin,” katanya.
Mengingat daya belinya yang rendah karena bekerja sebagai pekerja harian, Humaydi mengatakan berkat bantuan tersebut, anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan manfaat layanan kesehatan.
Muhammad Ali, yang juga mengungsi dari Saraqib, menggarisbawahi bahwa bantuan kemanusiaan melalui gerbang Bab al-Hawa seharusnya terus ada untuk membantu para muhajirin bertahan.
Dia mengatakan distribusi bantuan kemanusiaan PBB melalui rezim Assad, atas permintaan Rusia, berarti memberi selamat atas pembantaian yang dilakukan rezim Assad.
Suriah dilanda perang berkepanjangan sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak secara brutal warga sipil pengunjuk rasa.
Ratusan ribu orang telah tewas dan lebih dari 10 juta orang mengungsi, menurut perkiraan PBB. (Middle East Monitor)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
